“Bu, tumbas ?” panggilku setengah berteriak.
Dia berjalan ke arahku dan tersenyum sembari menurunkan bakul yang digendongnya.
“Alhamdulilah”, desahnya.
Masih sama saat pertama kali kulihat, sandal jepit hijau dan celana putih lusuh masih melengkapi penampilannya. Cuaca pagi menjelang siang itu nampak begitu tak bersahabat. Panasnya sangat terik serasa tepat diatas ubun-ubun. Sebentar saja bisa membakar kulitmu yang manja.
Aku longok keranjang besar dagangan sang ibu. Masih berisi penuh nasi jagung atau lebih dikenal dengan nama berabuk itu. Belum laku kah? Tanyaku dalam hati. Satu baskom penuh makanan kulub (aneka sayuran yang dicampur bumbu kelapa) juga masih nampak utuh.
Sebenarnya aku tak begitu suka dengan makanan yang berasa hambar itu. Awal aku membelinya karena bapaku yang meminta. Itupun kemarin ‘tak habis dan terpaksa untuk pakan ayam di belakang rumah. Ada hal lain yang membuatku ingin memebelinya lagi. Dan pagi ini, aku sengaja menunggunya.
Sesenek berabuk besar bisa ku dapatkan hanya dengan 5rb rupiah. Uang 5rbu bagiku tak seberapa, uang kecil. Paling nanti akan berakhir di warung sebelah rumah.Pikirku akan jauh berguna jika uang itu untuk sang ibu. Tentunya akan lebih bermanfaat.
Dia mulai melayani pesananku. Aku perhatikan gerak lakunya lekat-lekat. Sekilas tak ada yang istimewa dari ibu ini. Tak lebih hanya seorang wanita yang mencari nafkah untuk keluarga atau mungkin untuk dirinya sendiri. Tetapi kerudung hitam yang ia kenakan mampu bercerita. Kerudung yang penuh peluh putih itu menjadi penyerap keringat yang keluar dari langkahnya. Dia pasti sangat bekerja keras selama ini.
“Kesini naik bus bu?” aku memulai pembicaraan.
“Enggak mbak, jalan kaki.”
Kekagumanku bertambah 100 kali lipat! Desa Kincir, itu namanya. Memang tak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Hanya 10 km,lima belas menit saja berkendara pasti sudah tiba di tempat tujuan. Namun jika ditempuh dengan jalan kaki tentu akan lain cerita. Waktu yang dibutuhkan bukan dalam menit lagi melainkan butuh waktu berjam-jam.
Desa kincir termasuk desa dengan ekonomi terbelakang di wilayah Kabupatenku. Desa ini jauh dari modernitas. Aku pernah sekali kesana. Sebagian besar rumah warganya masih berdinding bambu. Tanahnya lebih banyak bebatuan ketimbang tanah untuk bercocok tanam. Maka mata pencaharian utama para warga pun mengambil bebatuan kapur di gunung untuk dijual. Entah, mata pencaharian itu mampu menafkahi seluruh warganya atau tidak. Pikirku tidak. Daya jual batu kapur disini masih sangat rendah. Aku ‘tak tahu hitungannya secara pasti. Namun kabar yang aku dengar begitu.
Tiba-tiba rasa bersalah muncul, semoga pertanyaanku tadi tidak menyinggung haga diri sang ibu.
Aku terdiam. Nampaknya kesehatan mata sang ibu terganggu. Ada gumpalan putih besar di mata kirinya. Kenapa ya? Aku ‘tak berani bertanya. Kerutan-kerutan di wajahnya juga begitu ketara. Bukan kerutan karena telah berumur. Namun kerutan yang disebabkan karena sengatan matahari. Lekang coklat hitam.
“Mbak boleh minta air putih?”
Aku ambilkan sang ibu segelas air putih dan segelas es sirup segar. Dia menolak dan lebih memilih segelas air putih. Apa boleh buat, es sirup itu akhirnya kuminum sendiri.
“Bu tambah kulubnya 2rb ya?”
Tak berapa lama disodorkannya kulub yang terbungkus daun jati itu. Dia menolak uang 2rb yang sebenarnya adalah haknya.
“Gpa2 mbk, ambil aja. Wong cuma dikit kok”.
Aku bersikeras menolak. Aku yakin untung hasil penjualannya tak seberapa. Pasti uang ini pun sangat bernilai. Namun dia tetap bersikeras kemudian menatapku dalam “Gak usah mbak”.
Aku terenyuh. Begitu dermawan, tulus dan mulia hatinya. Dibalik kesusahannya sendiri dia masih mau berbagi. Semoga Ibu selalu dalam lindungan-Nya dan dimudahkan rejeki,amin :)
Masih bingung gimana bikin tulisan yang bagus? Masih butuh banyak belajar? Keinginan dan kemauan unuk menulis selalu ada. Tapi menciptakan tulisan yang hidup yang mengalir dan mampu bercerita itu susahnya Tuhannnnn.
Nb: buat kata yang dicetak miring “sesenek” aku bingung buat nerjemahinnya ke bahasa yang formal.
sip
BalasHapus