Pages

Senin, 02 April 2012

Untuk Publik Bukan Republik

Bukan saja untuk hidup terus, tapi untuk mandiri dalam pendirian. Ia tak bisa dibeli dan digertak. Ia selalu sadar ia hidup untuk kepentingan yang lebih besar ketimbang dirinya sendiri:Untuk publik bukan republik: Goenawan Mohamad

       Kita bisa merubah dunia. Kata-kata itu sungguh dalam maknanya. Iya benar saja hidup akan lebih berarti jika bisa bermanfaat untuk orang lain. Bukan untuk kepentingan dan keegoisan diri sendiri. Lahir bukan hanya untuk bergantung tapi untuk kepentingan yang lebih besar. 
       Menurutku kata-kata bijak Goenawan Muhammad memiliki filosofi teramat dalam. Gunawan adalah salah satu orang idealis pendiri media ternama di Indonesia yaitu TEMPO.  Pemikirannya dan perjalanan hidupnya begitu memikat untuk diteladani. Keteguhan dan kerja keras mampu membawanya menjadi tokoh bersejarah yang selalu dikagumi.
      Kata-kata bijak itu sangat berbanding terbalik apabila dibandingkan dengan kepribadian para pemimpin negeri ini.  Di negeri antah berantah ini begitu banyak Pemimpin yang tamak dan culas. Banyak kebijakan yang mereka buat justru menambah kesengsaraan bagi rakyat kecil . Dalih-dalih untuk kepentingan rakyat namun tetap saja kepentingan kelompok mereka sendiri jadi prioritas. NURANI UNTUK PUBLIK!!!! Lihat saja kebijakan yang masih hangat kita perbincangkan adalah isu kenaikan harga BBM. Pasalnya pemerintah akan menaikan harga BBM ditanggal satu april kemarin meskipun kebijakan ini tidak jadi terealisasi. Harga BBM yang semula Rp 4500/liter akan naik menjadi Rp 6000/liter.


       Kebijakan itu seketika menggemparkan Indonesia. Atas dasar apa pemerintah menaikan harga BBM? Defisit? Alasannya pemerintah selalu merugi untuk menutupi harga subsidi BBM yang melambung di pasar Internasional. Lantas atas dasar apa kita mengikuti harga pasar internasional? Toh, kita memiliki hasil minyak sendiri. Kita tak perlu repot-repot untuk menyamakan harga BBM dengan NYMEX. Yah kecuali pemerintah menginginkan keuntungan yang berlipat-lipat demi kepentingan perut mereka sendiri. Jika sudah begini rakyat kecil lah yang menjadi korban keegoisan mereka.

Nurani Kami
        Malam itu sekitar pukul 21.00 (30/3) aku beserta kawan-kawan HIMMAH (lembaga Pers mahsiswa di kampusku) bergerak menuju  Jl. Solo untuk liputan demonstrasi. Malam itu kami mendapat kabar bahwa demonstrasi di jalan depan Kampus Universitas Islam Negeri Kalijaga (UIN SUKA) semakin memanas. Kami berdelapan dengan empat motor segera menuju ke lokasi. Mulanya aku ragu untuk ikut bergabung dengan kawan-kawan karena terhambat tugas  kampus  yang tak pernah mengerti situasi kondisi. Penghambat Gerakan Revolusioner memang. Namun akhirnya kami sepakat untuk lebih mementingkan nurani ketimbang urusan struktural. Tujuan kami hanyalah satu untuk publikasi dan nurani.  Memang kami berada di pihak netral karena fungsi kami disini adalah sebagai media publik :) .
       Malam itu masa dari berbagai universitas tumpah ruah di jalanan UIN SUKA. Namun tak terlihat situasi genting disini. “Alhamdulilah,” syukurku malam itu karena mahasiswa di Yogyakarta lebih mengedepankan damai ketimbang emosi. Para demonstran duduk berkelompok berpenerangan lampu jalan. Tak ada kendaraan lalu lalang karena memang jalan menuju akses ini telah ditutup.  Polisi nampak berjaga-jaga siap siaga apabila terjadi hal yang tidak diinginkan. Meskipun begitu suasana tetap lengang. Namun masih bisa kita dengar orasi-orasi kecil di tengah ratusan pemuda itu. Koor lapangan masih bersemangat mendengung dengungkan aspirasi rakyat meskipun suaranya perlahan-lahan pelan. Raut muka semangat masih terlihat di wajah mereka. Para mahasiswa ini telah sejak siang tadi berorasi, sekitar pukul 15.00. Itu sebabnya tenaga mereka terkuras setelah menyampaikan aspirasi rakyat seharian ini.
       Aku menghampiri sekelompok pemuda yang tengah berbincang serius. “Panggil saja imam,”tukasnya. Imam adalah salah satu mahasiswa UIN SUKA yang ikut berorasi hampir sepekan ini. Penampilannya saat itu tak rapi lagi. Bau asam duduk disampingnya mulai tercium di hidungku. Raut muka semrawut, kacau menghiasi wajah-wajah di kelompok pemuda ini. Bukan hanya kelompok imam saja, kelompok pemuda lain pun begitu. Namun senyum ramah masih menyambutku. Dimulai dengan obrolan-obrolan kecil hingga oborolan berat.

“Sampai kapan mau berorasi?” tanyaku.
“Kita masih menunggu hasil sidang paripurna,”jawabnya.
“kalau BBM tetap naik?”
“kita akan chaos (rusuh),” jawab imam yakin.

Memang malam itu tengah berlangsung sidang paripurna DPR RI. Masa disini masih menuggu hasil rapat itu. Radio diperdengarkan dimana-mana. Dari handphone  yang mereka bawa masing-masing. Mereka nampak serius mendengarkan sidang itu. Sesekali bebarengan mereka berseru apabila ada wakil rakyat yang absurd.

 “Begok, perut aja yang dipikir,”seru salah satu pemuda di kelompok itu.

Nampaknya mereka sudah muak melihat tingkah polah para elit berdasi itu. Umpatan-umpatan keluar dari bibir mereka. Mulai dari isi kebun binatang hingga sumpah serapahan mereka ucapkan. Mereka mengaku lelah melihat sandiwara-sandiwara para wakil rakyat yang ‘tak sedikitpun berpihak pada rakyat.

“Pikir saja mbak, di awal sidang mereka rame-rame nentang (kenaikan BBM), sekarang bisa nilai sendiri. Skenario!,”ungkap salah satu pemuda kepadaku. 

Memang kebijakan ini memunculkan berbagai pro kontra. Jika sudah begini yang menjadi korban adalah rakyat kecil. Dampak kenaikan BBm selalu berbanding lurus dengan kenaikan harga di segala aspek. Dan tidak menutup kemungkinan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal juga akan terjadi.
       Sebelumnya aku telah mencari referensi kontoversi kenaikan harga BBM ini. Salah satunya adalah pendapat  kwikkiangie seorang ekonom  Indonesia. Menurut beliau untuk menutupi jebolnya subsidi BBM tak perlu menaikan harga BBM. Beliau beranggapan keuntungan pemerintah dari hasil penjualan BBM mentah kepada pertamina dirasa lebih dari cukup untuk menutupi melambungnya subsidi BBM. Bahkan beliau juga berpendapat keuntungan dari hasil BBM kita bukannya  defisit malahan surplus. Untuk lebih jelasnya bisa dilihatdisini
Pertamina disuruh membeli dari:
Pemerintah
37,7808 milyar liter
dengan harga Rp. 5.944/liter =
Rp. 224,5691tr
Pasar internasional
25,2192 milyar liter
dengan harga Rp. 5.944/liter =
Rp. 149,903 tr
Jumlahnya
63 milyar liter
dengan harga Rp. 5.944/liter =
Rp. 374,4721 tr
Biaya LRT
63 milyar liter @Rp. 566

Rp. 35,658 tr
Jumlah Pengeluaran Pertamina
Rp. 410,13 tr
Hasil Penjualan Pert
63 milyar liter @ Rp. 4.500

