Rumah kami memang sangat kecil hanya berukuran 10x10 meter. Itupun sudah termasuk dapur dan satu kamar tidur. Dan kamar satu-satunya itu di fungsikan sebgai kamar pribadiku. Sedangkan ayah mengalah tidur di ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang keluarga kami. Untuk kamar mandi kami masih memanfaatkan kamar mandi umum yang harus berbagi dengan tetangga kami.
Dirumah sederhana ini kami hanya hidup berdua. Aku dan ayah saja. Saudara? Apa itu? Sejak lahir aku tak pernah mendengarnya. Ibu? Aih,apa lagi itu. Aku „tak punya saudara bahkan ibu. Di dunia ini hanya kami berdua, aku dan ayah. Itu saja. Pernah suatu ketika aku bertanya pada ayah “Ayah kenapa aku tak seperti anak lain yang punya ibu?” tapi ayah selalu menjawab “Ayah juga adalah ibu.”
Oke itu benar memang. Ayah bisa melakukan semuanya. Dia bisa jadi ibu, saudara bahkan temanku. Iya dia ayahku yang paling ku sayang di dunia ini. Entah bagaimana aku tanpanya. Setiap pagi sebelum bekerja pasti dia membuatkanku sarapan telur mata sapi favoritku. Dan segelas susu coklat hangat mengawaliku memulai aktivitas. Meskipun kami miskin ayah tak pernah sekalipun mengabaikan asupan gizi untukku. Dia selalu memberiku yang terbaik semampunya.Segala macam keinginanku pasti dia berusaha memenuhinya. Tentu aku juga tahu diri, yang aku minta selalu sesuai kemampuan ayah. Dia „tak pernah absen untuk menjemputku kesekolah di sela dia menarik becak. Tak pernah ayah terlambat untuk menjemputku.
Sebelum pindah di rumah ini dulu aku tinggal di rumah lumayan besar. Kami memiliki kelurga kecil yang bahagia. Ada aku,ayah, ibu dan juga kakak. Tapi suatu hari ibu dan kakak perempuanku tiba-tiba menghilang. Saat itu usiaku masih empat tahun. Ayahku hanya bilang ibu dan kakak pasti akan pulang. Dan saat itu aku percaya saja ucapan ayah. Tapi disaat usiaku lima tahun dan aku tak percaya lagi dengan janji ayah. Aku menanyakan kembali dimana ibu dan kakak. Dan ayah menjawab jika ibu dan kakak mengalami kecelakaan dan harus meninggalkan aku dan ayah. Aku Cuma bisa terperanjat tak percaya. Aku hanya bisa diam dan mencoba mengerti apa yang terjadi disaat umurku semuda itu.
Setelah kejadian itu aku dan ayah pindah di rumah ini. Rumah yang sangat sederhana bahkan bisa dibilang jauh dari kata layak. Namun aku bersyukur di usiaku sebelia itu aku bisa mngerti bagaimana keadaan ayah kala itu. Tanpa perlu menuntut ini itu yang pasti akan menambah beban ayah.
****
Malam itu kulihat Ayah terjaga dari tidur lelapnya. Matanya enggan terlelap lagi meskipun lelah bekerja menarik becak seharian masih meluru tubuhnya. Nampaknya ada suatu hal penting yang dipikirkan ayah. Dikegelapan malam yang hanya bercahayakan lampu neon 5 watt tampak ayah mondar-mondir layaknya memikirkan suatu hal besar yang sulit untuk dipecahkan. Kuperhatikan ayah diam-diam tanpa dia sadari.
Malam itu aku tertidur di ruang tengah beralaskan tikar tidur ayah. Dan aku sedikit terganggu dengan aktivitas ayah yang mondar mandir sehingga membuatku terjaga. Belum sempat ku tanyakan mengapa ayah begitu pintu telah diketuk dari luar. Sesosok pria berperawakan tinggi besar berdiri di muka pintu. Samar-samar kulihat wajah si pria. Berpenampilan rapi dengan jaket kulit hitam, berkumis tebal dan dengan sorot mata tajam melengkapi penampilannya malam itu. Selama umurku sembilan tahun aku belum pernah bertemu dengan sesorang yang menjadi tamu ayah malam itu.
“Akhirnya kau datang juga sobat,” sambut ayah akrab dengan pelukan dan di balas dengan tawa besar yang cukup membuat rasa kantuku hilang karena kaget. Pria tegap itu memiliki badan besar dua kali lipat dibanding ayahku. Karena memang ayahku tipikal orang berperawakan tinggi kurus.
*****
Pagi menjelang saatnya memulai aktivitas. Seperti biasa, setiap pagi ayah membuatkanku sarapan ala ayah. Kemudian ayah akan mengantarku ke sekolah sembari ayah bekerja menarik becaknya. Di tengah perjalanan menuju ke sekolah kami terhambat dengan kerumunan orang di pinggir sungai.
“Anggota PKI..anggota PKI....,” terdengar salah seorang pemuda di tengah kerumunan. Mungkin ada sekita 10 hingga 20 orang bergemrombol di pinggir sungai itu.
“Kamu disini saja, ayah lihat dulu,”pinta Ayah.
Aku tak mengindahkan perkataan ayah. Aku turun dari becak dan juga ingin tahu apa yang terjadi.
“PKI..PKI...” kata salah seorang pemuda lagi.
Di bibir sungai tergelak mayat tanpa kepala yang nampak sudah membeku mungkin karena telah mengapung beberapa hari di sungai itu. Badannya masih utuh dengan celana hitam dan kaos polos berwarna putih. Tubuhnya masih utuh kecuali kepalanya yang terpisah entah kemana. Aku Cuma takjub melihat pemandangan di depanku itu. Segera ayah meraihku dan menutup mataku cepat. Tapi terlambat, aku sudah melihat pemandangan mengerikan yang baru pertama kali kulihat seumur hidupku.
“Ayah orang itu kenapa begitu?” tanyaku. Belum sempat ayah menjawab pertanyaanku, seorang pemuda di salah satu kerumunan menjawab “itu PKI orang jahat,”
Tak mengindahkan perkataan pemuda itu dengan cepat ayah menarikku untuk pergi di kerumunan.
“Jangan dengarkan. Ayo cepat, nanti terlambat,”ucap ayah.
Selama perjalanan ke sekolah pikiranku masih terngiang-ngiang dengan sesuatu yang kulihat di sungai tadi. Pertanyanku menumpuk di kepala menanti jawaban. Siapa dia? Kenapa ada orang tega membunuh seperti itu? Apa itu orang jahat? Tapi kenapa ayah tak setuju dengan perkataan pemuda tadi?
“Ayah orang di sungai tadi itu kenapa ya?”
“Kau masih terlalu kecil untuk mngerti. Dia hanyalah seorang tak bersalah yang menjadi korban politik keji,” jawab ayah dengan tersenyum. Khas ayah.
Aku Cuma bisa manggut-manggut mencoba mengerti apa yang dikatakan ayah.
“Nanti ayah jemput ya? Ayah punya kejutan?”
“kejutan apa yah?”
“nanti saja pulang sekolah?”
Bel tanda masuk berbunyi. Dan aku segera masuk ke kelas. Sebelumnya aku cium tangan ayah sebagai baktiku kepada ayah.
Bel pulang sekolah berbunyi. Ayah sudah menungguku di gerbang sekolah. Aku tersadar, ayah sudah tak seperti dulu lagi. Rambutnya mulai memutih karena uban, kulitnya mulai keriput dan menghitam karena berjibaku dengan panasanya matahari setiap hari. Bajunya yang lusuh karena terlalu sering dipakai, dengan handuk kecil menggantung di leher selalu menemani penampilannya setiap hari. Ayahku sudah tua sekrang, batinku dalam hati.
Meskipun aku selalu dijemput dengan becak ayah aku tak pernah malu pada teman-temanku yang dijemput dengan mobil mewah mereka. Aku sudah kebal dengan rasa malu. Toh mereka juga tidak lebih baik dari aku. Aku punya ayah hebat yang selalu mendampingiku. Aku selalau juara kelas dan memperoleh beasiswa. Mungkin inilah yang dinamakan “Allah Maha Adil”. Aku diberikan kelebihan kecerdasan di banding temen-temanku.
Selama perjalanan pulang ayah tak pernah absen menanyakan bagaimana aku di sekolah. Hal pertama yang selalu ayah tanyakan adalah “Bagaimana teman-temanku”. Itu yang selalu ayah tanyakan jika aku pulang sekolah. Karena beliau terlalu kawhatir pada putrinya ini jika kemiskinan ini membuat temen-temanku yang kaya menggangguku. Dan aku selalu berbohong bahwa
“aku baik-baik saja ayah,” “Aku punya banyak teman karena aku anak ayah,”
Kata-kata itu yang selalu kukatakan jika Ayah menanyakannya. Aku tak ingin membuatnya kawatir. Karena jika aku katakan bahwa teman-temanku yang kaya selalu mencibirku karena aku miskin pasti akan membuat hatinya sangat sedih. Dan inilah kelebihanku, diumurku sembilan tahun saat itu aku sudah mampu berpikir dewasa.
Ternyata siang itu ayah mengajaku ke pasar untuk memebelikanku boneka teddy bear yang sudah lama kuinginkan. Senyuman mengembang di bibirku. Benar kan ayah selalu menuruti permintaanku. Meskipun ayahtau kami hidup dengan pas-pasan yang hanya mengandalakan becak ayah tapi tak pernah ku dengar ayah mengeluh. Dia selalu semangat menjalani hidup. Beruntungnya aku memiliki sosok ayah seperti beliau.Selalu sabar dalam membimbingku. Jika aku nakal dia tak pernah menghukumku dengan hukuman fisik. Akan tetapi dia dengan lembut mensehatiku begini „nak, begitu „nak.
Dia juga ayah yang pintar. Setiap ada masalah dengan pelajaran sekolah pastilah ayah tau solusinya.Kadang aku berpikir tak adil jika ayah hanyalah seorang tukang becak. Memang tak ada yang salah dengan tukang becak. Asalkan profesi halal tidak mencuri. Tapi aku yakin ayahku bisa menjadi lebih dari seorang tukang becak. Tapi ayahku selalu menjawab. Profesi ini adalah yang terbaik untuk saat ini. Dan menjawab dengan senyuman. Khas ayah.
Setiap malam ayah selalu bercerita sebagai pengantar tidurku. Dan cerita favoritku adalah seorang cendana yang tamak dan bisa melalukan apa saja untuk mencapai tujuannya. Kemudian ayah selalu memberiku petuah. Bahwa untuk mencapai tujuan kita diperlukan kerja keras tapi tak dibenarkan jika harus mengorbankan orang lain. Pesan moral yang selalu ku ingat sampai sekarang.
Dan siang ini diperjalann menuju pasar ayah menceritaknnya lagi.
“Entah keberapa kali ayah ulangi cerita ini,” jawabku. Dan dia mmbalas dengan senyuman “Ayah cuma tidak ingin besar nanti kamu menjadi orang sperti itu,”
“Tenang saja ayah, aku kan anak ayah,”jawabku dengan senyum.
Ayahku jago menawar. Ku dapatkan boneka teddy keinginaku dengan harga murah. Atau mungkin sang penjualnya kasihan padaku sehingga memberiku harga murah. Kurasa iya, dengan tampangku yang lugu berhasil meluluhkan hati sang pedagang. Dengan ayah tukang becak dan seorang anak SD cukup menarik simpati memang.
Kejutan terindah dari ayah. Kuberi nama boneka itu bonbon. Kenapa bonbon? Itu adalah nama snack yang sangat favorit di era itu. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan pertanyaan ayah “Apa cita-citamu nak?”
Dengan lantang ku jawab “Aku janji akan jadi seorang dokter hebat. Tapi ayah janji akan selali temani aku ya? bisa kan yah?” Janji anak sembilan tahun.
“Tentu saja, ayah akan hidup selama mungkin untuk melihatmu seseorang yang berguna bagi bangsa kita,”
Kami saling adu tos sebagai tanda sepakat. Rumah mungil kami dipenuhi kebahagiaan. Tertawa lepas membicarakan bagaimana aku dan ayah. Berbincang mengenai hal-hal kecil hingga lupa akan waktu. Dan aku tertidur di rung tengah masih mnggunakan seragam SD ku. Entah berapa lama aku terlelap dalam tidurku, aku terjaga dari suara ribut ayah. Tiga orang pria gagah berperawakan tinggi besar memecah keheningan malam itu. Tiba-tiba ayah memelukku erat.
“Aku mohon biarkan kami hidup,” Dan ayah masih memelukku erat dengan tangis. Aku benar-benar tak mengerti apa yang terjadi.
“Ayah kenpa, ayah kenapa?” kalimat itu muncul berkali-kali dari mulutku. Tapi „tak juga aku menemukan jawabannya. Semakin ayah bersikeras tak mau pergi. Semakin keras usaha ketiga lelaki itu untuk membawa ayah.
“Terkutuk kau, terkutuk kau. “
Aku tak mengerti benar-benar tak mngerti. Ayah..ayah...ku panggil ayahku berkali-kali.Tapi ketiga lelaki itu seakin menjadi-jadi memaksa ayah. Mereka menyeret ayahku,
“Riri maapkan ayah. Ayah pasti menjemputmu..pasti.”
“Ayah jangan pergi ayah..ayah.”
Semakin lama ayah menghilang bersama ketiga lelaki itu. Memecah kegelapan malam dan meninggalkan aku sendiri. Aku hanya bisa menangisi kepergian ayahku. Siapa mereka? Kenapa mereka membwa ayahku? Apa kesalahan ayahku? Sampai sekarang aku masih tak menemukan jawabannya.
Beberapa hari lalu seorang pria yang mengaku teman ayah menemuiku. Dia bilang ayahku adalah seorang anggota PKI yang harus dimusnahkan. Jika ayahku benar anggota PKI? Benarkah PKI itu jahat?Dan pertanyaan-pertanyaan itu menyiksa kepalaku. Jika memang begitu aku percaya bahwa ayahku bukan orang jahat. Dipikiranku saat ini hanya ada ayah. Aku sangat merindukan ayahku. Namun aku harus tetap bertahan untuk ayahku dan untuk kebenaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar