Pages

Jumat, 09 November 2012

Kompor Penyambung Kehidupan


Langit yang awalnya cerah perlahan meredup mendung. Tak berapa lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Nampak kesibukan di seberang jalan sana, seorang lelaki tua tengah sibuk mengangkat barang dagangannya ke dalam rumah.

Namanya Sugiharyono atau  akrab di panggil Mbah Sugi. Dia adalah seorang penjual kompor sekaligus pengrajin kompor yang ada di desa Sekar Suli, Kecamatan Berbah, Sleman. Sejak 44 tahun lalu, Mbah Sugi mulai merintis usahanya bersama sang istri. Tak ada brand khusus apalagi label khusus. Sebutannya hanya “Kompor Mbah Sugi” saja.

Mbah Sugi duduk santai di kursi kayu panjang depan rumah menikmati hujannya sore. Rumahnya sangat sederhana , dindingnya dari bilik kayu dengan dua jendela di depannya. Tidak ada aksesoris lain yang menghiasi. Lantainya-pun masih beralas tanah. Ruang tamunya hanya ada sepasang kursi tamu merah dengan lemari tua dan sebuah jam dinding besar.  Rumah itu seakan menjadi saksi bisu kerja kerasnya. Bentuk rumahnya memanjang. Di sepanjang teras terletak banyak perkakas-perkakas bekas kerjanya. Potongan seng, kawat gunting dan drum-drum yang menjadi bahan dasar kompornya.
            
         Berkali-kali usaha yang dia rintis mengalami jatuh bangun. Namun itu semua mereka lewati bersama. Pernah Mbah Sugi mencoba peruntungan lain menjadi pengrajin ember drum. Usahanya akhirnya kalah saing dengan produk ember plastik. Akhirnya pillihan hatinya mantap menjadi pengrajin kompor tradisional. Baginya, tidak ada pilihan lain untuk terus menyambung hidup. Sawah dia tak punya, hanya keahlian ini yang bisa dia andalkan untuk menghidupi istri dan keenam anaknya.

“Anak saya udah menikah semua dek alhamdulialh, Yang satu ama kedua sarjana. “

Di seberang jalan rumah Mbah Sugi berdiri kokoh sebuah rumah besar berlantai dua. Rumahnya bercat kuning dan berpagar tinggi besar.

“Itu rumah anak saya yang pertama,” ungkapnya bangga.

****
          Di rumah sederhana ini  Mbah Sugi hanya tinggal berdua bersama istrinya. Ketika saya tanya mengapa tidak tingal dengan anaknya, dia menjawab sembari tertawa. “hahaha, nanti repot, enakan disini,”
Meskipun umurnya sudah mencapai 70 tahun, tidak nampak fisik  lemah dari Mbah Sugi.  Senyumnya  tetap sumringah, badannya masih tegap dan mampu menjawab pertanyaan-npertanyaanku dengan jelas.

“Anak saya larang kerja begini (pengrajin kompor). Nanti malah kayak mbah,”

Putra pertama dan kedua Mbah Subi berhasil mendapat gelar sarjana.  Meskipun keempat putra lainnya tak mengenyam pendidikan yang sama Mbah Sugi tetap mengucap syukur. Baginya dengan anak-anaknya tidak berprofesi sebagai dirinya saja, alhamdulilah.

“Anak saya yang pertama jualan aspal, satu drum bisa laku satu juta lebih,”

Mbah sugi tetap mempertahankan usaha kompornya ini. Dengan duduk bersila diatas lantai tanahnya, dengan cekatan dia mencoba memperlihatkan kepada  saya bagaimana membuat kompor-kompor kokoh trsebut. Bahaan dasarnya adalah drum-drum bekas yang dia beli seharaga Rp 30.000 hingga Rp40.000. Awalnya drum-drum itu dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran yang menempel. Maka dari itu, drum bekas memerlukan proses pembakaran untuk merontokan kotoran-kotoran yeng menempel. Setelah bersih, mulailah ke tahap pemotongan. Gunting yang digunakan adalah gunting kusus besi. Drum-drum itu dipotong sesuai pola yang sudah dibuat Mbah Sugi sebelumnya. Lalu masuk ke dalam tahap uji coba. Setelah lolos, masuk ke tahap terakhir yaitu tahap pengecatan. Dibutuhan waktu dua hari untuk membuat satu kompor.

Mbah Sugi tetap mempertahankan usaha kompor-kompornya di tengah era modernitas ini .  Januari 2010 lalu, pemerintah membuat kebijakan untuk melakukan konversi  minyak tanah dengan gas. Proyek yang menelan anggaran Rp 15,5 triliunan dari Anggran Pengeluaran Belanja Negara (APBN) menimbulkan banyak polemik. Ironisnya, banyak sekali kompor gas cacat sehingga menyebabkan kompor gas meledak. Hingga saat ini,tercatat ada 87 kasus ledakan.  Hal ini tentunya menimbulkan ketakutan tersendiri  bagi mereka , terutama untuk kalangan menengah dan ke bawah. Penyebabnya pun macam-macam. Dari tabung gas yang bocor. Atau selang tabung yang bocor. Hal inilah yang menyebabkan mereka enggan beralih dari minyak tanah ke gas.

Pelanggan kompor Mbah Sugi kebanyakan dari kalangan menengah ke bawah. Mbah Sugi adalah satu-satunya pengrajin kompor yang masih bertahan di desanya. Kebanyakan pengrajin lain mengalami gulung tikar karena tidak mampu mempertahankan eksistensi produknya. Pernah Mbah Sugi mendapat orderan dari negara luar. Misalnya saja pesanan dari jerman untuk membuat tabung kecil dari drum. Pernah ada juga warga Australia memesan sorokan dari drum. Pendapat pelanggannya, barang dari Mbah Sugi lebih terjangkau harganya.
Itu adalah masa kejayaannya silam. Semenjak tragedi bom bali 1 pesanan dari luar perlahan menurun hingga tidak ada pesanan sama sekali. Bom Bali 1 adalah tragedi besar bagi bangsa Indonesia.Terjadi tahun 2002 silam dan menelan 200 korban jiwa. Hal ini berdampak sangat buruk terhadap perekonomian Indonesia. Kedatangan turis menurun, kepercyaan terhadap keamanan Indonesia menurun drastis. Mereka menganggap Indonesia tidak aman lagi.

Obrolan kami tiba tiba terhenti ketika Mbah Putri, istri Mbah Sugi tiba-tiba muncul. Dia tersenyum kepadaku. Rambutnya yang putih di gelung ke belakang. Berpakaian rapi memakai baju kebaya. Lipstik merahnya nampak mencolok.

“Mau kondangan dek,” katanya kepadaku.

Bolak-bolak balik keluar ruangan mencari payung katanya. Tapi tidak segera ketemu. Sama seperti mbah sugi, mbah putri juga nampak masih sangat sehat. Badannya masih segar dan tubuhnya gemuk berisi.

“Ayoo selak bar mengko,” kata salah satu gerombolan ibu-ibu yang sudah menunggu di luar rumah.
“Iyo sek, goleki kudung karo payung,”jawab mbah putri. Setelah itu mbah putri siap berangkat dengan memakai setelan dan kerudung serba abu-abu.

Dalam semninggu Mbah Sugi mampu menghasilkan empat buah kompor. Baginya itu sudah cukup. Dengan penjualan Rp 60.00 itu dia bisa mendapat kan untung Rp 45000 di setiap kompornya.
“sitek-siteklah, penting halal dik.”

****

Hujan belum juga mereda. Rutinitas jalan raya masih saja padat. Begitu kontras dengan jalan hidup yang mbah sugi jalani “alon asal kelakon”.

Senin, 15 Oktober 2012

mimpi

"Jangan takut untuk bermimpi, karena ALLAH lah yang akan memeluk mimpi-mimpimu" :)

Rabu, 10 Oktober 2012

Bismillah


Nanti aku akan mengajar lagi. Semacam ada semangat baru. Merasa lebih punya arti. Memang sempat beberapa waktu itu aku berada di titik kejenuhan. Malas, malas semunya. Malas ini itu. Tak ada semangat. Atau bisa dibilang tak ada penyemangat.

Sekarang merasa ber-energi lagi. Aku punya kegiatan baru. Mengajar TPA di sebuah desa. Awalnya memang tak yakin. Agamaku pas-pasan. Takutnya malah mengajar ilmu sesat.
Selasa lalu hari pertama, aku bisa. Senangnya bisa bermanfaat untuk sesamaku J

Senin, 27 Agustus 2012

My Dream, USA 2013

Galau masa depan lagi dan lagi. Apa yang sudah pernah aku capai sampai hari ini? Nothing.
Apa yang pernah aku lakukan dan buat ibuku bangga? Nothing
Kegalauan masa depan ini muncul kembali, detik ini.

Aku kembali ke angan-anganku masa lalu. Harapan yang sudah terkubur jauh. Hubungan Internasional UGM. Dulu itu impianku. Dan keinginan itu muncul lagi jika aku melihat teman-teman yang sudah berhasil mencapai tujuannya. Aku bukan iri. Aku hanya menyesali kenapa aku tak mampu mewujudkan mimpiku sendiri. Aku sudah gagal di awal.

Melakukan perjalanan ke luar negeri. Atau sekedar berteman dengan orang asing. Melanglang buana kesana, ke negeri negeri seberang. Yah, itu impianku 2 tahun silam. Saat aku kelas 3 SMA.  Dan aku akan terus berusaha untuk itu. Apa aku mampu, Tuhan?

Aku kembali bertanya pada diriku hari ini? Apa yang sudah aku lakukan sampai hari ini? Apa yang sudah bikin ibuku bapaku bangga. Aku hanya menghabiskan banyak uang di universitas mahal. Hanya terus meminta tanpa mereka mendapat imbalan. Aku lebih banyak membuat mereka kecewa ketimbang bangga.
Allah, semoga kau mengabulkan keinginanku  2013 ini. Aku benar-benar akan berusaha mewujudkannya. Allah, aku tahu ini hal yang sangat mudah untuk-Mu. Tapi untuku ini hal yang sangat luar biasa sulit. Semoga Engakau mengabulkannya. Aminn. Man jadda wajada.

Tulis apa yang kamu pikirkan, jangan pikirkan apa yang kamu tulis.

Minggu, 26 Agustus 2012

Resiko Hidup

Besok pagi aku balik jogya, come back to jogja. Tapi gak euforia kayak biasanya. Mungkin karena udah ngerasa nyaman banget dirumah. Kumpul bareng temen-temen rumah dan SMA. Males kembali ke rutinitas yang sibuk dan menuntut aku selalu gerak cepat.

Oke tapi untuk masa depan lebih baik “I must do it”. Males? Kenapa ? aku ngerasa ada yang hilang. Ngerasa sendiri. Satu persatu temenku pergi. Temen-temen yang aku bener-bener klop dan cocok satu persatu pergi. Kebanyakan si karena udah lulus. Ada juga yang gara-gara punya pacar. Jadi mereka lebih intens jalan bareng pacar ketimbang jalan sama aku. Resiko hidup.

Hati yang Mulia

Pagi itu kedua kalinya aku bertemu sang ibu. Masih tetap sama saat pertama kali kulihat. Masih memakai kaos kerah panjang berwarna biru tua, bergambar salah satu partai politik.

“Bu, tumbas ?” panggilku setengah berteriak.

Dia berjalan ke arahku dan tersenyum sembari menurunkan bakul yang digendongnya.

“Alhamdulilah”, desahnya.

Masih sama saat pertama kali kulihat, sandal jepit hijau dan celana putih lusuh masih melengkapi penampilannya. Cuaca pagi menjelang siang itu nampak begitu tak bersahabat. Panasnya sangat terik serasa tepat diatas ubun-ubun. Sebentar saja bisa membakar kulitmu yang manja.

Aku longok keranjang besar dagangan sang ibu. Masih berisi penuh nasi jagung atau lebih dikenal dengan nama berabuk itu. Belum laku kah? Tanyaku dalam hati. Satu baskom penuh makanan kulub (aneka sayuran yang dicampur bumbu kelapa) juga masih nampak utuh.

Sebenarnya aku tak begitu suka dengan makanan yang berasa hambar itu. Awal aku membelinya karena bapaku yang meminta. Itupun kemarin ‘tak habis dan terpaksa untuk pakan ayam di belakang rumah. Ada hal lain yang membuatku ingin memebelinya lagi. Dan pagi ini, aku sengaja menunggunya.

Sesenek berabuk besar bisa ku dapatkan hanya dengan 5rb rupiah. Uang 5rbu bagiku tak seberapa, uang kecil. Paling nanti akan berakhir di warung sebelah rumah.Pikirku akan jauh berguna jika uang itu untuk sang ibu. Tentunya akan lebih bermanfaat.

Dia mulai melayani pesananku. Aku perhatikan gerak lakunya lekat-lekat. Sekilas tak ada yang istimewa dari ibu ini. Tak lebih hanya seorang wanita yang mencari nafkah untuk keluarga atau mungkin untuk dirinya sendiri. Tetapi kerudung hitam yang ia kenakan mampu bercerita. Kerudung yang penuh peluh putih itu menjadi penyerap keringat yang keluar dari langkahnya. Dia pasti sangat bekerja keras selama ini.

“Kesini naik bus bu?” aku memulai pembicaraan.
“Enggak mbak, jalan kaki.”

Kekagumanku bertambah 100 kali lipat! Desa Kincir, itu namanya. Memang tak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Hanya 10 km,lima belas menit saja berkendara pasti sudah tiba di tempat tujuan. Namun  jika ditempuh dengan jalan kaki tentu akan lain cerita. Waktu yang dibutuhkan bukan dalam menit lagi melainkan butuh waktu berjam-jam.

Desa kincir termasuk desa dengan ekonomi  terbelakang di wilayah Kabupatenku. Desa ini jauh dari modernitas.  Aku pernah sekali kesana. Sebagian besar rumah warganya masih berdinding bambu. Tanahnya lebih banyak bebatuan ketimbang tanah untuk bercocok tanam. Maka mata pencaharian utama para warga pun mengambil bebatuan kapur di gunung untuk dijual. Entah, mata pencaharian itu mampu menafkahi seluruh warganya atau tidak. Pikirku tidak. Daya jual batu kapur disini masih sangat rendah. Aku ‘tak tahu hitungannya secara pasti. Namun kabar yang aku dengar begitu.
Tiba-tiba rasa bersalah muncul, semoga pertanyaanku tadi tidak menyinggung haga diri sang ibu.

Aku terdiam. Nampaknya kesehatan mata sang ibu terganggu. Ada gumpalan putih besar di mata kirinya. Kenapa ya? Aku ‘tak berani bertanya. Kerutan-kerutan di wajahnya juga begitu ketara. Bukan kerutan karena telah berumur. Namun kerutan yang disebabkan karena sengatan matahari. Lekang coklat hitam.

“Mbak boleh minta air putih?”

Aku ambilkan sang ibu segelas air putih dan segelas es sirup segar. Dia menolak dan lebih memilih segelas air putih. Apa boleh buat, es sirup itu akhirnya kuminum sendiri.

“Bu tambah kulubnya 2rb ya?”

Tak berapa lama disodorkannya kulub yang terbungkus daun jati itu. Dia menolak uang 2rb yang sebenarnya adalah haknya.

“Gpa2 mbk, ambil aja. Wong cuma dikit kok”.

Aku bersikeras menolak. Aku yakin untung hasil penjualannya tak seberapa. Pasti uang ini pun sangat bernilai. Namun dia tetap bersikeras kemudian menatapku dalam “Gak usah mbak”.
Aku terenyuh. Begitu dermawan, tulus dan mulia hatinya. Dibalik kesusahannya sendiri dia masih mau berbagi. Semoga Ibu selalu dalam lindungan-Nya dan dimudahkan rejeki,amin :)

Masih bingung gimana bikin tulisan yang bagus? Masih butuh banyak belajar? Keinginan dan kemauan unuk menulis selalu ada. Tapi menciptakan tulisan yang hidup yang mengalir dan mampu bercerita itu susahnya Tuhannnnn.

Nb: buat kata yang dicetak miring “sesenek” aku bingung buat nerjemahinnya ke bahasa yang formal. 

Jumat, 24 Agustus 2012

Di balik Lelaki Hebat




Aku suka nonton film, terutama film-film yang memacu adrenalin. Kayak film-film action atau film-film detektiv. Suka-suka banget.
Takaran film bagus atau enggak menurtku bisa dinilai berkesan atau tidaknya dihati. Salah satu film yang berkesan “Public Enemies”. Genre film action namun diselingi romance juga. Cara si pria mencintai si wanita begitu sederhana. Meskipun si pria seorang mafia kelas kakap dia dengan setulus hati mencintai si wanita. Sangat menyentuh. Acting johnny depp di film itu benar-benar dalem.  Sampai beberapa hari aku tonton masih aja terngiang. Sebenernya film ini tergolong fim lama tahun 2009, tapi aku baru nonton. hehe
Kenapa ya? Selalu saja, film apapun yang bercerita tentang pria super pasti ada peran wanita hebat dibelakangnya. Entah itu film action, superhero, atau gangster-gangster keren. Nampaknya itu sesuai ungkapan “di balik lelaki hebat pasti ada wanita hebat dibelakangnya”.
bapak negara dan ibu negara :)

  
mekso photone :D :D
Lalu, gimana caranya biar aku masuk kategori wanita seperti itu ya?