Pages

Senin, 10 Desember 2012

Provokasi untuk Menarik Simpati


Beberapa waktu lalu pemberitaan yang diangkat HIMMAH kembali menimbulkan kontroversi. Hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya pun berita yang diangkat tentang “Baku Hantam Menimbulkan Luka” juga menimbulkan kontroversi. Akan tetapi pihak yang merasa keberataan dengan pemberitaan KobarKobari tersebut  enggan memanfaatkan hak jawab yang telah HIMMAH berikan.

Bebrapa waktu pula ada seorang yang mengaku mahasiswa Fakultas Hukum 2012 mengirim sms kepada saya.

Saya Rochmat mhs FH UII 2012 pengn komentar kpd kobarkobari, edisi pesta soal stan jual atribut knp Cuma fokus bahs harga pdhl da jg sampah kertas2 yang kuliat saat jalan kaki dorong spd mtr hri ptma pesta? Lalu edisi pekta, saya bngung dgn brita baku hntam krn kurang bsa ungkp fakta pdhl bnyk kutipan tp kyknya kurang di benturkan! Tmn kakak saya yg juga pers mhs sebut hal tu sbg muckrakcing joornalism hehe. Lalu soal spanduk organ ekstra yg Qrasa britanya tidak berimbang krn terlalu fokus nyerang HMI pdhl da PMII, KAMMI L Trz foto , etis kah liatin aurat (leher)ce pingsan? Edisi 159, g da lg tema slaen DPM vs LK?”

Dalam menggunakan hak jawab tentunya diperlukan identitas yang jelas. Karena ketidak jelasan identitas ini akhirnya kami memutuskan untuk membalasnya lewat sms saja.

“Terima kasih masukannya, kami akan mengevaluasi. Ada masukan lain? J
Terkait foto menurut etika jurnalisme yag kami anut, hal itu sah-sah sah saja . Soalnya foto  itu adalah fakta , bukti keteledoran panitia dalam menyikapi kesehatan peserta Pesta”

Dibalas kembali:
“Aku kira etika jurnalisme himmah adalah islami secara uii gtu loh buk hehe
Aih nyari berita kok yang salah2, lupa caption foto kemren apa haha
Aduh hak jawab gak dpake”

“Etika yg kami pke pada akurasi, selalu melihat fakta dans elalu menghamba pada kebenaran, jika agama dijadikan landasan itu akan membuat jurnalisme kami subjektif, kami lebih mengarah pada investigasi karena kami adalag media penyeimbang bg mahasiswa uii. Lah ini kan sudah hak jawab to mas, nuwun”

Kembali kami melakukan perdebatan lewat pesan singkat tentang organ ekstra alias HMI. Dan di smsnya yang terakhir dia menyebutkan

“Kebenaran adlh milik ALLAh swt? Menghamba pada kebenaran ya pake agama krna aturan ALLAH! Harusnya kalian tuh ya jurnalisme Islami jadi baca Republika selain komapas.”

****

Baru-baru ini pula Farmasi digemparkan dengan berita “Di balik Jadwal Kuliah Farmasi” berita lengakappnya bisa dilihat disini

Reaksi Anang Susilo Yudhoyono terkait berita tersebut




Jika kita cermati, tulisan yang dimuat KobarKobari pekan lalu tidak berfokus tentang pemberitahuan melalui facebook. Melainkan masalah dosen yang sering mangkir mengajar dan sering mengganti jadwal kuliah.

Kalimat yang menyangkut Facebook dalam berita:
 “Jadwal kuliah yang bertabrakan sering membuat mahasiswa bingung, belum lagi pemebritahuan terkait hal itu disampaikan melalui media facebook (FB) atau balacberry messnger (BBM)”

Apa mungkin hanya sekelumit kalimat inilah penyebab facebook Farmasi ditutup? Apa itu koheren dan beralasan?
Namun ironinya tanggapan Pak Nanang kemudian ditelan mentah-mentah pada pihak yang bersangkutan. Terutama Mahsiswa Farmasi itu sendiri. Mereka kemudian membuat pengadilan judge yang hanya ikut-ikutan tanpa melihat fakta dan melihat jauh melihat ke dalam.

Ingat kasus pembantain dukun di banyuwangi ? ingat kasus Sampang? pola yang mereka gunakan adalah provokasi. Tentunya provokasi dilakukan oleh mereka yang punya kekuatan untuk mempengaruhi. Provokasi ini ampuh sebagai senjata menjatuhkan lawan.

Lain pendapat yang diutarakan temenku, mbak Tika. Menurtnya pola yang Anang gunakan mirip dengan pola yang digunakan Susilo Bambang Yudhono (SBY). Di pemilu 2004 menempatkan dirinya sebagai korban Megawati. Megawati mengatakan bahwa SBY adalah seorang jendral namun memiliki kelakuan seperti anak kecil. Karena masyarakat Indonesia tipe “rakyat drama” lalu mereka kasihan dan simpati pada SBY. Dan itu salah satu penyebab kemenangan SBY di pemilu 2004 silam. Dan inilah hasilnya, kita memperoleh pemimpin yang tidak tegas. Bahkan berkali-kali dia mengeluhkan beratnya pekerjaan yang dia pikul. Ingat kan pidatonya tentang kecilnya gaji yang dia peroleh? Sebelas dua belas. Anang susilo mencoba memprovokasi dan mencari simpati.

Masih pendapat temenku, Soe Hok Gie pernah berkata “Pemimpin macam inilah yang pantas ditembak di lapangan banteng”.
Pramodya Ananta Tour “Jangan takut merasa benar, karena pkebenaran itu tidak jatuh dari langit tapi diperjuangkan”
Aung san suu kyi pula mengatakan “bukan kekuasan yang jahat, tapi rasa takut.”

Lain lagi untuk kasus  Rahmat si mahasiswa FH. Dia menggunakan dalil agama untuk membenarkan dirinya. Sesunggahnya agama adalah agama. Jika kita menyangkut pautkan agama untuk membenarkan pendapat kita, apa bedanya kita dengan dengan pendusta agama. Hehehe

Kamis, 29 November 2012

Ilmu Sesat "Marx"


“Ciri-ciri ideologi komunis adalah tidak beragama”

Kalimat sesat yang dijarkan guru SD-ku dulu masih sangat jelas kuingat. Selama bertahun-bertahun pula meyakini kalimat yang aku anggap prinsipil itu. 

Dan sekarang baru sadar  ideologi dari hasil pemikirian Karl Marx itu bukanlah dasar sebenarnya. Buktinya dulu si Marx juga beragama yahudi meskipun lalu berpindah ke agama resmi Prusia, protestan aliran lutheran yang relatif riberal.

Pernah aku membaca artikel tentang Marx (lupa judulnya dan dimana bacanya). Si Marx di buku Das Kapital-nya bilang bahwa “agama adalah candu masyarakat”. Tapi hal itu pun menurutku sudah tidak koheren lagi di era sekarang. Mungkin dulu iya, ketika era Marx para pemuka agama justru menjadi aktor Kapital dan penguasa. Sedikit-sedikit agama dijadikan alasan agar bisa memonopoli kaum miskin. Maka muncul sebait kalimat yang terkenal itu.  

Tapi guru SD-ku kasian juga kalo dituding penyebar kesesatan. Di tempatku, seorang guru dituntut menjadi guru yang multitalenta. Seorang guru mengajar satu kelas dan itu-pun mengajar semua mata pelajaran. Entah itu ilmu alam, ekonomi, matematika, agama bahkan kerajinan pun satu guru yang mengajar. Salut deh buat orang yang memilih profesi jadi guru SD. J

Kamis, 22 November 2012

Perang Tak Berujung “Palestina-Israel”


Eng ing eng... pengen share sepemahan aku tentang perang “Palestina-Israel”. Perang Kusut seperti benang kusut. Ribet seribet bikin coding program.  Menurutku perang yang awalnya dari perebutan wilayah sekarang menjalar jadi perang gengsi dan balas dendam dan tentunya kepentingan dari negara-negara yang punya kuasa. Istilahnya “ada udang dibalik batu”.

Perang yang tak berujung memakan ribuan jiwa orang sipil. Perang inipun seolah jadi ajang pamer senjata dan teknologi siapa yang paling mutakhir.

Perebutan wilayah? Kenapa? Gini? Dulu tahun 1897di basel, swiss, kongres kaum zionis berlangsung dan menajdi cikal bakal penandatanganan deklarasi balfour. Pada saat itu menteri luar negeri inggris bernama Arthur James Balfour menandatangani deklarasi  Balfour yang berisi pembentukan “tanah air yahudi”. Tujuannya saat itu untuk menjaga kepentingan negara-negara Eropa dikawasan strategis timur tengah. Palestina jadi pilihan karena terletak di pusat pemerintahan ottoman  turki dekat dengan mediterian dan terusan suez yang merupakan kawasan penting untuk Eropa.  

Seiring berjalannya waktu, kaum zionisme semakin eksis dengan ditandai runtuhnya pemerintahan ottoman di turki, pecahnya perang dunia pertama, serta pro kontra kepentingan eropa. Namun sejak pecah pecah perang dunia kedua, Inggris yang punya kuasa terhadap orang-orang zionis menyatakan mundur karena kondisi saat itu mereka lemah dan terdesak. Hal inilah yang dimanfaatkan Amerika Serikat. Hasilnya, tanggal 29 november 1947 wilayah palestina dibagi menjadi dua wilayah yaitu Palestina dan Israel. Puncaknya tanggal 14 mei 1948 zionis mengumumkan telah berganti nama menjadi bangsa israel. Sejak saat itu pula kaum zionis berkuasa di negara Palestina.

Tanah Palestina bagi yahudi, nasrani dan muslim merupakan tanah suci bagi agama mereka masing-masing. Bagi umat islam tanah itu adalah tempat  tinggal Nabi Ibrahim. Dahulu juga ketika masa Nabi Musa, orang-orang Bani Israel yang dibawah kekejaman Raja Firaun dibawa Nabi Musa ke tanah Palestina untuk menyelamatkan diri. Dan orang-orang Bani Israel inilah yang disebut-sebut sebagai bangsa Israel. Kemudian orang Bani Israel berkhianat dan mengingkari Al-quran. Sampai sekarang kaum zionis Israel berangggapan bahwa tanah Palestina adalah tanah suci yang dijanjikan tuhan.

Konflik semakin menjalar dan berakibat perang bangsa arab dengan israel. Perang yang terjadi diantaranya perang enam hari, perang yom kippur dan masih banyak lagi konflik dan perang lainnya.  Apalagi Israel diboncengi negara sekutu seperti Amerika. Tentunya Amerika pun memiliki kepentingan tersendiri melakukan itu. Inilah perang yang tidak berujung, perang yang terjadi secara turun temurun. 

Solusi? Solusi apa ya? Apa pemimpinnya perlu diganti semua? I do no, pengetahuanku soal ini masih cetek banget. So, perlu referensi dan diskusi-diskusi lagi pastinya. Saat ini kita masih bergantung dengan penyelesaian PBB dan Amerika. Semoga yang terbaik dan perang ini cepat berlalu.  J

Referensi-referensi lain bisa dilihat sendiri disini:

Jumat, 09 November 2012

Tentangnya

Lebih baik aku menghindar daripada dibuat duniaku jungkir balik.

Kompor Penyambung Kehidupan


Langit yang awalnya cerah perlahan meredup mendung. Tak berapa lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Nampak kesibukan di seberang jalan sana, seorang lelaki tua tengah sibuk mengangkat barang dagangannya ke dalam rumah.

Namanya Sugiharyono atau  akrab di panggil Mbah Sugi. Dia adalah seorang penjual kompor sekaligus pengrajin kompor yang ada di desa Sekar Suli, Kecamatan Berbah, Sleman. Sejak 44 tahun lalu, Mbah Sugi mulai merintis usahanya bersama sang istri. Tak ada brand khusus apalagi label khusus. Sebutannya hanya “Kompor Mbah Sugi” saja.

Mbah Sugi duduk santai di kursi kayu panjang depan rumah menikmati hujannya sore. Rumahnya sangat sederhana , dindingnya dari bilik kayu dengan dua jendela di depannya. Tidak ada aksesoris lain yang menghiasi. Lantainya-pun masih beralas tanah. Ruang tamunya hanya ada sepasang kursi tamu merah dengan lemari tua dan sebuah jam dinding besar.  Rumah itu seakan menjadi saksi bisu kerja kerasnya. Bentuk rumahnya memanjang. Di sepanjang teras terletak banyak perkakas-perkakas bekas kerjanya. Potongan seng, kawat gunting dan drum-drum yang menjadi bahan dasar kompornya.
            
         Berkali-kali usaha yang dia rintis mengalami jatuh bangun. Namun itu semua mereka lewati bersama. Pernah Mbah Sugi mencoba peruntungan lain menjadi pengrajin ember drum. Usahanya akhirnya kalah saing dengan produk ember plastik. Akhirnya pillihan hatinya mantap menjadi pengrajin kompor tradisional. Baginya, tidak ada pilihan lain untuk terus menyambung hidup. Sawah dia tak punya, hanya keahlian ini yang bisa dia andalkan untuk menghidupi istri dan keenam anaknya.

“Anak saya udah menikah semua dek alhamdulialh, Yang satu ama kedua sarjana. “

Di seberang jalan rumah Mbah Sugi berdiri kokoh sebuah rumah besar berlantai dua. Rumahnya bercat kuning dan berpagar tinggi besar.

“Itu rumah anak saya yang pertama,” ungkapnya bangga.

****
          Di rumah sederhana ini  Mbah Sugi hanya tinggal berdua bersama istrinya. Ketika saya tanya mengapa tidak tingal dengan anaknya, dia menjawab sembari tertawa. “hahaha, nanti repot, enakan disini,”
Meskipun umurnya sudah mencapai 70 tahun, tidak nampak fisik  lemah dari Mbah Sugi.  Senyumnya  tetap sumringah, badannya masih tegap dan mampu menjawab pertanyaan-npertanyaanku dengan jelas.

“Anak saya larang kerja begini (pengrajin kompor). Nanti malah kayak mbah,”

Putra pertama dan kedua Mbah Subi berhasil mendapat gelar sarjana.  Meskipun keempat putra lainnya tak mengenyam pendidikan yang sama Mbah Sugi tetap mengucap syukur. Baginya dengan anak-anaknya tidak berprofesi sebagai dirinya saja, alhamdulilah.

“Anak saya yang pertama jualan aspal, satu drum bisa laku satu juta lebih,”

Mbah sugi tetap mempertahankan usaha kompornya ini. Dengan duduk bersila diatas lantai tanahnya, dengan cekatan dia mencoba memperlihatkan kepada  saya bagaimana membuat kompor-kompor kokoh trsebut. Bahaan dasarnya adalah drum-drum bekas yang dia beli seharaga Rp 30.000 hingga Rp40.000. Awalnya drum-drum itu dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran yang menempel. Maka dari itu, drum bekas memerlukan proses pembakaran untuk merontokan kotoran-kotoran yeng menempel. Setelah bersih, mulailah ke tahap pemotongan. Gunting yang digunakan adalah gunting kusus besi. Drum-drum itu dipotong sesuai pola yang sudah dibuat Mbah Sugi sebelumnya. Lalu masuk ke dalam tahap uji coba. Setelah lolos, masuk ke tahap terakhir yaitu tahap pengecatan. Dibutuhan waktu dua hari untuk membuat satu kompor.

Mbah Sugi tetap mempertahankan usaha kompor-kompornya di tengah era modernitas ini .  Januari 2010 lalu, pemerintah membuat kebijakan untuk melakukan konversi  minyak tanah dengan gas. Proyek yang menelan anggaran Rp 15,5 triliunan dari Anggran Pengeluaran Belanja Negara (APBN) menimbulkan banyak polemik. Ironisnya, banyak sekali kompor gas cacat sehingga menyebabkan kompor gas meledak. Hingga saat ini,tercatat ada 87 kasus ledakan.  Hal ini tentunya menimbulkan ketakutan tersendiri  bagi mereka , terutama untuk kalangan menengah dan ke bawah. Penyebabnya pun macam-macam. Dari tabung gas yang bocor. Atau selang tabung yang bocor. Hal inilah yang menyebabkan mereka enggan beralih dari minyak tanah ke gas.

Pelanggan kompor Mbah Sugi kebanyakan dari kalangan menengah ke bawah. Mbah Sugi adalah satu-satunya pengrajin kompor yang masih bertahan di desanya. Kebanyakan pengrajin lain mengalami gulung tikar karena tidak mampu mempertahankan eksistensi produknya. Pernah Mbah Sugi mendapat orderan dari negara luar. Misalnya saja pesanan dari jerman untuk membuat tabung kecil dari drum. Pernah ada juga warga Australia memesan sorokan dari drum. Pendapat pelanggannya, barang dari Mbah Sugi lebih terjangkau harganya.
Itu adalah masa kejayaannya silam. Semenjak tragedi bom bali 1 pesanan dari luar perlahan menurun hingga tidak ada pesanan sama sekali. Bom Bali 1 adalah tragedi besar bagi bangsa Indonesia.Terjadi tahun 2002 silam dan menelan 200 korban jiwa. Hal ini berdampak sangat buruk terhadap perekonomian Indonesia. Kedatangan turis menurun, kepercyaan terhadap keamanan Indonesia menurun drastis. Mereka menganggap Indonesia tidak aman lagi.

Obrolan kami tiba tiba terhenti ketika Mbah Putri, istri Mbah Sugi tiba-tiba muncul. Dia tersenyum kepadaku. Rambutnya yang putih di gelung ke belakang. Berpakaian rapi memakai baju kebaya. Lipstik merahnya nampak mencolok.

“Mau kondangan dek,” katanya kepadaku.

Bolak-bolak balik keluar ruangan mencari payung katanya. Tapi tidak segera ketemu. Sama seperti mbah sugi, mbah putri juga nampak masih sangat sehat. Badannya masih segar dan tubuhnya gemuk berisi.

“Ayoo selak bar mengko,” kata salah satu gerombolan ibu-ibu yang sudah menunggu di luar rumah.
“Iyo sek, goleki kudung karo payung,”jawab mbah putri. Setelah itu mbah putri siap berangkat dengan memakai setelan dan kerudung serba abu-abu.

Dalam semninggu Mbah Sugi mampu menghasilkan empat buah kompor. Baginya itu sudah cukup. Dengan penjualan Rp 60.00 itu dia bisa mendapat kan untung Rp 45000 di setiap kompornya.
“sitek-siteklah, penting halal dik.”

****

Hujan belum juga mereda. Rutinitas jalan raya masih saja padat. Begitu kontras dengan jalan hidup yang mbah sugi jalani “alon asal kelakon”.

Senin, 15 Oktober 2012

mimpi

"Jangan takut untuk bermimpi, karena ALLAH lah yang akan memeluk mimpi-mimpimu" :)

Rabu, 10 Oktober 2012

Bismillah


Nanti aku akan mengajar lagi. Semacam ada semangat baru. Merasa lebih punya arti. Memang sempat beberapa waktu itu aku berada di titik kejenuhan. Malas, malas semunya. Malas ini itu. Tak ada semangat. Atau bisa dibilang tak ada penyemangat.

Sekarang merasa ber-energi lagi. Aku punya kegiatan baru. Mengajar TPA di sebuah desa. Awalnya memang tak yakin. Agamaku pas-pasan. Takutnya malah mengajar ilmu sesat.
Selasa lalu hari pertama, aku bisa. Senangnya bisa bermanfaat untuk sesamaku J