Pages

Sabtu, 07 September 2013

Review Film: Mirror Mirror

        Film mirror mirror termasuk film comedy favoritku. Mungkin karena actor atau actreesnya good looking banget kali ya. Lily collins dan Armie hammer sumpah cakep & cantik banget. Meskipun aku ngerasa chemistry di keduanya kurang kuat meranin sepasang kekasih.
         Film ini adapatasi dari dongeng snow white yang melegenda itu. Tentang ratu yang haus akan kekuasan dan kecantikan, Evil Queen (julia roberts) dan selalu menindas si putri malang “snow white” (lily collins). Di bawah kekuasaan si ratu rakyat yang awalnya selalu riang gembira, hobi nyanyi berubah menjadi rakyat yang malang dan menderita.

snow white 
sweet :)

Mendengar rakyatnya menderita dari pembantu-pembantunya akhirnya snow berani ke luar istana untuk melihat keadaan rakyatnya. Namun ditengah perjalanan dia bertemu dengan pangeran tampan yang terjebak di atas pohon. Yup sang pangeran tampannya Armie hammer. Itu awal perjumpaan mereka. 
Akhirnya mereka ketemu lagi di pesta dansa yang dibuat si ratu. Si ratu ini emang hobi pesta gitu, dana buat pesta narik pajak dari rakyat-rakyat miskin. 
salah satu scene favorit :*
Banyak memang film hollywod yang adaptasi dongeng snow white. Contohnya aja snow white and the hustman yang diperanin ama si kristen stewart yang sampai gosip perselingkuhannya dengan pak sutradara, Rupert Sanders. Kalo aku si lebih suka mirror mirror karena lebih modern, fresh dan campur comedy. Endingnya juga lucu, mereka nyanyi & nari musik ala india. Recomended buat kalian yang suka romance dan comedy. :)

Senin, 02 September 2013

Payung Teduh dan Aku


Asal mula aku tau grup musik ini dari radio. Resah, itu lagu pertama yang aku denger dan langsung terpesona. Musiknya rumit dan gak biasa. Akhirnya aku nemuin grup musik yang sesuai seleraku banget.
Aku langsung mulai searching2 di google. Payung teduh namanya, payung yang memang meneduhkan siapa saja yang rindu akan keramaian hati J

Yang banyak diputar di radio si lagu resah, tapi aku lebih suka lagu menuju senja. Ini lagu aku banget, hahaha. 

Menuju Senja |  Song & Lyric : Is
Harum mawar di taman
Menusuk hingga ke dalam sukma
dan menjadi tumpuan rindu cinta bersama
di sore itu menuju senja

Bersama hati yang terluka
Tertusuk pilu menganga luka itu
Di antara senyum dan menapaki jejak kenangan
Di sore yang gelap ditutupi awan
Bersama setangkup bunga cerita yang kian
Merambat di dinding penantian
Ada yang mati saat itu dalam kerinduan tidak terobati

Ah, payung teduh aku benar-benar jatuh cinta. Bukan cinta karena vokalis yang ganteng jual penampilan doank tapi benar-benar cinta sama musik kalian yang kaya harmonisasi dan melodi. Suka-suka banget meskipun selalu aku puter terus, kalian tetap rumit dan misterius #ngemengApasieh?. Gak sabar buat nunggu album ketiganya, harus beli! Dan makasie karena kalian telah ada dan bikin hidupku lebih berwarna karena musik kalian J

Jumat, 15 Februari 2013

Gunung yang Bikin Candu


Tiga belas januari lalu untuk pertama kali aku mendaki gunung Lawu bersama ke tiga temenku. Aku, agam, Metri dan Cipeng. Muncak salah satu hobi baruku. Dan ini bener-bener bikin ketagihan. Gak ada persiapan, gak ada sepatu, gak ada carrier dan cuma modal fisik yang fit. Pas diajakin si ayo aja, sebelumnya ketagihan ke bukit nglanggeran bareng teman-teman HIMMAH pas malam tahun baru kemarin. Kampret, aku kecanduan.

dari kiri Cipeng, Agam, Metri

ini aku, :D
Nyampe pos lawu sekitar pukul 12 malam, berangkat dari Jogja jam 9an. Nyampe di pos cemoro kandang terpampang jelas tulisan “Jalur pendakian cemoro kandang ditutup”. Bener-bener deh itu malam yang nguji banget keimanan. Hahahaha...Rasanya semua sia-sia perjuangan naek motor malem-malem, melawan kantuk, dingin, sepi, ban bocor dan bensin abis di tengah jalanan lawu yang nanjak dan sepi pake banget (mana jalan gak keliatan, kabut tebel banget). Seketika Lemes.

