Seharusnya pagi itu aku
kuliah pukul 07.00 pagi. Namun aku mantapkan pilihan untuk absen. Masalahnya
jam kuliahku itu bebarangen dengan seminar yang entah kapan bisa aku dapatkan
lagi. Mengorbankan “sesuatu besar untuk kesempatan lebih besar”,hehehhehe.
Seminar “Kepemimpinan
Islam” dengan pembicara Anies Baswedan. Tentu nama itu tak asing lagi di
telinga kita. Beliau salah satu putra terbaik yang dimiliki Indonesia.
Bagaimana tidak? di usianya yang terbilang muda, dia sudah mampu memimpin
sebuah universitas swasta benefit di jakarta, integritas tingggi, wawasan luas,
gagasan dan pemikirinnya patut diacungi jempol. Salah satunya adalah gagasannya
mengenai Indonesia Mengajar. Gagasan Indonesia mengajar benar-benar memberikan
angin segar bagi dunia pendidikan kita. Dimana yang kita ketahui saat ini masih
kurangnya pemerataan tenaga pengajar di seluruh pelosok nusantara. Bagaimana
bangsa ini menjadi besar bila masih banyak putra putri bangsa kehilangan haknya
untuk belajar dan memeproleh pendidikan layak. Padahal notabene merekalah yang
nantinya akan menjadi penerus bangsa ini.
Seminar ini benar-benar
mengubah cara pandang, dan pola pikir kita tentang dunia, jati diri dan bangsa
ini. Jadi memang bolos kuliah ini tidak sia-sia aku pikir. Bahkan aku
mendapatkan ilmu berlipat ganda daripada di kelas yang hanya duduk dan mendengar
dosen mendongeng.
Bukan aku saja yang memiliki
pemikiran seperti ini nampaknya. Teman-temanku yang lain juga memiliki pemikiran
serupa. Mereka rela absen demi mengikuti seminnar ini. Terkadang kita tidak
menyadari bahwa ilmu di luar lebih berharga dibanding ilmu ketika di kelas.
Denga kata lain ilmu itu bisa di dapatkan dari dan dimana saja. Tergantung kita
menyadarinya atau tidak.
Seminar dilaksanakan di
Gedung Kahar Muzakir itu penuh sesak dengan mahasiswa yang haus akan pemimpin panutan.
Mereka rela berdesakan mengantri untuk masuk meskipun seminar sudah jauh
dimulai. Alhasil mereka tak mendapatkan tempat layak dan harus duduk di
laintai. Tak apalah, pengorbanan kecil untuk hal besar. Penerus bangsa harus
bisa beradaptasi di segala situasi bukan?hehe
Seminar dimulai pukul 08.30
WIB. Para audience yang sebagian
besar adalah mahasiswa nampak antusias mendengarkan. Sesekali Anies memberikan
humoran-humoran ringan di tengan seminarnya. So inspirated, Bagaimana kita memprsiapkan
diri sebaik mungkin sebagai pemimpin bangsa dan mampu bersaing dalam dunia
global?
“Ingin takhlukan dunia,
kuasai bahasanya,” quote ini lah yang paling mengena di hati. Anies mengatakan bahwa
mengusai bahasa asing mutlak penting untuk mampu bersaing di dunia global. Gak
lucu kan kalo kita keluar negeri tapi pakai bahasa kebun binatang?hahahhaha,
minimal kuasai bahasa inggris. (Tau aja pak kalo bahasa inggris saya masih nol
besar,:D)
Anies juga menyinggung
terkait pemikiran bangsa Indonesia yang telah melampaui pemikiran di jamannya. Salah satunya adalah pemikiran Sri Sultan
Hamengkubuwono IX yang menggagas untuk memindahkan pergerakan ke Yogyakarta.
“Pindahkan pergerakan, rekrut anak muda Yogyakarta,” ungkap sultan kala itu.
Hasilnya adalah
Yogyakarta bertahan dengan keistimewaanya dan berdiri universitas-universitas
besar di Yogyakarta. Yogyakarta menjadi kota pelajar yang kemudian lahir
intelektual-intelektual muda bangsa. Sejak sebelum masehi pun kita telah jauh memiliki
bahsa tunggal yaitu bahsa Indonesia. Ini jelas melampaui pemikirian bangsa di
jamannya. Kala itu bangsa Eropa masih belum bisa menentukan bahasanya sendiri.
Lantas kenapa bangsa kita selalu tertinggal dan tertindas? Tak etis rasanya bila selalu menyalahkan dan melihat dari perspektif buruk.
Kita punya Sumber daya manusia, sumber daya alam, hasil bumi melimpah. Giliran
kita untuk mencari solusi bagaimana cara untuk mengeksplor potensi-potensi
besar tersebut?
Kita selalu saja menyalahkan dan saling tuding
tentang apa yang terjadi. Korupsi, Kapitalisme sumber daya alam asing, masalah
HAM , terorisme merupakan pekerjaan rumah kita semua. Kita selalu mendengar
tuntutan-tuntutan yang justru malah akan memperkeruh keadaan
“Turunkan Presiden, turunkan presiden?”
Tapi apakah cara itu benar-benar efektif untuk
menyelesaikan permsalahan bangsa ini?I dont think so. Meskipun pemimpin,
presiden, menteri atau apapun diganti, namun jika generasi muda kita tetap bermental buruk maka hasilnya akan sama saja nol besar. Gimana mau jadi pemimpin bangsa
yang besar jikalau menghadapi masalah kecil saja selalu mengeluh.
“Perbaiki generasi”, tegas Anies.
Generasi muda adalah penerus bangsa. Karena ditangan
kita nadi indonesia berdenyut. Lalu apa jadinya jika generasi muda kita masih
buruk dan terlena pola konsumtif? Bentuk generasi muda kita sejak dini. Tanamkan
patriotisme bangsa, jiwa cinta tanah air dan tanamkan nilai agama dalam diri
mereka. Niscaya kemuliaan bangsa akan terwujud.
Sebagai
mahasiswa yang selalu disebut sebgai agent
of change. Tentunya kita malu apabila selalu berpangku tangan dan
mengedaepankan ego. Mana sumbangsihmu untuk negeri ini? Setidaknya bentuklah
dirimu menjadi seorang yang memiliki nilai lebih. Maksimalkanlah potensi dalam
dirimu untuk membentuk kepribadian diri.
Menurut Anies ada 3 kriteria yang bisa kamu
maksimalkan dlam kampus, yaitu:
-
Raih
IPK maksimal, minimal untuk bisa mendaftar beasiswa s2. Pendidikan tinnggi
sebgai langkah awal untuk membentuk diri sebelum memimpin bangsa.
-
Kuasi bahasa asing. Karena dengan bahsa
kita dengan mudah dapat berkomunikasi dengan siapa saja dan dari mana saja.
Komunikas bukan hanya sesa Indonesia. Diluar sana masih banya sekali hal-hal
luar biasa yang menunggumu untuk kamu raih.
-
Ikuti organisasi-organisasi di kampusmu.
Karena dengan oragnisasi kamu juga akan belajar bagaimana tentang karakter,
kepribadian dan kepemimpinan. Hal ini sebgai langkah awalmu sebelum terjun ke
dalam dunia yang sesungguhnya. Menambah teman, relasi dan jaringan juga sangat
penting untukmu ketika berda di dunia yang sesungguhnya.
-
Bukan hanya intelektual kita yang cerdas
namun kecerdasan emosional juga sangat penting.
Jadi sudahkah kamu punya pandangan ke depan untuk
dirimu sendiri atau bangsamu? J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar