Pages

Minggu, 26 Agustus 2012

Resiko Hidup

Besok pagi aku balik jogya, come back to jogja. Tapi gak euforia kayak biasanya. Mungkin karena udah ngerasa nyaman banget dirumah. Kumpul bareng temen-temen rumah dan SMA. Males kembali ke rutinitas yang sibuk dan menuntut aku selalu gerak cepat.

Oke tapi untuk masa depan lebih baik “I must do it”. Males? Kenapa ? aku ngerasa ada yang hilang. Ngerasa sendiri. Satu persatu temenku pergi. Temen-temen yang aku bener-bener klop dan cocok satu persatu pergi. Kebanyakan si karena udah lulus. Ada juga yang gara-gara punya pacar. Jadi mereka lebih intens jalan bareng pacar ketimbang jalan sama aku. Resiko hidup.

Hati yang Mulia

Pagi itu kedua kalinya aku bertemu sang ibu. Masih tetap sama saat pertama kali kulihat. Masih memakai kaos kerah panjang berwarna biru tua, bergambar salah satu partai politik.

“Bu, tumbas ?” panggilku setengah berteriak.

Dia berjalan ke arahku dan tersenyum sembari menurunkan bakul yang digendongnya.

“Alhamdulilah”, desahnya.

Masih sama saat pertama kali kulihat, sandal jepit hijau dan celana putih lusuh masih melengkapi penampilannya. Cuaca pagi menjelang siang itu nampak begitu tak bersahabat. Panasnya sangat terik serasa tepat diatas ubun-ubun. Sebentar saja bisa membakar kulitmu yang manja.

Aku longok keranjang besar dagangan sang ibu. Masih berisi penuh nasi jagung atau lebih dikenal dengan nama berabuk itu. Belum laku kah? Tanyaku dalam hati. Satu baskom penuh makanan kulub (aneka sayuran yang dicampur bumbu kelapa) juga masih nampak utuh.

Sebenarnya aku tak begitu suka dengan makanan yang berasa hambar itu. Awal aku membelinya karena bapaku yang meminta. Itupun kemarin ‘tak habis dan terpaksa untuk pakan ayam di belakang rumah. Ada hal lain yang membuatku ingin memebelinya lagi. Dan pagi ini, aku sengaja menunggunya.

Sesenek berabuk besar bisa ku dapatkan hanya dengan 5rb rupiah. Uang 5rbu bagiku tak seberapa, uang kecil. Paling nanti akan berakhir di warung sebelah rumah.Pikirku akan jauh berguna jika uang itu untuk sang ibu. Tentunya akan lebih bermanfaat.

Dia mulai melayani pesananku. Aku perhatikan gerak lakunya lekat-lekat. Sekilas tak ada yang istimewa dari ibu ini. Tak lebih hanya seorang wanita yang mencari nafkah untuk keluarga atau mungkin untuk dirinya sendiri. Tetapi kerudung hitam yang ia kenakan mampu bercerita. Kerudung yang penuh peluh putih itu menjadi penyerap keringat yang keluar dari langkahnya. Dia pasti sangat bekerja keras selama ini.

“Kesini naik bus bu?” aku memulai pembicaraan.
“Enggak mbak, jalan kaki.”

Kekagumanku bertambah 100 kali lipat! Desa Kincir, itu namanya. Memang tak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Hanya 10 km,lima belas menit saja berkendara pasti sudah tiba di tempat tujuan. Namun  jika ditempuh dengan jalan kaki tentu akan lain cerita. Waktu yang dibutuhkan bukan dalam menit lagi melainkan butuh waktu berjam-jam.

Desa kincir termasuk desa dengan ekonomi  terbelakang di wilayah Kabupatenku. Desa ini jauh dari modernitas.  Aku pernah sekali kesana. Sebagian besar rumah warganya masih berdinding bambu. Tanahnya lebih banyak bebatuan ketimbang tanah untuk bercocok tanam. Maka mata pencaharian utama para warga pun mengambil bebatuan kapur di gunung untuk dijual. Entah, mata pencaharian itu mampu menafkahi seluruh warganya atau tidak. Pikirku tidak. Daya jual batu kapur disini masih sangat rendah. Aku ‘tak tahu hitungannya secara pasti. Namun kabar yang aku dengar begitu.
Tiba-tiba rasa bersalah muncul, semoga pertanyaanku tadi tidak menyinggung haga diri sang ibu.

Aku terdiam. Nampaknya kesehatan mata sang ibu terganggu. Ada gumpalan putih besar di mata kirinya. Kenapa ya? Aku ‘tak berani bertanya. Kerutan-kerutan di wajahnya juga begitu ketara. Bukan kerutan karena telah berumur. Namun kerutan yang disebabkan karena sengatan matahari. Lekang coklat hitam.

“Mbak boleh minta air putih?”

Aku ambilkan sang ibu segelas air putih dan segelas es sirup segar. Dia menolak dan lebih memilih segelas air putih. Apa boleh buat, es sirup itu akhirnya kuminum sendiri.

“Bu tambah kulubnya 2rb ya?”

Tak berapa lama disodorkannya kulub yang terbungkus daun jati itu. Dia menolak uang 2rb yang sebenarnya adalah haknya.

“Gpa2 mbk, ambil aja. Wong cuma dikit kok”.

Aku bersikeras menolak. Aku yakin untung hasil penjualannya tak seberapa. Pasti uang ini pun sangat bernilai. Namun dia tetap bersikeras kemudian menatapku dalam “Gak usah mbak”.
Aku terenyuh. Begitu dermawan, tulus dan mulia hatinya. Dibalik kesusahannya sendiri dia masih mau berbagi. Semoga Ibu selalu dalam lindungan-Nya dan dimudahkan rejeki,amin :)

Masih bingung gimana bikin tulisan yang bagus? Masih butuh banyak belajar? Keinginan dan kemauan unuk menulis selalu ada. Tapi menciptakan tulisan yang hidup yang mengalir dan mampu bercerita itu susahnya Tuhannnnn.

Nb: buat kata yang dicetak miring “sesenek” aku bingung buat nerjemahinnya ke bahasa yang formal. 

Jumat, 24 Agustus 2012

Di balik Lelaki Hebat




Aku suka nonton film, terutama film-film yang memacu adrenalin. Kayak film-film action atau film-film detektiv. Suka-suka banget.
Takaran film bagus atau enggak menurtku bisa dinilai berkesan atau tidaknya dihati. Salah satu film yang berkesan “Public Enemies”. Genre film action namun diselingi romance juga. Cara si pria mencintai si wanita begitu sederhana. Meskipun si pria seorang mafia kelas kakap dia dengan setulus hati mencintai si wanita. Sangat menyentuh. Acting johnny depp di film itu benar-benar dalem.  Sampai beberapa hari aku tonton masih aja terngiang. Sebenernya film ini tergolong fim lama tahun 2009, tapi aku baru nonton. hehe
Kenapa ya? Selalu saja, film apapun yang bercerita tentang pria super pasti ada peran wanita hebat dibelakangnya. Entah itu film action, superhero, atau gangster-gangster keren. Nampaknya itu sesuai ungkapan “di balik lelaki hebat pasti ada wanita hebat dibelakangnya”.
bapak negara dan ibu negara :)

  
mekso photone :D :D
Lalu, gimana caranya biar aku masuk kategori wanita seperti itu ya?

Sabtu, 21 Juli 2012

Calm and Independent,Yea..it's me

Wah ada kontes menarik hadiahnya Notebook seri terbaru Sony VAIO E14P. Buat ngedapatein barang impian itu, kita dituntut PEDE mengekspresikan kepribadian kita sesuai salah satu warna Sony VAIO E14P itu. Oke, gua terima tantangan loe sob. I wanna try, Yeaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah....hap hap hap hap hap (inpired by AXIS). Apa sie? Masih bingung..bingung, jelasnya monggo dilihat disini

Aku langsung jatuh cinta ama VAIO warna putih itu. Akhirnya aku nemuin notebook yang aku banget banget. Notebook yang melambangkan Calm and Independent. Stylish, performa terkini lagi. Makin keren deh aku pasti. Yeaa, Because it’s Me.....:))

Notebook Impian "Calm and Independent" hap hap
Kebebasan. Aku banget. Aku orangnya gak suka diatur. Gak suka dikekang dan terikat. Mungkin karena itu aku suka wisata-wisata berbau alam. Kayak gunung ataupun pantai. Karena di tempat itu lapang. Aku bisa bebas berekspresi dan teriak-teriak semauku. Bisa ngerasain angin sepoi-sepoi yang adem semilir. Juga bisa ngerasain kebebasan tanpa ada tembok-tembok penghalang sejauh mata memandang. Hemm..bener-bener surga dunia.
Hap hap, ada satu lagi deng wisata yang aku suka yaitu wisata belanja,Heheehe. Kalo wisata satu ini mah obat paling mujarab penghilang stress. 

Pantai dan gunung selalu bisa buatku tersenyum :))
Makanya itu cita-citaku pengen jadi atasan aja biar gak ribet disuruh ini itu. Jadi entrepreneur sejati atau jadi menteri telekomunikasi (it's my dream :))).
Saat ini aku masih kuliah di sebuah universitas swasta di Yogya. Nah buat wujudin cita-citaku itu aku udah mulai berbenah dari sekarang. Mulai dari usaha kecil-kecilan, kayak jualan pulsa dan jadi agen pemasaran usaha temanku @CahKeripik terus rajin kuliah dan ikut organisasi kampus :)).

Aku dan @CahKeripik
Yeyeye bebas, aku suka kebebasan. I’m free, i’m free...
Kata bebas bukan berarti harus lepas dari tanggung jawab dan kewajiban kita ya. Tanggung jawab dan kewaajiban truly number one. Gak bisa diganggu gugat!!Sebagai generasi muda kita kudu cerdas mengambil sikap. :))

Calm? What? tenang?
Yah kalo sifat ini kayaknya bukan aku banget. Aku orangnya ceroboh abis. Pernah suatu ketika aku hampir ngancurin lapak angkringan Mas Tri (mas angkringan dekat kampus).  Gak sengaja kepala aku nyundul  tiang bambu lapaknya.
Eh..eh...eh..spontan situasi mendadak heboh. Disitu cowok semua lagi.  PISAU MANA PISAU #puraPuraMati

Mungkin kalo tenang dalam ngadepin masalah iya. Hehhehee...aku termasuk orang yang gak cepet marah. Sebisa mungkin jaga emosi orang disekitarku. Terkadang aku lebih memilih mengalah untuk meminimalisir pertengkaran. Meskipun kadang sikap ini jadi senjata makan tuan untuku. Intinya pintar-pintarlah kita membaca situasi dan mengambil sikap :))

Oke, cukup ya. Cuma ini yang bisa aku ceritain. Mungkin agak gak fair soalnya penilaian dari aku sendiri. Wkwkkwkwkwkw
Semoga kamu jadi miliku Sony VAIO E14P personality white “Calm and independent”. Bakalan aku sayang setengah mampus kayak notebookku si Dayat. #pukpuk

Because it’s Me  #salamWanitaCantik

Selasa, 10 Juli 2012

Pelantikan Magang Himmah 2012-2013

Memang ini yang agak rancu menurutku. Ketika perjalanan menuju Kuwaru Beach (lokasi pelantikan) kami dikejutkan rame-rame orang dijalanan.


“Apa ya?” pikirku.


Aku ikut kloter kedua sekitar 14 orang. Anak-anak lain sudah berangkat sejak pukul  5 sore. Dan kami baru berangkat pukul  9 malam. Yah soalnya mash banyak kendala.
Ternyata rame-rame tadi itu acara dangdutan. Untung kami gerak cepat. Bisa-bisa ikut ajojing juga aku. Jeb..ajeb..ajeb...jeb..ajeb..ajeb (Semacam dugem tradisional)

 

Setelah itu kita lewat jalan lain. Jalannya berpasir. Motor yang aku bonceng dengan temanku pun nyaris oleng. Gerak refleks kuturunkan kakiku ke bawah. Semacam jurus tapak kuda.  Jadinya gak jadi jatuh. Abis itu acara pelantikan, jam 12 malam. Main-main di pantai. Photo-photo. Seneng-seneng. Bakar-bakar jagung. Ketawa-ketawa. Sing song pake galau. Tidur jam 3 bangun jam 5. Maen di pantai lagi. Tapi udah rame aja tuh pantai jam segitu.

 

Cemara udang

Beli gorengan tempe yang harganya masih 500 perak, beli Aqua botol harganya 2000 perak (untuk ukuran tempat wisata ini murah bed).
Terus aku jalan-jalan ke pantai sendiri kayak orang ilang. Lihat ombak. Liat jejak-jejak kaki orang. Lihat cemara udang berjejer-jejer. Lihat adik kecil lagi maen-maen di potret-potret papanya (ini sumpah, yang aku lihat murni adeknya. Bukan buat godain papanya). Lihat orang pacaran (pagi-pagi lho!!). Balik ke pendopo bantu beres-beres. Ketawa-ketawa lagi. Dipanggil “JEMEK” lagi (Semacam nama lapanganku di Himmah). Udah. Pulang.


Yang bikin keren di Kuwaru Beach ya cemara udang nya itu. Banyak bed.
Keren, cemaranya kayak didrama korea. Jejer-jejer rapi. Kamu pake pakean dingin, jaket tebel berbulu pasti orang nyangka kayak diluar negeri deh. Cobain aja #ilmuSesat.


Next time aku upload pict seru-seruannya ya :)  #salamWanitaCantik