Kita akhirnya mutusin tidur di posko dulu untuk menanti keajaiban pagi harinya. Sepanjang malam berdoa, dan rencana beralih posko ke cemoro sewu. Alhamdulilah jalurnya dibuka. Emang waktunya gak pas juga si, musim hujan dan badai gitu. (Katanya bulan paling ideal buat pendaki antara juli-agustus).

Karena badan ini gak pernah gerak, baru beberapa meter di jalanan nanjak udah ngos-ngosan dan semua otot tegang. Pelan-pelan tapi pasti. Sumpah tuh, sensinya gak kebayang lah. Pas ndaki selangkah demi langkah. Kepekaan, emosi, hawa nafsu, kesabaran, spiritual, tenaga. Semuanya diuji. Yang ada dipikiran cuma aku, alam dan Tuhan. Digunung gak bakal deh kita mikir macem-macem. Yang ada justru perenungan, perenungan dan perenungan. Meskipun cuma sampe pos tiga karena terhalang badai, cukup puas.

Banyak banget hal yang aku dapat. Buatku sendiri, dengan Tuhan dan alam. Gunung dan segala kerja kerasnya aku pengen banget menapakimu lagi. Merasakan sensasi, pelajaran yang gak pernah cukup diungkapin hanya dengan kata-kata. Semoga bakalan ada yang ngajakin aku muncak lagi, aminn.... 

impian

Kamis, 14 Februari 2013

Katanya, Suami Ideal adalah Pendaki gunung?

Membawa beban dipunggung puluhan kilogram, tak pernah menyerah pada cuaca buruk, bertanggung jawab pada teman seperjalanan, bisa memasak dan selalu menerima dalam keadaan terburuk sekalipun. Mungkin tak terlalu berlebihan jika hal - hal itu dinobatkan pada para pendaki yang kebanyakan di dominasi oleh para pria.  



Jika semua itu diterapkan dalam kehidupan sehari - hari atau bahkan kehidupan berumah tangga. Maka pantas mereka mendapat predikat “suami ideal adalah pendaki gunung”.Jika kita gambarkan satu persatu. 


Membawa tas ransel besar ( carrier ) dengan isi belasan atau bahkan puluhan kilogram ibaratkan satu keluarga yang dipikul pada pundak seorang pria menuju puncak. Tas itu merupakan nyawa,  hidup dan amanah yang tidak boleh lepas dari punggungnya. 



Dengan susah payah tas itu dibawa menuju puncak melewati jalan setapak yang curam menanjak. Belum lagi ketika cuaca tidak bersahabat, hujan badai, kabut tebal, dingin yang menusuk. Menjadi cobaan tersendiri bagi mereka, hanya kesabaran, keikhlasan dan semangat tak kenal lelah yang menjadi modal utama.



Suatu pendakian umumnya dilakukan oleh beberapa orang dan mereka saling bertanggung jawab satu sama lain.Jika salah satu cidera atau menurun kesehatannya, pasti mereka akan membackup dan merawatnya dengan sabar. 



Ketika waktu makan tiba pasti semuanya sibuk menyiapkan masakan yang akan dihidangkan, kadang menunya pun tak pernah ada di restoran manapun. Mereka adalah chef hasil didikan alam. Tidur beralaskan matras yang jauh dari kata empuk, dinginnya cuaca pegungungan, berhimpit - himpitan dengan teman setenda, belum lagi jika ada salah satu yang kentut atau mendengkur. Tidak jadi masalah bagi mereka, bahkan hal itu dianggap cerita untuk anak cucu mereka nanti.



Selalu dengan tawa dan senyuman mereka menikmatinya.Kepuasan wajah mereka akan terlihat jika telah menapaki puncak yang jadi tujuannya. Tak ada yang bisa menggantikan itu dalam hidup mereka, rasa sakit, lelah dan hampir putus asa akan hilang ketika melihat matahari sebagai awal baru datang di ufuk timur.

Sumber:
http://www.belantaraindonesia.org/2013/02/katanya-suami-ideal-adalah-pendaki.html

Gunung adalah "Ibuku"

Aku bukan sekedar mendaki lalu turun dengan keletihan, di sana aku menemukan diriku. Aku seperti pulang ke pelukan seorang “ibu”, disana aku bisa berbagi semua isi kepenatan rutinitas yang kujalani, disana aku bisa menangis terharu, disana aku bisa bebas teriak, disana aku bisa berharap.



Tanah yang kutapaki adalah rahim “ibuku”. Manusia berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Tegakah diri ini mengotorinya? Tegakah melihat generasi selanjutnya yang keluar dari rahim “ibu” adalah generasi yang kotor? Karena aku bukan sekedar mendaki lalu turun dengan keletihan saja, maka ku bersihkan semampuku jika aku mengunjungi “ibuku”.

Pohon - pohon disana adalah “jantung”. Jantung tempat darah - darah ini dipompakan dan dialirkan, sehingga aku rindu untuk terus mengunjunginya kembali ketika melihat denyut hijaunya. Apa jadinya bila aku hidup tanpa jantung

Masih adakah yang tega menyakitinya atau bahkan menghilangkannya? Mereka ada untuk kita dan tugas kita adalah merawatnya. Sapalah mereka dengan hati maka kita akan selalu disambut dengan ramah ketika mengunjunginya lagi. 

Udara adalah darah ketika kita disana. “darah” yang terus mengalir setiap detik, “darah” yang terus keluar masuk dalam menemani perjalananku disana. Begitu segar, begitu bersih dan begitu ikhlas diberikan kepada kita. Biarkanlah agar tetap seperti itu, biar tetap mengalir dalam tubuh ini.

Tetapi aku tidak setiap saat mengunjungi “ibuku” , rutinitasku di kota di belantara baja. Namun “ibuku” tetap terus ada disekitarku. Mengingatkanku agar terus seperti itu, menyuruhku untuk terus melakukan hal - hal kecil bukti cinta dan sayangku padanya.

Tanah ini Rahim. Pohon - pohon ini jantung, dan Udara ini darah. Dan Gunung adalah “Ibuku” 

sumber:http://www.belantaraindonesia.org/2013/02/gunung-adalah-ibuku.html

Sabtu, 09 Februari 2013

Resensi: Demi Sepasang Sepatu


Tentu kita sudah tak asing lagi dengan sosok Dahlan Iskan. Beliau adalah mantan Direktur PLN yang kini menjabat sebagai Menteri BUMN. Penampilan sehari-harinya sederhana, kemeja bercelana panjang dengan sepatu kets putih. Gayanya terkadang nyeleneh, seperti saat ia memilih naik ojek ke Istana Negara, menginap di rumah penduduk sewaktu kunjungan kerja ke Sragen, dan ketika ia dengan paksa membuka pintu gerbang tol yang terlambat dibuka.

Seorang penulis asal Makassar bernama Khrisna Pabichara mengarang sebuah novel yang terinspirasi dari kisah hidup Dahlan Iskan. Dari judulnya, dapat ditebak bahwa isinya bercerita tentang bagaimana tokoh utama berjuang untuk meraih impiannya memiliki sepasang sepatu. Dahlan kecil adalah seorang anak miskin yang tinggal di pedesaan. Saking miskinnya, ia kerap menahan lapar dengan melilitkan selendang di perut bersama adiknya. Dahlan kecil dikenal sebagai pribadi ceria, cerdas, dan banyak teman. Kemiskinan bukanlah halangan untuk tetap maju.

Suatu hari, ibu Dahlan sakit keras, lalu meninggal dunia. Semakin menderita lagi hidup Dahlan karena ditinggal kedua kakak perempuannya mengadu nasib ke kota. Tinggallah ia kini bersama adiknya, hidup bersama bapak yang terbilang keras dalam mendidik anak-anaknya. Tak segan-segan bapaknya memberi hukuman apabila ada anaknya melakukan kesalahan.

Sepulang sekolah, Dahlan tidak pernah menghabiskan waktunya untuk bersantai. Ia harus bekerja demi menghasilkan tambahan uang, seperti nguli nyeset dan nguli nandur. Keinginan Dahlan adalah punya sepasang sepatu. Selain bisa mengantarnya ke sekolah, sepatu itu ingin Dahlan pakai untuk menemaninya bermain voli. Pernah dalam satu kesempatan, ia terancam tidak bisa ikut berlomba voli untuk membela sekolahnya karena salah satu syarat mengharuskan peserta lomba memakai sepatu. Dengan terpaksa, Dahlan curi tabungan bapaknya untuk membeli sepatu di pasar.

Dahlan kecil memiliki kisah persahabatan dengan teman-temannya. Adalah Kadir, teman Dahlan yang berlatar belakang ekonomi sama. Rela berkorban dan rasa setia kawan merupakan pesan yang ingin ditunjukkan mereka berdua. Dahlan kecil juga memiliki kisah cinta. Adalah Maryati, anak saudagar tebu yang disukai Dahlan, namun akhirnya menjerumuskan Dahlan ke dalam konflik-konflik tak terduga.

Dahlan kecil pun sudah mulai unjuk bakat kepemimpinan. Ia dikenal tegas dan berwibawa ketika mendadak ditunjuk menjadi ketua tim voli di sekolah. Sikap tersebut juga dibawa Dahlan saat ia kerja sambilan dengan melatih tim voli anak-anak juragan tebu. Karena hidupnya miskin, terkadang Dahlan tidak dihormati oleh murid-muridnya. Meski demikian, hal itu bisa diatasi dengan cara-cara yang bijak.

Buku ini sarat akan pesan moral bahwa sebuah keinginan harus disertai dengan perjuangan yang sungguh-sungguh, tak kenal putus asa, dan pantang menyerah. Ide cerita yang sederhana berhasil menarik pembaca dan mengantar buku ini pada label “best seller” sejak pertama kali terbit. Namun dengan tebal halaman, buku ini terlalu panjang dengan gaya bertutur yang bertele-tele. Penggunaan kata dalam kalimat terkesan monoton dan tak jarang membuat jenuh. Maka, buku ini terbilang best seller bisa jadi karena nama besar Dahlan Iskan sebagai sang inspirator.

Meski demikian, tidak ada salahnya menjadikan buku ini sebagai referensi bacaan kita. Tidak ada ruginya melengkapi koleksi perpustakaan kita atau menemani sore kita dengan membaca buku ini. Mari belajar untuk lebih memaknai hidup ini.

Senin, 10 Desember 2012

Provokasi untuk Menarik Simpati


Beberapa waktu lalu pemberitaan yang diangkat HIMMAH kembali menimbulkan kontroversi. Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya pun berita yang diangkat tentang “Baku Hantam Menimbulkan Luka” juga menimbulkan kontroversi. Akan tetapi pihak yang merasa keberataan dengan pemberitaan KobarKobari tersebut  enggan memanfaatkan hak jawab yang telah HIMMAH berikan.

Bebrapa waktu pula ada seorang yang mengaku mahasiswa Fakultas Hukum 2012 mengirim sms kepada saya.

Saya Rochmat mhs FH UII 2012 pengn komentar kpd kobarkobari, edisi pesta soal stan jual atribut knp Cuma fokus bahs harga pdhl da jg sampah kertas2 yang kuliat saat jalan kaki dorong spd mtr hri ptma pesta? Lalu edisi pekta, saya bngung dgn brita baku hntam krn kurang bsa ungkp fakta pdhl bnyk kutipan tp kyknya kurang di benturkan! Tmn kakak saya yg juga pers mhs sebut hal tu sbg muckrakcing joornalism hehe. Lalu soal spanduk organ ekstra yg Qrasa britanya tidak berimbang krn terlalu fokus nyerang HMI pdhl da PMII, KAMMI L Trz foto , etis kah liatin aurat (leher)ce pingsan? Edisi 159, g da lg tema slaen DPM vs LK?”

Dalam menggunakan hak jawab tentunya diperlukan identitas yang jelas. Karena ketidak jelasan identitas ini akhirnya kami memutuskan untuk membalasnya lewat sms saja.

