Liburan yang memiliki
sejuta cerita. Senang, sedih hingga menyebalkan. Bromo adalah wisata pilihanku
beserta 10 kawanku. Bermodal uang pas-pasan, 17 mei lalu kita nekat bertandang
ke Bromo. Salah satu keindahan alam yang dimiliki Indonesia.
Hal yang direncanakan
terkadang memang tak sesuai. Kendala dan cobaan menghadang silih berganti.
Rencana awal, mulanya aku berangkat dengan 10 kawanku, mbak tri, mbak mira, Ruli, Nur, sekar, yuli, via, said,putri dan uti. Namun satu persatu mereka
gugur di luar perkiraan. Tiba-tiba dilarang orang tua lah padahal awalnya boleh,
sodara sakit, lalu ada ujian mendadak. Ada-ada saja halangan. Alhasil yang
tersisa cuma aku dan keenam temenku. Nah ini nie yang bikin nyali kita jadi
ciut. Apakah ini pertanda supaya kita gak jadi ke bromo? Apa ini pertanda
musibah akan datang? Pikiran kita jadi paranoid.
| Dinginnya Bromo |
| Bromoooooooo yeeeee |
| 1 2 3, jepret!! |
| padang sabana Bromo |
Malam sebelum berangkat
kita adakan rapat kusus untuk penentuan final.
Temenku satu ini, si Ruli yang paling paranoid. Dia yang paling takut, di
otaknya menjamur pikiran-pikiran buruk. Pas rapat aja berjam-jam manggil mamanya”mama
mama” sambil mewek.
“Kalo kita kecelakaan gimana,terus kalo ada apa-apa
disana gimana,mama” tangis ruli.
Sebenernya aku juga takut, apalagi kita berangkat
dengan kereta ekonomi. Pikiranku mengawang-awang akan kecelakaan yang sering
dialami kereta ekonomi. Tidaaaak.
Namun
akhirnya kita sampai pada satu titik kesepakatan “ Hidup mati ada di tangan
Tuhan” . BROMO i’m Coming :D . Tetap berangkat meskipun yang tersisa tinggal
tujuh orang.
Di awal berangkat pun kita sudah merasa bad mood
tuh. Pagi buta bangun, kereta berangkat pukul 7.30. Turun dari gunung
kaliurang. Brrr...dingin mamen.
Butuh perjalanan 8 jam menuju purbolinggo sebagai
tempat transit kita. Lalu setelah itu naek bus menuju Bromo.
Selama di kereta bisa dibayangkin gimana suasananya.
Hemm...panas, sumpek, pokoknya serba ribet. Penjual asongan lalu lalang non
stop.
“Nasi ramas nasi goreng,”
“Gethuk kediri gethuk keddiri”
“Bakpia bakpia”
“pecel mbak pecel”
Seru penjual-penjual itu menarik pelanggan. Serasa
kereta ini berubah jadi pasar, semua barang ada. Tas, dompet, peci, mainan dll.
Ada juga strategi lain, misalnya saja penjual tas. Sang bapak membagikan satu persatu
tasnya kepada penumpang. Terus gak lama diambil lagi. Lhoh...cara ini juga
diikuti mbak penjual dompet, mainan, kerupuk pokoknya hampir semua penjual. Apa
si metode jualan kayak gini?lucu,heheh
Mau istirahat sebentar saja pun gak bisa. Saking
ramenya. Tapi gak masalah sie, ini menarik. Hal baru buatku. Aku jadi tau kalo
ada gethuk khas kediri. Selain itu juga melatih kepekaan kita. hehehe
Kira-kira Pukul 5 sore kita sampe di purbolinggo. Untuk
menuju bromo kita perlu perjalanan dua jam lagi. Sialnya bis menuju kesana
sudah habis. Seorang bapak menghampiri kita dan menawari jasa angkut Rp 35.000/orang.
Macam barang aja ye,
Dengan nego yang cukup alot kita sepakat harga Rp.30rb
per orang. Tak apalah, kita tak punya pilihan lain. Waktu udah sore, kita tak
mau ambil resiko dan terlantar disini. Sambil menunggu jemputan, kita pun makan
di depan stasiun. Sesuai tebakan, kalau ditempat seperti ini pasti yang didapat
makanan mahal namun jauh dari kualitas.
*****
Panggil saja bapak makelar jasa angkut tadi bunga.
Pak bunga ini pintar juga membaca situasi. Memanfaatkan kesemptan dalam
kesempitan. Tau aja kalo kami anak bawang yang gak tau sama sekali arah.
Nampaknya bapak ini cocok kerja di air.
Pas kita makan, Pak Bunga datang dan tiba-tiba menaikan
harga diluar kesepakatan. Tentu saja kami protes, orang tadi udah deal Rp30.000
kok jadi naik Rp35.000. Ini jelas namanya pemerasan.
“Lhoh pak, tadi kan Rp30.000. Kok naik!” protes kami
“Iya itu, masalahnya mobilnya taruna, kalo minibus
ya tetap Rp.30.000.”
“Yaudah pak minibus aja. Gapapa,”selaku
“Tapi minibusnya jelek lho mbak?” tandas Pak Bunga
“Gak papa pak,” kita bersikeras
Setelah mengalami debat panjang dapat diambil
kesimpulan. Pak Bunga berusaha main akal-akalan tapi gak berhasil, wek. Pak Bunga
memanfaatkan kepolosan dan tampang begok kita. Padahal meskipun mau naik
taruna, minibus tetap aja gak pengaruh. Harga tetap sama. Tapi maap ya, kita
gak bodoh. yeyeye
Mobil datang, saat itulah perjumpaan pertama kita
dengan Mas Agus. Tau kan porsi mobil taruna. Mobilnya kecil, untuk kapasitas
normal hanya cukup untuk 5 orang. Lha ini diisi 8 orang dengan bawaan yang
super-super gede. Posisi lelah, lemah letih lesu masih disuruh duduk
sumpek-sumpekan selama 2 jam menuju bromo. Si Said satu-satunya cowok d
rombongin ini mengalah duduk di bagian belakang barang. Sedangkan aku duduk berempat
dengan temanku di tengah. Kedua temenku duduk di depan ama mas agus. Asal tau
aja, yang namanya mas agus ini super duper cerewet. Nyerocos aja tanpa titik
koma. Yang diomongin gak penting pula. Tolong Tuhan.
Pertama sie masih kita maklumin, tapi lama –lama
jengkel juga dengerin nie orang. Pas kita bilang orang jogja dia juga ngaku
pernah tinggal di jogja. Pas kita bilang bandung dia juga bilang asli bandung. Abis
itu entah udah berapa ratus kali dia promosin travel agent dia. Ini lah, itu
lah. Pusing bener-bener pusing dengerin ni orang.
“Ini mobil saya sendiri lho mbak,bla....blaaa.....”
“Mending mas itu liat depan. Konsen nyetir” sela
kita spontan.
Cuma satu kata deh buat mas agus ini “HEDEH” . Mending
kalo cerita beda-beda. Noh ini yang diceritain sama dari tadi.
“saya punya travel agent, bisa hubungi saya kalo
butuh liburan”
“saya punya travel agent, bisa hubungi saya kalo
butuh liburan”
“saya punya travel agent, bisa hubungi saya kalo
butuh liburan”
“saya punya travel agent, bisa hubungi saya kalo
butuh liburan”
“saya punya travel agent, bisa hubungi saya kalo
butuh liburan”
“saya punya travel agent, bisa hubungi saya kalo
butuh liburan”
“saya punya travel agent, bisa hubungi saya kalo
butuh liburan”
Iya mas aku inget. Aku bukan penderita alzheimer.
Ibaratnya suara mas agus ini kaset yang diulang ulang terus sampe ngelokor. Dia nawarin juga paket tourguide selama di bromo Rp 800rb. Busyet apaan tuh, mahal amat.
Nyewa jip aja gak semahal itu, cuma Rp 400rb. Cuma satu keinginan kita, cepet
nyampe dan terlepas dari makhluk ini.
*****
Akhirnya nyampe juga di Bromo, Alhamdulilah.
Bener-bener super duper dingin. Sebelumnya mas agus udah janji buat nyariin
tempat penginapan. Sialnya lagi semua penginapan yang kita tuju penuh. Alamak,
apa kita mesti kejebak dengan mas agus lagi? Memang ini musim liburan sie. Terang
saja semua penginapan overload.
Pukul 23.00. Fisik kita pun makin lelah. Entah
kongkalikong entah enggak mas agus nego dengan dua orang warga, mungkin suku
tengger. Lalu menawari kita menginap di rumah penduduk dengan tarif Rp. 50rb permalam. Tak ada pilihan lain, kita terima
saja. Bendera kekalahan telah berkibar.
Kagetnya kita setelah sampai kamarnya super buruk
seburuknya kamar. Huaaaa.......Ada empat kamar, satu kamar di tempati dua
orang. Otomatis Rp.100rb/kamar. Harga yang sangat mahal untuk kelas kamar
seperti ini. Ini bukan kamar, sumpah. Gak manusiawi mas agus ini. #jedotTembok
Kamu tau banker? Banker ruang kecil itu, ruang kecil
dan sangat lembab. Satu ruang itu (tak layak disebut kamar) hanya berukuran
1mx0,5m. Kamu bisa bayangin? Kamar itu hanya cukup berisi satu kasur tempat
tidur.
Dongkol sedongkolnya, tapi mau gimana lagi. Kita tak
punya pilihan lain. Lalu kita cari jip untuk melihat sunrise besok pagi. Dianter mas agus tentunya,hedeh. Setelah nyampe
ke posko resmi jip ternyata jip sudah habis disewa. Penderitaan baru,
Seakan gak peka malah mas agus minta photo bareng,
"Nanti di sahre di FB saya ya, nanti saya kenalin teman-teman sedunia," rayu sambil senyum (muka keriputnya makin terlihat jelas)
Lagi lagi mas agus ini lho nyebelin!. Bak seorang malaikat penyabut
nyawa, dia menawari kita untuk untuk jasa antar ke penanjakan satu. Bendera
kekalahan telah berkibar kembali.
Penanjakan satu
adalah tempat paling strategis untuk melihat sunrise di bromo. Itu sebabnya, wisatawan rela pagi-pagi buta
berangkat cuma untuk melihat indahnya sunrise
Bromo. Konon katanya sunrise disini
benar-bener indah. Sehingga membuat kita penasaran,
Untuk menuju penanjakan satu bisa ditempuh lewat dua
jalur. Jalur pertama menggunakan jip beserta paket antar ke gurun pasir bromo. Jalur
kedua adalah jalur manual dengan cara mendaki gunung.
Makin sial, dia mengaku tak bisa mengantar kita ke
penanjakan satu lewat jalur jip. Alasannya mobil umum dilarang lewat jalur ini.
Lagi-lagi tak ada pilihan lain, dia hanya bisa mengantar kita di area pendakian
manual. Yea, kita harus mendaki gunung kira-kira 2km untuk sampai penanjakan
satu. Mau apa dikata. Kita sudah nyampai sini, sayang juga jika tak melihat sunrise yang konon inilah pemandangan
terindah di bromo.
“Ini liburan pertama dan terakhirku d bromo,”
ratapku dalam hati.
Butuh tenaga ekstra untuk mendaki. Bangun pukul 3
pagi karena butuh sekitar dua jam untuk mendaki. Pengorbanan lagi,
Merasa di bohongi, hiks. Kita udah bayar mahal 210rb
untuk ke jalur pendakian ternyata jaraknya cuma seiprit. Hanya beberapa puluh
meter dari tempat kami menginap. Ini mah jalan kaki juga bisa, cuma gelap and
sepi aja jalannya. Kenapa si pake boong segala kalo tempatnya jauh. Makin dongkol aja ni ama agus.
Mendaki
Tapi saat pendakian ini kita begitu menikmati. Mbah
toyo yang jadi penunjuk arah kita mendaki. Umurnya tak muda lagi, rambut
beruban, kulit keriput tapi tenaga masih ekstra kuat. Awal mendaki sudah
dihadapi jalan-jalan terjal dengan kanan kiri jurang.
“Hati-hati” seru mbah toyo.
Mbah toyo ini orangnya kocak juga. Bisa diajak
becanda. Saat kita mulai kelelahan, mbah toyo berseru “ yo ayoo”
Kita pun tersentak dan makin semangat jadinya. Haaha
kocak betul kalo ingat.
“Masak kalah ama mbah” kata mbah toyo.
yaiyalah, si mbah pasti udah biasa naik turun kayak
gini. Lha kita gerak aja hampir gak pernah. Kampus yang cuma beberapa meter
dari kos aja naik motor. Olahraga? Boro-boro olahraga, sebulan sekali aja
hampir gak pernah. Dimanjakan oleh fasilitas berimbas malas.
Jalan masih gelap, Kita hanya berbekal satu center. Itupun
center mbah toyo. Mustahil untuk jalan terjal seperti ini hanya memnfaatkan satu
center. Kita manfaatkan hp masing-masing. Tak ada rotan akarpun jadi. Hahahaah
Hampir separo perjalanan, salah satu temanku sakit
dibagian perutnya. Kita pun istirahat agak lama menunggu kondisinya pulih. Ya
tuhan, saat ribet kayak gini waktu paling pas buat ngata-ngatain mas agus. Agus..agus..arggh
*****
Alhamduliah kawanku kembali pulih. Alhamdulilah Wasukurilah.
Pukul 04.00, di bukit sebebelah kanan kami ada
pemandangan extraordinary yang baru ku
lihat seumur hidupku. Cahaya bulan bersinar
orange serasa menyatu dengan puncak
bukit. Subhanalloh. Its amazing,
suer. Serasa begitu dekat. Layaknya membentuk seperti karpet panjang menjuntai di
puncak bukit. Subhanallah.
Melihat
keagungan tuhan ini seakan mengobati rasa lelah kita. Lanjut perjalanan. Pagi
mulai datang. Pemandangan sekitar mulai terlihat. Indah, aku bisa melihat
pemukiman warga di kaki gunung bromo. Wauuww bunga-bunga edelwais juga tumbuh
subur disini. Pantas saja harganya mahal. Mereka tumbuh di lereng-lereng
gunung. Pasti sangat susah untuk memetiknya.
Misi pertama done.
Akhirnya kami bisa melihat indahnya sunrise
di penanjakan satu. Meskipun sebenarnya tempat ini kurang nyaman karena
sesaknya wisatawan. Dan menurutku sunrise
nya biasa saja.hehehhe. Pemndangan seperti ini juga bisa aku lihat dari
bukit-bukit di Pati. Mungkin suasananya saja yang berbeda. Di sini banyak
turis, hawa super duper dingin dan kabut kabut kecil menari-mnari di awan. Tak
apalah, makasih Bromo telah memberi pengalaman baru di hidupku. :)
