Pages

Rabu, 14 Mei 2014

Berfikir ala Aristoteles

Sebenernya udah lama  pengen nulis tentang filsafat (cie sok-soakan jadi filsuf), iya ini karena udah berkali-kali aku ikut kuliah filsafat tiap sabtu malam @LPM HIMMAH tapi bingung gimana ngerangkum ilmu yang aku dapet ke dalam tulisan. Kita mulai bahas Aristoteles dulu ya, yang baru aja dibahas semalem. Jadi ingatannya masih hot banget deh.
            Kata Diar, si anak UGM yang selalu jadi pemantik diskusi kami, Om Aris (panggilan sok akrabku) ini filsuf yang sosial banget, karena dia banyak menganalogikan apa itu makna-maknsa kehidupan. Dan dia juga yang mendefinisikan apa si bahagia itu? Hmm hebat kan, di tahun 384SM, ketika saat itu bangsa yunani masih gelap akan makna hidup ,tapi dia sudah berpikir apa si makna hidup saya? Mungkin kalo jaman sekarang semacam ustad yak, hehe

Om Aris juga yang mendeskripsikan AKTUS dan POTENSI untuk menjad dasar hidup lebih bermakna.


 AKTUS melahirkan POTENSI, dan itu berputar secara terus menerus sampai menjadi AKTUS baru dan menjadi POTENSI baru lagi. AKTUS adalah awal sesuatu baru. Misal AKTUS itu adalah uang, uang tersebut  menghasilkan makanan lalu makanan itu menghasilkan kenyang dan kenyang itu bisa bikin ngantuk. Jadi setiap AKTUS (uang) menghasilkan POTENSI (makanan) yang terus berlanjut tanpa ada akhir. Terus jadinya uang itu AKTUS awal yang mengawali semua? Tergantung kita ngmongin sesi apa dulu, seperti aku bilang tadi klo ngomongin makanan ya AKTUSnya uang, nah si uang tadi sebelumnya pasti juga mengalami proses AKTUS-POTENSI sebelumnya. Nah lho mulai bingung gak?hahaha, seperti yang ak bilang tadi pokoknya bahwa AKTUS-POTENSI itu selalu berputar tanpa akhir dan saling berhubungan.


Secuil suasana diskusi 

Jadi ingat kan ayat Alqur-an, bahwa didunia ini tidak ada hal yang sia-sia. Maknya kata Diar, seringkali pemikiran Aristoteles jadi pendukung tafsir Al-quran.
Terus ada gak si yang menjadi awal semesta ini? Masih menurut Om Aris nie ya, beliau juga percaya bahwa di dunia ini ada yang mengawali alam semesta atau yang dia sebut aktus murni, awal dari seluruh awal, yaitu Tuhan. Dia percaya Tuhan. Hah? Filsuf kenal Tuhan?  Bukannya mereka itu tidak ber Tuhan? Dulu si aku kira begitu, karena yang aku dengar hanya atanya dan katanya tanpa mencari tahu sendiri lebih dalam.  hihi

Bahagia
Kodrat manusia hidup adalah untuk mengejar kebahagiaan, apa si kebahagian itu? Menurut Om Aris, kebahagian itu saat kita ada di titik sangat puas dan tidak menginginkan apa-apa lagi. Pernah gak si kamu ngalamin kayak gitu. Satu titik saat kamu seneng banget sampe gak kepingin apa-apa lagi. Kalo aku pernah. Misal contoh simple. Ketika aku jalan-jalan ke mal, ada baju yang  lucu banget , mahal, limited edition lagi dan ketika aku bisa beli itu baju, aku ngerasa paling beruntung di dunia ini (agak lebay si emang). Tapi dua detik kemudian aku galau lagi, ada sepatu lucu, mahal banget dan gak bisa kebeli karena sangking mahalnya. Nah itu satu titik aku ngerasa sedih banget sampai gak bisa move on berhari-hari.
Jadi inget apa yang dibilang Om Aris, bahwa orang yang bahagia adalah orang yang tenang pikirannya dan merasa cukup atas keadaannya. Ini adalah jenis kebahagiaan imateriil atau kebahagiaan batin.  Kalo jaman sekarang, orang selalu salah mengartikan bahwa bahagia berarti memiliki banyak uang. Pun juga doktrin iklan-iklan ikut andil dalam proses ini. Lihat aja tuh, iklan bank yang menawarkan kredit rumah, motor, mobil. Seringkali kali tagline yang dipakai adalah kata kunci bahagia.  Nah itu bukan bikin bahagia malah bikin pusing. Jadi hidup kita selalu berpikir uang-uang dan uang buat bayar cicilan tetek mbengek. Kalo ini bukan mengejar kebahagiaan namnya tapi mengejar kenikmatan. Hidup itu jangan hanya mengejar kenikmatan. Tapi selalulah kejar potensi kita. Niscaya kebahagian akan selalu mengikuti kita. Katanya si gitu, gak tau kalo udah berubah. Hihi
Ini tulisan singkat yang ada di otak saya, tidak lengkap dan banyak sekali yang perlu dkritisi. Tapi hal terpenting bagi saya, menulis untuk abadi J