“Terima kasih masukannya, kami akan mengevaluasi. Ada masukan lain? J
Terkait foto menurut etika jurnalisme yag kami anut, hal itu sah-sah sah saja . Soalnya foto  itu adalah fakta , bukti keteledoran panitia dalam menyikapi kesehatan peserta Pesta”

Dibalas kembali:
“Aku kira etika jurnalisme himmah adalah islami secara uii gtu loh buk hehe
Aih nyari berita kok yang salah2, lupa caption foto kemren apa haha
Aduh hak jawab gak dpake”

“Etika yg kami pke pada akurasi, selalu melihat fakta dans elalu menghamba pada kebenaran, jika agama dijadikan landasan itu akan membuat jurnalisme kami subjektif, kami lebih mengarah pada investigasi karena kami adalag media penyeimbang bg mahasiswa uii. Lah ini kan sudah hak jawab to mas, nuwun”

Kembali kami melakukan perdebatan lewat pesan singkat tentang organ ekstra alias HMI. Dan di smsnya yang terakhir dia menyebutkan

“Kebenaran adlh milik ALLAh swt? Menghamba pada kebenaran ya pake agama krna aturan ALLAH! Harusnya kalian tuh ya jurnalisme Islami jadi baca Republika selain komapas.”

****

Baru-baru ini pula Farmasi digemparkan dengan berita “Di balik Jadwal Kuliah Farmasi” berita lengakappnya bisa dilihat disini

Reaksi Anang Susilo Yudhoyono terkait berita tersebut




Jika kita cermati, tulisan yang dimuat KobarKobari pekan lalu tidak berfokus tentang pemberitahuan melalui facebook. Melainkan masalah dosen yang sering mangkir mengajar dan sering mengganti jadwal kuliah.

Kalimat yang menyangkut Facebook dalam berita:
 “Jadwal kuliah yang bertabrakan sering membuat mahasiswa bingung, belum lagi pemebritahuan terkait hal itu disampaikan melalui media facebook (FB) atau balacberry messnger (BBM)”

Apa mungkin hanya sekelumit kalimat inilah penyebab facebook Farmasi ditutup? Apa itu koheren dan beralasan?
Namun ironinya tanggapan Pak Nanang kemudian ditelan mentah-mentah pada pihak yang bersangkutan. Terutama Mahsiswa Farmasi itu sendiri. Mereka kemudian membuat pengadilan judge yang hanya ikut-ikutan tanpa melihat fakta dan melihat jauh melihat ke dalam.

Ingat kasus pembantain dukun di banyuwangi ? ingat kasus Sampang? pola yang mereka gunakan adalah provokasi. Tentunya provokasi dilakukan oleh mereka yang punya kekuatan untuk mempengaruhi. Provokasi ini ampuh sebagai senjata menjatuhkan lawan.

Lain pendapat yang diutarakan temenku, mbak Tika. Menurtnya pola yang Anang gunakan mirip dengan pola yang digunakan Susilo Bambang Yudhono (SBY). Di pemilu 2004 menempatkan dirinya sebagai korban Megawati. Megawati mengatakan bahwa SBY adalah seorang jendral namun memiliki kelakuan seperti anak kecil. Karena masyarakat Indonesia tipe “rakyat drama” lalu mereka kasihan dan simpati pada SBY. Dan itu salah satu penyebab kemenangan SBY di pemilu 2004 silam. Dan inilah hasilnya, kita memperoleh pemimpin yang tidak tegas. Bahkan berkali-kali dia mengeluhkan beratnya pekerjaan yang dia pikul. Ingat kan pidatonya tentang kecilnya gaji yang dia peroleh? Sebelas dua belas. Anang susilo mencoba memprovokasi dan mencari simpati.

Masih pendapat temenku, Soe Hok Gie pernah berkata “Pemimpin macam inilah yang pantas ditembak di lapangan banteng”.
Pramodya Ananta Tour “Jangan takut merasa benar, karena pkebenaran itu tidak jatuh dari langit tapi diperjuangkan”
Aung san suu kyi pula mengatakan “bukan kekuasan yang jahat, tapi rasa takut.”

Lain lagi untuk kasus  Rahmat si mahasiswa FH. Dia menggunakan dalil agama untuk membenarkan dirinya. Sesunggahnya agama adalah agama. Jika kita menyangkut pautkan agama untuk membenarkan pendapat kita, apa bedanya kita dengan dengan pendusta agama. Hehehe