Kekuasaan yang Agung
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kekuasaan memiliki arti kemampuan orang atau golongan untuk menguasai orang atau golongan lain berdasarkan kewibawaan, wewenang, karisma, atau kekuatan fisik. Tak heran jika dirujuk dari penjelasan tersebut sebagian golongan orang berlomba-lomba untuk meraih kekuasaan.
Ibaratnya kekuasaan adalah emas yang patut diperebutkan dengan segala cara. Entah itu cara halal atau haram. Namun ironisnya orang-orang yang terobsesi dengan kekuasaan lebih memilih jalan pintas untuk meraih kekuasaan tersebut. Mereka lebih memilih cara-cara haram yang menghalalkan segala cara dan gelap mata untuk menacapai kekuasaan. Karena dengan cara ini kekuasaan lebih mungkin untuk dicapai dibanding melalui cara halal atau biasa-biasa saja. Tak peduli dengan resiko dan masalah-masalah yang ditimbulkannya asalkan tujuan mereka tercapai. Menghalalkan cara haram dan mengharamkan cara halal. Begitu dahsyatnya kekuatan kekuasaan bukan?
Orang-orang seperti ini begitu terobsesi untuk jadi nomor satu. Terobsesi untuk ditakuti, dihormati dan juga kekayaan melimpah. Memang kekuasan dan uang ibaratnya adalah dua saudara kembar yang tak mungkin terpisahkan. Dengan memiliki kekuasaan bukan tak mungkin segala sesuatu yang kita inginkan bisa terwujud dengan memanfaatkan jabatan yang kita miliki dan otomatis tentu uang juga akan mengikuti kita. Entah uang itu halal maupun haram asalkan itu mampu membuat mereka senang. Dan dampak terburuk adalah bukan tidak mungkin mereka akan jadi lebih beringas bila sudah menyangkut dengan hal yang namanya uang. Bisa menerkam mangsa meskipun sang mangsa adalah sahabat bahkan kerabat mereka sendiri.
Siapa orang yang tak inginkan kekuasaan?
Tentu sebagian besar orang alan menjawab iya. Sudah banyak cerita kita dengar tentang cara-cara licik penguasa untuk meraih kekuasan. Misalnya adalah mantan penguasa orde baru presiden Soeharto yang disebut-sebut menghalalkan cara-cara licik untuk mencapai puncak tertinggi sebagai penguasa bangsa ini. Dia pun juga disebut-sebut menjadi dalang dibalik kekejaman G 30S/PKI yang membantai perwira-perwira tinggi Indonesia pada masa itu. Dalam buku tulisan John Roosa yang berjudul “Dalil pembunuhan Masal” mengungkapkan secara gamblang bagaimana kelicikan-kelicikan skenario dibalik gerakan 30 september itu.
Pada umumnya orang yang memiliki kekuasaan dengan cara haram adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spritual yang tidak seimbang. Sehingga berakibat fatal dan bisa menjemrumuskan mereka ke hal-hal negatif. Mencapai kekuasaan dengan cara haram sama saja mereka tidak percaya diri dengan kemampuan diri mereka sendiri. Padahal dengan cara halal pun kekuasaan bukan tak mungkin masih bisa diraih. Dengan percaya dengan kemampuan diri sendiri yang menyeimbangkan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual.
Cara halal inilah yang mngkin sulit bagi orang-orang yang bertipe ambisius dan memiliki obsesi besar pada kekuasaan namun tidak memiliki kemampuan yang cukup. Alhasil banyak orang yang berkuasa di negeri ini tapi sebenarnya mereka tak layak menjadi penguasa. Asalkan dia punya banyak uang saja dan lihai mengelebui lawan, tiket jabatan sudah ada depan mata. Negeri ini memang layaknya panggung sandiwara para elite penguasa. Begitu banyak orang munafik. Kebanyakan pemimpin Indonesia sekarang hanya memanfaatkan jabatan untuk kepentingan diri sendiri. Mereka melalaikan kewajiban penting sebagai pemimpin untuk mengayomi masyarakat dan mengabdi pada negara. Tapi tujuan mereka hanyalah kekuasaan dan menimbun pundi-pundi rupiah untuk kepentingan diri sendiri.
Contoh nyata yang terjadi sekarang adalah para elite politikus yang duduk di kursi DPR. Satu persatu dari mereka tersandung kasus hukum. Bukan hanya kasus korupsi tapi juga kasus-kasus moral yang menyangkut pribadi elite penguasa. Dari kasus perzinahan hingga kasus asusila seperti perselingkuhan dan menonton video porno ketika sidang berlangsung. Tingkah laku tak pentas memang untuk seorang pemimpin yang harusnya jadi panutan. Padahal jika ingin terpilih untuk duduk di kursi dewan terhormat bukanlah perkara gampang. Banyak seleksi-seleksi yang harus mereka jalani. Bisa dibilang yang duduk di kursi pemerintahan adalah putra-putra terbaik yang di miliki Indonesia. Selain kecerdasan dan kemampuan, dalam pemilu diperlukan dana yang tidak sedikit untuk memenangkan pemilu. Maka dari itu untuk mendapatkan dana besar tidak mungkin bersumber dari dana pribadi sehingga diperlukan sponsor-sponsor untuk mendapatkan sokongan dana.
Nantinya dana itu tentu saja dipergunakan untuk segala tetek bengek yang mendukung pencalonan saat pemilu. Ujung-ujungnya agar bisa lolos di pemilu dibutuhkan pelicin dengan kata lain politik uang memiliki peranan penting disini. Nah alhasil ketika terpilih maka tentu saja pihak-pihak sponsor tersebut tidak membantu secara sukarela. Mereka tentu saja meminta timbal balik atas modal yang mereka tanamkan. Sehingga para calon yang terpilih, di tahun pertama mereka memutar otak untuk mengembalikan dana sponsor yang membantu mereka saat pemilu. Dan di tahun kedua mereka memutar otak lagi untuk mengembalikan modal. Dan di tahun ketiga mereka berurusan dengan KPK.
Memang tak ada yang salah dengan kekuasan. Namun yang patut kita renungkan adalah tujuan utama kita sebelum mencalonkan diri menjadi pemimpin atau penguasa. Tujuan bukan hanya untuk dihormati atau untuk menimbun pundi-pundi rupiah diri sendiri. Melainkan tujuan hidup yang memang mengabdi untuk kepentingan negara. Jika ingin kaya jadilah pengusaha saja bukan menjadi wakil rakyat yang memiliki tugas mengayomi masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar