Pages

Minggu, 17 Juli 2011

CERPEN: Cinta di atas Pasir

 Oleh Maya Indah Cashindayo Putri

“Arggghhh...kalo aku tahu kayak gini. Dari dulu aku gak perlu nunggu lama-lama. Aku takut kamu gak milih aku.” Ungkapnya menatapku
“Justru aku yang takut. Ku kira aku bertepuk sebelah tangan. Sikapmu itu selalu acuh sama aku.Nyebeliiin... Makanya malam ini bener-bener amazing beud buat aku.”

“sikapku kayak gitu soalnya aku bingung musti bersikap gimana sama kamu. Sikapku itu buat nutupin rasa gerogiku didepanmu.” Akunya dengan senyuman

                Dan akhirnya malam ini kami resmi berpacaran setelah tiga tahun salah mengartikan rasa yang kami rasakan selama ini.

“Kamu  inget gak cowok yang  bentak-bentak kamu saat hari pertama OSPEk.”
“Enggak, emang penting ya? Ogah aku inget mukanya.”
“yahh..bener-bener lupa ya? Dia pake topi item bercadar dan selalu cari kesalahanmu?
“Enggak, emang penting ya? OSPEK aja Cuma ikut sehari itu doang. Males dibentak-bentak. Iya sie dulu ada kakak yang hobi banget marahin aku. Tapi aku gak inget, pake cadar mukanya?
“Aku!” dan aku tercengang mendengarnya
“iya aku..hey jangan bengong gitu kali? Sejak pertama liat kamu udah ngersa ada yang beda aja. Makanya sikap aku kayak gitu dulu. Supaya bisa kenal kamu. Eh kamunya malah gak dateng di hari kedua. Jadinya batal deh minta kenalannya.”

                Aku hanya bisa terdiam dan memandangnya.  Sungguh kejutan apa lagi yang akan kau ungkapkan padaku. Selama itukah ? Kejadian itu tiga tahun lau. Dalam hati terus aku ucapkan syukur “Terima kasih Ya Allah kau telah memberikan seseorang yang benar-benar tulus menyayangiku”.

“ Nie photo-photomu pas OSPEK dulu. Lucu kan? Nie kamu pas nguap...kamu lagi ngelamun... kamu ngantuk....photo  kamu kepanasan.” Dia menyodorkan photo-photoku yang akupun tak sadar pernah di photo seperti itu. Dan aku bisa melihat kegembiraan di wajahnya.

“Ini photo favoritku. Saat kau tersenyum dan tertawa benar-benar bikin aku tenang.”
“Asataga....aku gak sadar kalo diphoto kayak gini. Malu-maluin ach.” Dan kurebut photo dari tangannya.
“Heyy...kenapa mesti malu. Sama pacar sendiri juga.” Godanya dengan tertawa. Entah kenapa saat dia bilang aku ini pacarnya rasa takut muncul di hatiku.  Aku takut? Takut untuk semuanya? Takut jika ini hanya kebahagian sesaat yang akan hilang.

Hening...kami berdua terdiam. Aku tatap langit. Perasaan lega dan bahagia menyelimuti hatiku. Dan aku pun bersandar di pundaknya. Semakin aku sadar bahwa aku benar-benar telah terjerat akan cintanya. Tak mungkin bisa lepas.

“Aku menyayangimu.” Ucapku pelan
“Aku juga menyayangimu lebih dari yang kau tahu.”

                Malam tak terasa dingin meskipun angin dan debur ombak malam menari-nari. Hangat, nyaman dan tenang dia genggam erat tanganku. Malam yang indah. Bulan dan bintang seolah tersenyum melihat kami. Dan dia pun terus megenggam erat tanganku.

                Begitu banyak waktu yang terbuang. Terlalu lama kami menunggu dan menyadri perasaan masing-masing. Dan ingatanku kembali memutar ke masa lalu. Kejadian lucu awal aku melihatnya. Saat aku mengira hanyalah diriku yang merasakan anugrah ini. Di perpus kampusku. Aku melihatnya seorang diri serius membaca sebuah buku. Saat itu pula aku terpesona akan auranya. Di balik buku-buku ku intip dia mencuri pandang. Mungkin dia merasa diawasi olehku. Lalu dia menatapku tajam  seakan aku ini  pengintip yang ketangkap basah. Karena malu langsung kututup wajahku dengan buku yang kubawa.

“ Keren ya? Bisa baca buku kebalik.” OMG, malunya aku saat itu

                Tapi sekarang apa gunanya aku mengingat lagi semua masa lalu itu. Toh, semuanya telah berakhir. Telah berakhir sejak malam terakhir aku melihatnya di pantai ini. Disaat dia menyatakan cinta, disaat aku benar-benar yakin bahwa dia hanya satu untukku.
                Kenangan indah delapan tahun silam yang tak mungkin terulang. Tapi kenapa kenangan itu masih teringat jelas di otakku. Malam itu dia tuliskan I LOVE U, RERE di pasir putih ini. Besar sekali hingga aku masih bisa melihatnya dari kejauhan. Dan akupun masih bisa merasakan nafas dan aroma tubuhnya di malam delapan tahun lalu itu.
                Seandainya dia tahu bagaimana aku melanjutkan hidup setelah dia pergi? Seandainya dia melihatku saat aku menangis karenanya?Kenapa sangat sulit..sampai sekarang rasa sayangku tak pernah berubah sedikitpun padanya.
                Kenapa dia membuatku terlihat begitu menyedihkan? Kenapa dia meninggalkanku seolah barang yang seenaknya di campakan. Aku merindukannya ....

               
                 

3 komentar: