Pages

Selasa, 14 Februari 2012

Ada Apa dengan Cinta?


Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya
Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali ini aku melihat karya surga
dari mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta

Tapi aku pasti akan kembali
dalam satu purnama
untuk mempertanyakan kembali cintanya..

Bukan untuknya, bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu
Itu saja.


NB: Puisi Rangga untuk Cinta d film AADC, :))

Tentang Seseorang

Teruntukmu hatiku,
ingin ku bersuara
Merangkai semua tanya,
imaji yang terlintas
Berjalan pada satu,
tanya selalu menggangguku

Seseorang, itukah dirimu kasih
Kepada yang tercinta,
inginnya ku mengeluh
Semua resah didiri,
mencari jawab pasti

Akankah, seseorang,
yang ku impikan ‘kan hadir
Raut halus,
menyelimuti jantungku

Cinta hanyalah cinta,
hidup dan mati untukmu,
mungkinkah semua tanya,
kau yang jawab
Dan tentang seseorang,
itu pula dirimu,
ku bersumpah akan mencinta

Senin, 06 Februari 2012

Keragaman Imlek di Kota Semarang


Cuma mau share tulisan feature buat pengantar pameran photo dari hasil hunting bareng temen-temen LPM HIMMAH UII ketika imlek di kota Semarang. Meskipun aku sadar tulisanku ini jauh dari yang namanya tulisan feature tapi aku yakin semua butuh proses. Sebelum tulisan ini layak tampil, sebelumnya perlu beberapa proses lagi. Tulisan masuk ke meja redaksi buat di check layak gak. Terus setelah itu masuk ke meja redaktur pelaksana buat finishing. Dan gak menutup kemungkinan tulisan bakal di edit sana-sini dan bakal jadi tulisan bersama,heheheheh. So,semoga tulisan ini bisa dinikmati :).

Keragaman Imlek di Kota Semarang

Oleh Maya I. Cashindayo
Seakan sudah menjadi tradisi bagi kami awak himmah untuk berburu berita maupun sekedar hunting photo ketika hari besar berlangsung. 23 januari lalu merupakan tahun baru imlek bagi etnis tionghoa. Tahun baru 2563 dengan sio naga ini memiliki makna yang dalam bagi etnis tionghoa. Shio naga melambangkan kekuatan, kebaikan, kebenarian dan pendirian teguh. Naga juga merupakan lambang kewaspadaan dan keamanan dari semua makhluk mitologi China dan makhluk yang tertinggi menjadi raja dari semua hewan di alam semesta
Kota Semarang adalah tempat tujuan kami karena Semarang memiliki jumlah etnis tionghoa yang besar. Inilah yang menjadi pertimbangan kami untuk memilih kota semarang. Banyak lokasi wisata yang bisa dikunjungi ketika imlek di semarang. Diantaranya yaitu pasar malam yang berada di daerah pecinan. Atau yang lebih akrab dengan nama Pasar Semawis. Ada juga klenteng terbesar di kota semrang yaitu Klenteng Sam Poo Kong yang memiliki nilai sejarah yang tak ternilai harganya. 

Pasar Semawis
Perjalanan awak himmah dimulai dengan mendatangi  pasar malam Semawis di daerah pecinan semarang. Sekedar informasi, pecinan semarang adalah kawasan tempat tinggal mayoritas etnis tionghoa. Dimana bangunan-bangunan kuno khas china tetap dipertahankan di kawasan ini.
Selama 3 malam mulai tanggal 20 Januari 2012 lalu, keramaian memadati Gang Warung, di kawasan Pecinan Kota Semarang. Pertama kali menginjakan kaki di kawasan pecinan semarang ini ‘tak jauh berbeda dengan kawasan Kota Lama semarang. Karena tetap mempertahankan bangunan tua sebagai ciri khas pesonanya yang memiliki nilai sejarah.

muka amburadul,hunting seharian :)

Kami datang di hari ketiga, cukup larut memang sekitar pukul 22.00 WIB. Karena sebelumnya hujan lebat telah mengguyur Semarang saat itu.”Ah pasti sepi nie pecinan malam ini,” pikir kami. Ternyata dugaan kami salah. Pasar tetap ramai penuh sesak dipenuhi wisatawan untuk memanjakan mata atau sekedar jalan santai.
Di pintu masuk pasar kita sudah diajak merasakan berada di Negeri Tirai Bambu sana. Di sambut dengan lampu lampion kelap-kelip khas tionghoa dan hiasan-hiasan yang di dominasi dengan warna merah. Pertunjukan barongsai  dan pertunjukan mengenai sejarah-sejarah etnis tionghoa berlangsung sepanjang malam. Bahkan etnis tionghoa disana saling berkomunikasi menggunakan bahasa mandarin. Ditambah dengan suasana yang mndukung alhasil kita merasa berada di negeri china sungguhan.
Meskipun mayoritas pengunjung adalah etnis tionghoa namun ada juga masyarakat multietnis juga datang berkunjung. Karena memang pasar semawis ini sebenarnya ditujukan untuk umum bukan hanya untuk etnis tionghoa saja. Disini disajikan wisata belanja, wisata kuliner dan juga berbagai pertunjukan yang tentunya juga bertemakan tentang imlek.
Banyak barang unik ditawarkan disini salah satunya adalah Patung kucing atau dikenal dengan “the lucky cat” yang dipercaya mendatangkan keberuntungan jika ditaruh di tempat usaha sang pemilik toko.  Juga ada Accesoris-accesoris yang terbuat dari batu giok yang etnis tionghoa percaya memiliki khasiat untuk kesehatan mereka. Misalnya menghilangkan peradangan bagian dalam, melepaskan kegelisahan, memeliharan jantung dan paru-paru, membantu suara dan tenggorokan, pelembab rambut, memelihara lima organ internal, menenangkan jiwa, menenangkan pembuluh darah seseorang dan mencerahkan mata dan telinga. Tentu hal ini tergantung kita ingin mempercayainya atau tidak.
Sedangkan wisata kuliner yang ditawarkan salah satunya adalah sate babi, aneka kue seperti kue keranjang dan jajanan asli semarang misalnya lumpia, es puter dan wedang kacang. Makanan khas yogyakarta juga bisa ditemukan disini misalnya gudeg. Namun makanan yang cukup laris disini adalah sate babi.
Selain kuliner yang disebutkan datas, ada satu kuliner yang bernama unik yaitu kue maho. Jangan salah mengartikan ya? Kue maho adalah salah satu kue wajib imlek. Berbentuk seperti kue kukus dan berbahan dasar tepung beras. Kue ini memiliki filosofi yang sama dengan kue keranjang yaitu harapan-harapan manis agar terwujud di tahun depannya.

ini lho kue maho

Selain wisata belanja dan kuliner, hal menarik lainnya adalah ramalan. Disini juga tersedia banyak stand ramalan. Nampaknya yang penasaran dengan peruntungan nasibnya wajib mengunjungi stand ini. Bagaiamana? Menarik bukan?

Klenteng Sam Poo Kong
Adalah klenteng terbesar dan termegah yang ada di Semarang. Cukup membayar Rp 3000,00 rupiah saja perorang kita bisa menikmati wisata sejarah dan budaya ini. Ditilik dari bangunannya memang seratus persen bergaya dan berornamen china dengan dominan warna merah. Komplek Klenteng Sam Poo Kong dibangun di area kurang lebih seluas 3,2 hektar. Terdiri atas sejumlah anjungan yaitu Klenteng Klenteng Besar dan gua Sam Poo Kong, Klenteng thi Tee Kong dan empat tempat pemujaan. Di tengah bangunan klenteng juga terdapat panggung besar untuk pentas ketika perayaan besar berlangsung.
Menurut Rahmat salah seorang pemandu wisata di Klenteng Sam Poo Kong  justru sebagian besar  pengunjung yang datang bukanlah etnis tionghoa. Masyarakat multietnis mendominasi para wisatawan.
“Memang saat ini klenteng Sam poo Kong telah ditetapkan pemerintah sebagai tempat wisata jadi tidak heran jika pengunjung bukan hanya dari etnis tionghoa”tuturnya.
            Mengapa diberi nama Klenteng Sam Poo Kong? Menurut beliau sejarah Sam Poo Kong dimulai ketika seorang laksmana yang beragama muslim yaitu Laksamana Cheng Ho utusan kerajan Cina melakukan kunjungan persahabatan di tahun 1416 dan singgah di Semarang. Tepatnya yaitu di Pantai Simongan dimana sekarang pantai itu telah berubah menjadi daratan sehingga dibangunlah klenteng sam Poo Kong. Dan sekarang nama Simongan telah diabadikan menjadi nama sebuah jalan di depan Klenteng sam Poo Kong. 

panasnya semarang bikin muka jemek :P
Baru 300 tahun kemudian setelah kedatangan sang Laksamana yaitu tepatnya di tahun 1716 dibangunlah Klenteng sam Poo Kong. Klenteng ini dibangun sebagai tanda penghormatan warga semarang kepada Laksamana Cheng Ho selain telah melakukan kunjungan persahabatan juga telah menyebarkan agama islam ditanah semarang karena memang sang Laksamana kala itu beragama islam. Sam Poo Kong sendiri meiliki arti “mbah yang memiliki kekuatan”. Dan sampai sekarang klenteng ini masih terjaga dan terawat kemurniannya.

Klenteng  Tay Kak sie
 Di kawasan pecinan Semarang terdapat banyak sekali klenteng diantaranya yaitu klenteng hoo hok bio, siu hok bio, Kong tik soe, tong pek bio, liong tek hay bio, hok bio, see hoo kong, wie wie kiong, klenteng grajen, dan yang awak Himmah kunjungi adalah Klenteng Tay Kak sie yang merupakan klenteng induk di kota semarang.
Di muka klenteng kita disambut dengan dua buah lilin besar berwarna merah setinggi 600 meter yang dibuat khusus untuk menyambut imlek tahun ini. Menjelang malam pergantian tahun baru imlek, kami awak Himmah memantau kemeriahan imlek di Klenteng Tay Kak Sie ini. Sudah banyak etnis tionghoa yang datang untuk bersembayang meskipun jarum jam belum menunjukan pukul 24.00 WIB. Di halaman klenteng sudah banyak menunggu penderma dan anak-anak untuk meminta angpao yang dibagikan pihak klenteng saat pergantian tahun baru imlek. Angpao adalah amplop merah yang didalamnya berisi uang.
Saya sempat bertanya pada salah seorang ibu penderma yang menunggu pembagian angpao. Menurutnya kebiasan ini memang rutin terjadi ketika tahun baru imlek tiba. Dia mengaku ini adalah tahun keduanya dia meminta angpao di klenteng tay kak sie.
Menanti pukul 24.00 WIB tiba yang berati telah beralihnya shio kelinci ke shio naga, kita disuguhi dengan berbagai macam pertunjukan barongsai. Barongsai merupakan pertunjukan wajib yang harus ada ketika perayaan imlek. Karena barongsai merupakan salah satu kebudayaan peninggalan etnis tionghoa.  Dan mereka percaya bahwa barongsai mampu mengusir aura buruk.
Namun ada yang menarik dipertunjukan barongsai di Klenteng Tay Kak sie ini. Pemain barongsai bukan dari kelompok asli pemain barongsai melainkan para prajurit angkatan darat dari kesatuan batalyon (catetannya gak kubwa,dikos).
Iman salah satu prajurit dari batalyon tersebut mengungkapkan bahwa ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk ikut serta dalam melestarikan budaya tionghoa. Dia mengaku memerlukan latihan selama tiga bulan untuk menguasai semua gerakan liong ini. Nantinya tim batalyon (lupa bawa catetannya) esok harinya juga akan melakukan pertunjukan di Klenteng daerah lain yaitu di Kabupaten Kudus dan Kabupaten Pati.
            Pukul 24.00 WIB tiba, gong di klenteng Tay kak sie telah bergema sebagai tanda pergantian tahun baru imlek. Para pewarta berita termasuk kami awak Himmah yang telah menunggu di halaman klenteng berlari memasuki klenteng Tay Kak Sie untuk berburu photo atau mencari sesuatu yang bisa dijadikan nilai berita. Para etnis Tionghoa bersembahyang untuk pengaharapan di tahun naga meminta pada dewa mereka. Sedangkan kami sibuk berburu gambar untuk dijadikan nilai berita yang mampu bercerita.
            Beberapa menit kemudian setelah pergantian tahun baru imlek, para petugas klenteng mulai sibuk membagikan angpao kepada para penderma. Bahkan anak kecil penderma pun tak mau ketinggalan untuk mendapatkan angpao. Dengan penampilan mereka yang lusuh dan jauh dari kata layak, mereka rela menunggu dari pagi hingga tengah malam hanya sekedar untuk mendapatkan sebuah amplop merah.
Semoga dengan pergantian tahun naga ini semua pengharapan baru bisa tercapai untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Sekian perjalanan awak Himmah di kota banjir Semarang.