Pages

Kamis, 17 Oktober 2013

Dominasi Politik menjadi Dominasi Ekonomi

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menggelar acara Festival media untuk memperingati ulang tahun AJI ke-19. Acara yang diselenggrakan 28-29 september 2013 di PKHH UGM ini diisi dengan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan media dan jurnalistik. Salah satunya adalah talkshow “Bedah Berita TV” yang diisi juga dengan bedah buku “Penumpang Gelap Demokrasi”. Hadir sebagai pembicara R. Kristiawan sang penulis buku, Nurjaman Mochtar sebagai pemred SCTV dan Indosiar, dan Muhamad Arifin wakil dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
            Acara berlangsung kurang lebih 1,5 jam berbicara tentang transisi struktur kekuasan dalam media yang bermula dari dominasi politik menuju dominasi ekonomi. R. Kristiawan yang juga pengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta menyinggung tentang kepemilikan media di Indonesia yang hanya dikuasai sejumlah konglomerat. Sebut saja Dahlah Iskan penguasa Jawa Pos Group yang memiliki 20 saluran TV, 88 media cetak, dan 2 media online. Menurutnya hal ini tidak sehat karena dikhawatirkan  mempengaruhi independensi berita yang disampaikan untuk kepentingan politik.
Muhammad Arifin dari KPI juga berbicara mengenai acara TV yang banyak melanggar kode etik penyiaran. Salah satunya penayangan konvensi demokrat oleh TVRI 15 september 2013 lalu. Karena hal ini 4 direktur TVRI terancam dicopot dari jabatannya. Hal ini menjadi topik berita di beberapa media massa. Menurutnya pula, pemilik kekuasaan disinyalir turut campur tangan dalam masalah ini. Arifin menyebutnya perintah dari Cikeas.
 Tidak kalah menarik tentang rating TV oleh Ac Nielson yang disampaikan oleh Nurjaman. Ac Nielsen adalah perusahaan Amerika yang menjadi satu-satunya jasa penyedia rating di Indonesia. Rating suatu acara TV yang tinggi akan berpengaruh terhadap biro iklan dan produsen pemasang iklan. Nurjaman mengatakan hal ini rawan akan penyimpangan bagi para konglomerat. Lalu siapa yang dirugikan karena fenomena ini? Menurutnya, masyarakat dan kru yang ada dalam media tersebut turut menjadi korban untuk memenuhi kepentingan para konglomerat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar