Langit yang
awalnya cerah perlahan meredup mendung. Tak berapa lama kemudian hujan turun
dengan derasnya. Nampak kesibukan di seberang jalan sana, seorang lelaki tua
tengah sibuk mengangkat barang dagangannya ke dalam rumah.
Namanya Sugiharyono atau akrab di panggil Mbah Sugi. Dia adalah seorang
penjual kompor sekaligus pengrajin kompor yang ada di desa Sekar Suli,
Kecamatan Berbah, Sleman. Sejak 44 tahun lalu, Mbah Sugi mulai merintis
usahanya bersama sang istri. Tak ada brand khusus apalagi label khusus.
Sebutannya hanya “Kompor Mbah Sugi” saja.
Mbah Sugi duduk
santai di kursi kayu panjang depan rumah menikmati hujannya sore. Rumahnya sangat
sederhana , dindingnya dari bilik kayu dengan dua jendela di depannya. Tidak
ada aksesoris lain yang menghiasi. Lantainya-pun masih beralas tanah. Ruang
tamunya hanya ada sepasang kursi tamu merah dengan lemari tua dan sebuah jam dinding
besar. Rumah itu seakan menjadi saksi
bisu kerja kerasnya. Bentuk rumahnya memanjang. Di sepanjang teras terletak
banyak perkakas-perkakas bekas kerjanya. Potongan seng, kawat gunting dan
drum-drum yang menjadi bahan dasar kompornya.
Berkali-kali
usaha yang dia rintis mengalami jatuh bangun. Namun itu semua mereka lewati
bersama. Pernah Mbah Sugi mencoba peruntungan lain menjadi pengrajin ember drum.
Usahanya akhirnya kalah saing dengan produk ember plastik. Akhirnya pillihan
hatinya mantap menjadi pengrajin kompor tradisional. Baginya, tidak ada pilihan
lain untuk terus menyambung hidup. Sawah dia tak punya, hanya keahlian ini yang
bisa dia andalkan untuk menghidupi istri dan keenam anaknya.
“Anak saya udah menikah semua dek
alhamdulialh, Yang satu ama kedua sarjana. “
Di seberang jalan
rumah Mbah Sugi berdiri kokoh sebuah rumah besar berlantai dua. Rumahnya bercat
kuning dan berpagar tinggi besar.
“Itu rumah anak saya yang
pertama,” ungkapnya bangga.
****
Di rumah sederhana ini Mbah Sugi hanya tinggal berdua bersama
istrinya. Ketika saya tanya mengapa tidak tingal dengan anaknya, dia menjawab
sembari tertawa. “hahaha, nanti repot, enakan disini,”
Meskipun umurnya sudah mencapai
70 tahun, tidak nampak fisik lemah dari Mbah
Sugi. Senyumnya tetap sumringah, badannya masih tegap dan
mampu menjawab pertanyaan-npertanyaanku dengan jelas.
“Anak saya larang kerja begini
(pengrajin kompor). Nanti malah kayak mbah,”
Putra pertama dan kedua Mbah Subi
berhasil mendapat gelar sarjana.
Meskipun keempat putra lainnya tak mengenyam pendidikan yang sama Mbah Sugi
tetap mengucap syukur. Baginya dengan anak-anaknya tidak berprofesi sebagai
dirinya saja, alhamdulilah.
“Anak saya yang pertama jualan aspal,
satu drum bisa laku satu juta lebih,”
Mbah sugi
tetap mempertahankan usaha kompornya ini. Dengan duduk bersila diatas lantai
tanahnya, dengan cekatan dia mencoba memperlihatkan kepada saya bagaimana membuat kompor-kompor kokoh
trsebut. Bahaan dasarnya adalah drum-drum bekas yang dia beli seharaga Rp 30.000
hingga Rp40.000. Awalnya drum-drum itu dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran
yang menempel. Maka dari itu, drum bekas memerlukan proses pembakaran untuk
merontokan kotoran-kotoran yeng menempel. Setelah bersih, mulailah ke tahap pemotongan.
Gunting yang digunakan adalah gunting kusus besi. Drum-drum itu dipotong sesuai
pola yang sudah dibuat Mbah Sugi sebelumnya. Lalu masuk ke dalam tahap uji coba.
Setelah lolos, masuk ke tahap terakhir yaitu tahap pengecatan. Dibutuhan waktu
dua hari untuk membuat satu kompor.
Mbah Sugi
tetap mempertahankan usaha kompor-kompornya di tengah era modernitas ini . Januari 2010 lalu, pemerintah membuat
kebijakan untuk melakukan konversi minyak tanah dengan gas. Proyek yang menelan anggaran
Rp 15,5 triliunan dari Anggran Pengeluaran Belanja Negara (APBN) menimbulkan
banyak polemik. Ironisnya, banyak sekali kompor gas cacat sehingga menyebabkan
kompor gas meledak. Hingga saat ini,tercatat ada 87 kasus ledakan. Hal ini tentunya menimbulkan ketakutan tersendiri bagi mereka , terutama untuk kalangan
menengah dan ke bawah. Penyebabnya pun macam-macam. Dari tabung gas yang bocor.
Atau selang tabung yang bocor. Hal inilah yang menyebabkan mereka enggan
beralih dari minyak tanah ke gas.
Pelanggan kompor
Mbah Sugi kebanyakan dari kalangan menengah ke bawah. Mbah Sugi adalah
satu-satunya pengrajin kompor yang masih bertahan di desanya. Kebanyakan
pengrajin lain mengalami gulung tikar karena tidak mampu mempertahankan
eksistensi produknya. Pernah Mbah Sugi mendapat orderan dari negara luar.
Misalnya saja pesanan dari jerman untuk membuat tabung kecil dari drum. Pernah
ada juga warga Australia memesan sorokan dari drum. Pendapat pelanggannya,
barang dari Mbah Sugi lebih terjangkau harganya.
Itu adalah
masa kejayaannya silam. Semenjak tragedi bom bali 1 pesanan dari luar perlahan menurun
hingga tidak ada pesanan sama sekali. Bom Bali 1
adalah tragedi besar bagi bangsa Indonesia.Terjadi tahun 2002 silam dan menelan
200 korban jiwa. Hal ini berdampak sangat buruk terhadap perekonomian Indonesia.
Kedatangan turis menurun, kepercyaan terhadap keamanan Indonesia menurun
drastis. Mereka menganggap Indonesia tidak aman lagi.
Obrolan kami
tiba tiba terhenti ketika Mbah Putri, istri Mbah Sugi tiba-tiba muncul. Dia
tersenyum kepadaku. Rambutnya yang putih di gelung ke belakang. Berpakaian rapi
memakai baju kebaya. Lipstik merahnya nampak mencolok.
“Mau kondangan dek,” katanya
kepadaku.
Bolak-bolak
balik keluar ruangan mencari payung katanya. Tapi tidak segera ketemu. Sama
seperti mbah sugi, mbah putri juga nampak masih sangat sehat. Badannya masih
segar dan tubuhnya gemuk berisi.
“Ayoo selak bar mengko,” kata
salah satu gerombolan ibu-ibu yang sudah menunggu di luar rumah.
“Iyo sek, goleki kudung karo
payung,”jawab mbah putri. Setelah itu mbah putri siap berangkat dengan memakai
setelan dan kerudung serba abu-abu.
Dalam semninggu Mbah Sugi mampu menghasilkan empat buah
kompor. Baginya itu sudah cukup. Dengan penjualan Rp 60.00 itu dia bisa
mendapat kan untung Rp 45000 di setiap kompornya.
“sitek-siteklah, penting halal dik.”
****
Hujan belum juga mereda. Rutinitas jalan raya masih saja padat. Begitu
kontras dengan jalan hidup yang mbah sugi jalani “alon asal kelakon”.