Judul Buku: Gadis Pantai
Jenis Buku : Roman Novel
Genre: Fiksi
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantera
Cetakan: 6, Februari 2010
Bahasa: Indonesia
Tebal Buku: 272 Halaman
Dimensi Buku (Px L): 13 x 20 cm
Website resmi/email Penerbit: -
No ISBN : 979-97312-8-5
Harga buku : 40.000,-
Jenis Buku : Roman Novel
Genre: Fiksi
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantera
Cetakan: 6, Februari 2010
Bahasa: Indonesia
Tebal Buku: 272 Halaman
Dimensi Buku (Px L): 13 x 20 cm
Website resmi/email Penerbit: -
No ISBN : 979-97312-8-5
Harga buku : 40.000,-
Pramudya ananta toer adalah pengarang produktif dalam sejarah satra Indosnesia. Pengarang yang akrab disapa pram ini telah melahirkan ratusan karya sastra yang membawanya mendapat berbagai macam penghargaan dari seluruh dunia.Hebatnya Sebagian besar karya-karyanya lahir ketika beliau menerima hukuman penjara hampir selama seluruh masa hidupnya. Namun semua itu tak membuat pram berhenti menulis,ratusan karya satra telah berhasil dia ciptakan dari pemikiran kretif dan jeniusnya. Salah satu karya sastra fenomenal yang patut kita baca adalah roman gadis pantai.Sebenarnya roman gadis pantai terbagi dalam tiga buku. Namun dikarenakan kebengisan kekuasan mada masa itu,angakatan darat membakar buku kedua dan ketiga.
Gadis Pantai adalah sebuah roman yang mengisahkan kehidupan seorang gadis muda yang lebih dikenal dengan sebutan gadis pantai. Roman trilogi berlatar belakang masa penjajahan dimana kebudayaan jawa masih kental dengan masa perbudakan.Tradisi jawa yang kolot mendominasi inti cerita roman gadis pantai.
Setting terjadi di kampung nelayan kabupaten Rembang,pantai utara Jawa pada awal abad 20.Sang tokoh utama gadis pantai dideskripsikan sebagai gadis polos nan ayu. Konflik dimulai,keayuan sang gadis berhasil memikat hati seorang priyayi yang biasa dipanggil bendoro. Bendoro tertarik memperistri gadis pantai. Kekuasaan mengalah kan segalanya,sang gadis tak bisa melawan keinginan sang penggede yang berkuasa atas segalanya tak terkecuali dirinya. Meskipun gadis pantai tak mau dipersunting sang bendoro,kekuasaan mengalahkan segalanya.
Orang tua gadis pantai harus merelakan putri semata wayangnya untuk dikawini sang bendoro. Kecerian gadis pantai lenyap seketika,tak ada lagi canda tawanya di tengah deru ombak tepi pantai.Tak akan ada lagi bau amis dirinya,haruslah ia melupakan emak bapak,teman-teman dan semua kenangan indah di kampungnya.Setelah menikah tentulah tak perlu lagi punggungnya lagi dibebani bakul besar,tak perlu lagi berpanasan hanya untuk mencari rongsokan ke rumah-rumah priyayi-priyayi.Namun bukan brarti semua kemelaratan itu harus ditukarnya dengan penderitaan baru hidup dengan bendoro. Gadis pantai tahu betul ia dinikahi bukan atas dasar cinta melainkan hanya nafsu seks bendoro saja.Terpaksanya ia ke kota,tak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti kemauan sang bendoro.
Hidup mewah didapatkannya sekarang.Akan tetapi kemewahan itu hanyalah kedok neraka di dalamnya. Semua itu tak mampu menutupi kegundahan batin gadis pantai. Hatinya tersayat, di istana sang bendoro dia tidak lain hanyalah sebuah perhisaan mahal untuk kepuasan seks sesaat.Tak pernah dia merasa menjadi istri yang selayaknya. Bendoro datang jika ia butuh.
Celakanya lambat laun hati gadis pantai terpikat akan pesona sang bendoro. Ia mulai memperhatikan bendoro,melayaninya dengan setulus hatinya. Sebaliknya dengan bendoro, sikapnya tak pernah berubah kepada gadis pantai,tetap sama saja ia datang hanya ketika ia butuh.
Pranata para pembesar,tidak bisa dikatakan menikah apabila tidak menikahi dari golongannya sendiri.Ya, golongan priyayi,golongan berdarah biru. Hal ini selalu mengganggu hati dan pikiran gadis pantai. Ia takut posisinya direbut wanita lain.
Masalah baru muncul,datanglah seorang pelayan baru bernama Mardinah.Ia seorang anak juru tulis dari kota. Sikapnya berani kepada gadis pantai. Ia membangkang apa-apa saja yang diperintahkan gadis pantai.
Suatu hari gadis pantai memutuskan untuk pergi ke kampung halamannya menjenguk emak bapaknya.Atas permintaan bendoro ia harus ditemani Mardinah.Terbongakarlah kedok Mardinah,belakangan terungkap bahwa dia diutus bendoro putri bupati demak untuk mengupayakan agar anak bendoro putri bisa dikawini oleh bendoro. Mardinah diberi janji apabila berhasil maka dia akan diambil jadi istri kelima.
tiga tahun berlalu dan gadis pantai melahirkan seorang putri.Namun belum genap seminggu melahirkan,ia dicerai dan di usir dari istana bendoro. Diusir dengan luka dipisahkan dari darah dagingnya sendiri,putri semata wayangnya.
Roman gadis pantai dikemas dengan bahasa deskriptif nan menarik. Alur yang ditulis runtut mudah dipahami memberikan kenyamanan bagi pembacanya.Kita dibuat seolah-olah mengenal karakter tokoh lebih dalam dan masuk ke alur cerita. Selain itu roman ini dapat membangkitkan semangat wanita untuk tegar dan tetap kuat dalam keterpurukan.Sayang beribu sayang,roman gadis pantai selesai dengan akhir yang mengambang karena buku dua dan tiga telah raib oleh kebengisan kekuasaan.Namun roman ini tetap menarik dibaca dengan berbagai keunggulan di dalamnya seperti kaya akan tata bahasa yang deskriptif, apik dan menawan. selamat membaca :))

Tidak ada komentar:
Posting Komentar