Pages

Jumat, 15 Februari 2013

Gunung yang Bikin Candu


Tiga belas januari lalu untuk pertama kali aku mendaki gunung Lawu bersama ke tiga temenku. Aku, agam, Metri dan Cipeng. Muncak salah satu hobi baruku. Dan ini bener-bener bikin ketagihan. Gak ada persiapan, gak ada sepatu, gak ada carrier dan cuma modal fisik yang fit. Pas diajakin si ayo aja, sebelumnya ketagihan ke bukit nglanggeran bareng teman-teman HIMMAH pas malam tahun baru kemarin. Kampret, aku kecanduan.

dari kiri Cipeng, Agam, Metri

ini aku, :D
Nyampe pos lawu sekitar pukul 12 malam, berangkat dari Jogja jam 9an. Nyampe di pos cemoro kandang terpampang jelas tulisan “Jalur pendakian cemoro kandang ditutup”. Bener-bener deh itu malam yang nguji banget keimanan. Hahahaha...Rasanya semua sia-sia perjuangan naek motor malem-malem, melawan kantuk, dingin, sepi, ban bocor dan bensin abis di tengah jalanan lawu yang nanjak dan sepi pake banget (mana jalan gak keliatan, kabut tebel banget). Seketika Lemes.

Kita akhirnya mutusin tidur di posko dulu untuk menanti keajaiban pagi harinya. Sepanjang malam berdoa, dan rencana beralih posko ke cemoro sewu. Alhamdulilah jalurnya dibuka. Emang waktunya gak pas juga si, musim hujan dan badai gitu. (Katanya bulan paling ideal buat pendaki antara juli-agustus).

Karena badan ini gak pernah gerak, baru beberapa meter di jalanan nanjak udah ngos-ngosan dan semua otot tegang. Pelan-pelan tapi pasti. Sumpah tuh, sensinya gak kebayang lah. Pas ndaki selangkah demi langkah. Kepekaan, emosi, hawa nafsu, kesabaran, spiritual, tenaga. Semuanya diuji. Yang ada dipikiran cuma aku, alam dan Tuhan. Digunung gak bakal deh kita mikir macem-macem. Yang ada justru perenungan, perenungan dan perenungan. Meskipun cuma sampe pos tiga karena terhalang badai, cukup puas.

Banyak banget hal yang aku dapat. Buatku sendiri, dengan Tuhan dan alam. Gunung dan segala kerja kerasnya aku pengen banget menapakimu lagi. Merasakan sensasi, pelajaran yang gak pernah cukup diungkapin hanya dengan kata-kata. Semoga bakalan ada yang ngajakin aku muncak lagi, aminn.... 

impian

Kamis, 14 Februari 2013

Katanya, Suami Ideal adalah Pendaki gunung?

Membawa beban dipunggung puluhan kilogram, tak pernah menyerah pada cuaca buruk, bertanggung jawab pada teman seperjalanan, bisa memasak dan selalu menerima dalam keadaan terburuk sekalipun. Mungkin tak terlalu berlebihan jika hal - hal itu dinobatkan pada para pendaki yang kebanyakan di dominasi oleh para pria.  



Jika semua itu diterapkan dalam kehidupan sehari - hari atau bahkan kehidupan berumah tangga. Maka pantas mereka mendapat predikat “suami ideal adalah pendaki gunung”.Jika kita gambarkan satu persatu. 


Membawa tas ransel besar ( carrier ) dengan isi belasan atau bahkan puluhan kilogram ibaratkan satu keluarga yang dipikul pada pundak seorang pria menuju puncak. Tas itu merupakan nyawa,  hidup dan amanah yang tidak boleh lepas dari punggungnya. 



Dengan susah payah tas itu dibawa menuju puncak melewati jalan setapak yang curam menanjak. Belum lagi ketika cuaca tidak bersahabat, hujan badai, kabut tebal, dingin yang menusuk. Menjadi cobaan tersendiri bagi mereka, hanya kesabaran, keikhlasan dan semangat tak kenal lelah yang menjadi modal utama.



Suatu pendakian umumnya dilakukan oleh beberapa orang dan mereka saling bertanggung jawab satu sama lain.Jika salah satu cidera atau menurun kesehatannya, pasti mereka akan membackup dan merawatnya dengan sabar. 



Ketika waktu makan tiba pasti semuanya sibuk menyiapkan masakan yang akan dihidangkan, kadang menunya pun tak pernah ada di restoran manapun. Mereka adalah chef hasil didikan alam. Tidur beralaskan matras yang jauh dari kata empuk, dinginnya cuaca pegungungan, berhimpit - himpitan dengan teman setenda, belum lagi jika ada salah satu yang kentut atau mendengkur. Tidak jadi masalah bagi mereka, bahkan hal itu dianggap cerita untuk anak cucu mereka nanti.



Selalu dengan tawa dan senyuman mereka menikmatinya.Kepuasan wajah mereka akan terlihat jika telah menapaki puncak yang jadi tujuannya. Tak ada yang bisa menggantikan itu dalam hidup mereka, rasa sakit, lelah dan hampir putus asa akan hilang ketika melihat matahari sebagai awal baru datang di ufuk timur.

Sumber:
http://www.belantaraindonesia.org/2013/02/katanya-suami-ideal-adalah-pendaki.html

Gunung adalah "Ibuku"

Aku bukan sekedar mendaki lalu turun dengan keletihan, di sana aku menemukan diriku. Aku seperti pulang ke pelukan seorang “ibu”, disana aku bisa berbagi semua isi kepenatan rutinitas yang kujalani, disana aku bisa menangis terharu, disana aku bisa bebas teriak, disana aku bisa berharap.



Tanah yang kutapaki adalah rahim “ibuku”. Manusia berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Tegakah diri ini mengotorinya? Tegakah melihat generasi selanjutnya yang keluar dari rahim “ibu” adalah generasi yang kotor? Karena aku bukan sekedar mendaki lalu turun dengan keletihan saja, maka ku bersihkan semampuku jika aku mengunjungi “ibuku”.

Pohon - pohon disana adalah “jantung”. Jantung tempat darah - darah ini dipompakan dan dialirkan, sehingga aku rindu untuk terus mengunjunginya kembali ketika melihat denyut hijaunya. Apa jadinya bila aku hidup tanpa jantung

Masih adakah yang tega menyakitinya atau bahkan menghilangkannya? Mereka ada untuk kita dan tugas kita adalah merawatnya. Sapalah mereka dengan hati maka kita akan selalu disambut dengan ramah ketika mengunjunginya lagi. 

Udara adalah darah ketika kita disana. “darah” yang terus mengalir setiap detik, “darah” yang terus keluar masuk dalam menemani perjalananku disana. Begitu segar, begitu bersih dan begitu ikhlas diberikan kepada kita. Biarkanlah agar tetap seperti itu, biar tetap mengalir dalam tubuh ini.

Tetapi aku tidak setiap saat mengunjungi “ibuku” , rutinitasku di kota di belantara baja. Namun “ibuku” tetap terus ada disekitarku. Mengingatkanku agar terus seperti itu, menyuruhku untuk terus melakukan hal - hal kecil bukti cinta dan sayangku padanya.

Tanah ini Rahim. Pohon - pohon ini jantung, dan Udara ini darah. Dan Gunung adalah “Ibuku” 

sumber:http://www.belantaraindonesia.org/2013/02/gunung-adalah-ibuku.html

Sabtu, 09 Februari 2013

Resensi: Demi Sepasang Sepatu


Tentu kita sudah tak asing lagi dengan sosok Dahlan Iskan. Beliau adalah mantan Direktur PLN yang kini menjabat sebagai Menteri BUMN. Penampilan sehari-harinya sederhana, kemeja bercelana panjang dengan sepatu kets putih. Gayanya terkadang nyeleneh, seperti saat ia memilih naik ojek ke Istana Negara, menginap di rumah penduduk sewaktu kunjungan kerja ke Sragen, dan ketika ia dengan paksa membuka pintu gerbang tol yang terlambat dibuka.

Seorang penulis asal Makassar bernama Khrisna Pabichara mengarang sebuah novel yang terinspirasi dari kisah hidup Dahlan Iskan. Dari judulnya, dapat ditebak bahwa isinya bercerita tentang bagaimana tokoh utama berjuang untuk meraih impiannya memiliki sepasang sepatu. Dahlan kecil adalah seorang anak miskin yang tinggal di pedesaan. Saking miskinnya, ia kerap menahan lapar dengan melilitkan selendang di perut bersama adiknya. Dahlan kecil dikenal sebagai pribadi ceria, cerdas, dan banyak teman. Kemiskinan bukanlah halangan untuk tetap maju.

Suatu hari, ibu Dahlan sakit keras, lalu meninggal dunia. Semakin menderita lagi hidup Dahlan karena ditinggal kedua kakak perempuannya mengadu nasib ke kota. Tinggallah ia kini bersama adiknya, hidup bersama bapak yang terbilang keras dalam mendidik anak-anaknya. Tak segan-segan bapaknya memberi hukuman apabila ada anaknya melakukan kesalahan.

Sepulang sekolah, Dahlan tidak pernah menghabiskan waktunya untuk bersantai. Ia harus bekerja demi menghasilkan tambahan uang, seperti nguli nyeset dan nguli nandur. Keinginan Dahlan adalah punya sepasang sepatu. Selain bisa mengantarnya ke sekolah, sepatu itu ingin Dahlan pakai untuk menemaninya bermain voli. Pernah dalam satu kesempatan, ia terancam tidak bisa ikut berlomba voli untuk membela sekolahnya karena salah satu syarat mengharuskan peserta lomba memakai sepatu. Dengan terpaksa, Dahlan curi tabungan bapaknya untuk membeli sepatu di pasar.

Dahlan kecil memiliki kisah persahabatan dengan teman-temannya. Adalah Kadir, teman Dahlan yang berlatar belakang ekonomi sama. Rela berkorban dan rasa setia kawan merupakan pesan yang ingin ditunjukkan mereka berdua. Dahlan kecil juga memiliki kisah cinta. Adalah Maryati, anak saudagar tebu yang disukai Dahlan, namun akhirnya menjerumuskan Dahlan ke dalam konflik-konflik tak terduga.

Dahlan kecil pun sudah mulai unjuk bakat kepemimpinan. Ia dikenal tegas dan berwibawa ketika mendadak ditunjuk menjadi ketua tim voli di sekolah. Sikap tersebut juga dibawa Dahlan saat ia kerja sambilan dengan melatih tim voli anak-anak juragan tebu. Karena hidupnya miskin, terkadang Dahlan tidak dihormati oleh murid-muridnya. Meski demikian, hal itu bisa diatasi dengan cara-cara yang bijak.

Buku ini sarat akan pesan moral bahwa sebuah keinginan harus disertai dengan perjuangan yang sungguh-sungguh, tak kenal putus asa, dan pantang menyerah. Ide cerita yang sederhana berhasil menarik pembaca dan mengantar buku ini pada label “best seller” sejak pertama kali terbit. Namun dengan tebal halaman, buku ini terlalu panjang dengan gaya bertutur yang bertele-tele. Penggunaan kata dalam kalimat terkesan monoton dan tak jarang membuat jenuh. Maka, buku ini terbilang best seller bisa jadi karena nama besar Dahlan Iskan sebagai sang inspirator.

Meski demikian, tidak ada salahnya menjadikan buku ini sebagai referensi bacaan kita. Tidak ada ruginya melengkapi koleksi perpustakaan kita atau menemani sore kita dengan membaca buku ini. Mari belajar untuk lebih memaknai hidup ini.