Rp. 283,5 tr
PERTAMINA DEFISIT/TEKOR/KEKURANGAN TUNAI
Rp. 126,63 tr.
Tabel di atas menunjukkan bahwa setelah menurut dengan patuh apa saja yang diperintahkan oleh Pemerintah, Pertamina kekurangan uang tunai sebesar Rp. 126,63 trilyun.
Pemerintah menambal defisit tersebut dengan membayar tunai sebesar Rp. 126,63 trilyun yang katanya membuat jebolnya APBN, karena uang ini tidak dimiliki oleh Pemerintah.
Ini jelas bohong di siang hari bolong. Kita lihat baris paling atas dari Tabel denga huruf tebal (bold), bahwa Pemerintah menerima hasil penjualan minyak mentah kepada Pertamina sebesar Rp. 224,569 trilyun. Jumlah penerimaan oleh Pemerintah ini tidak pernah disebut-sebut. Yang ditonjol-tonjolkan hanya tekornya Pertamina sebesar Rp. 126,63 trilyun yang harus ditomboki oleh Pemerintah.
Kalau jumlah penerimaan Pemerintah dari Pertamina ini tidak disembunyikan, maka hasilnya adalah:
• Pemerintah menerima dari Pertamina sejumlah
Rp. 224,569 trilyun
• Pemerintah menomboki tekornya Pertamina sejumlah
(Rp. 126,63 trilyun)
• Per saldo Pemerintah kelebihan uang tunai sejumlah
Rp. 97,939 trilyun

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat disini

        Pukul 23.30, dari arah selatan datang sekawanan pemuda bermotor. Masa bertambah, entah dari mana asalnya yang jelas mereka kelompok pro rakyat. Aku belum sempat menanyakan lebih dalam. Selang beberapa menit kemudian Korlap menyerukan kepada masa untuk berpindah ke bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM). Mengingat sidang paripurna tak kunjung usai dan diperkirakan usai pukul 01.00 nanti.
Saya dan kawan-kawan sepakat untuk kembali ke basecamp Himmah untuk briefing terlebih dahulu untuk liputan selanjutnya. Di Himmah pun tak kalah ramai. Anak-anak saling adu argumen terkait sidang paripurna itu. Rusuh kacau sidang. Beberapa menit sebelum sidang usai terlihat mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang memakai almameter warna kuning diusir paksa petugas gedung DPR setelah meneriaki Marzuki ali selaku pimpinan sidang yang dinilai tak tegas mengatur jalannya sidang. Spontan Himmah ricuh melihat kejadian itu.
        Pukul 01.00 sidang paripurna usai. Benar  yang diucapkan pemuda di kelompok tadi, ini semua skenario. Rapat usai dan diperoleh hasil BBM tak akan naik untuk enam bulan kedepan. Namun diadakan penambahan ayat di pasal 7 ayat 6a yang isinya "Dalam hal harga rata-rata minyak Indonesia (Indonesia Crude Oil Price/ICP) dalam kurun waktu berjalan mengalami kenaikan atau penurunan rata-rata sebesar 15 persen dalam enam bulan terakhir dari harga minyak internasional yang diasumsikan dalam APBN Perubahan Tahun Anggaran 2012, maka pemerintah berwenang untuk melakukan penyesuaian harga BBM bersubsidi dan kebijakan pendukungnya".

Wah sama saja bohong kalau begitu. Dengan lihai mereka mengubah ayat sedemikian rupa untuk membodohi rakyat.  Pantasnya pasal ini disebut dengan pasal siluman atau pasal akal-akalan. Lagi-lagi pemerintah selalu mementingkan kepentingannya sendiri tanpa memperdulikan nasib rakyat kecil. Jika sudah begini siapa orang yang bisa mengayomi rakyat kecil. Percaya pada pemerintah seakan berharap di tengah hari bolong.  Lalu kalau bukan kita siapa lagi? Sekarang dan seterusnya,  mulai dari diri sendiri kita harus selalu mengedepankan nurani sesama. Untuk publik bukan republik 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar