Pages

Selasa, 17 April 2012

Feature: Makna Hidup Mbah Nur

Makna Hidup Mbah Nur

“Justru sapi-sapi ini saya siapkan buat tabungan anak-anak,” ungkapnya tersenyum.
Panasnya terik matahari tak menghalangi niatnya untuk berjalan bermeter-meter dari rumah. Peluh bercucuran membawa beban berat di pundaknya. Derap langkah kakinya melambat setelah melewati tanjakan jalan kecil berbatu. Namun beratnya langkah itu tak nampak sedikitpun dari raut wajahnya yang keriput. Dia masih sempat tersenyum ramah bila berpapasan dengan siapapun.
Bade teng pundi mbah nur?” tanya salah seorang ibu.
Ajeng setor mbak,” jawabnya tersenyum.  
Mbah Nur, itulah panggilan akrabnya di Dusun Boyong, kecamatan pakem harogobinangun, sleman yogyakarta. Pekerjaan mbah sehari-hari adalah beternak sapi perah yang memang menjadi sumber mata pencaharian utama warga Dusun Boyong. Asal mulanya Mbah Nur beternak sapi daging. Namun sejak awal 1990 mbah mulai beralih ke ternak sapi perah karena memang lebih menguntungkan dan sesuai dengan iklim Dusun Boyong yang sejuk terletak di kawasan pegunungan.
Siang itu seperti biasa mbah memikul wadah susu terbuat dari alumunium yang menampung 10 liter susunya.
Niki mboten begitu berat, udah biasa,” jawab mbah dengan senyum.
Sesampainya di koperasi kemudian petugas menghitung literan hasil susunya. Koperasi yang bernama “ Koperasi Sedia Makmur” ini adalah tempat pengumpulan susu warga di RT Mbah Nur. Koperasinya kecil berukuran 5x5 meter. Sepintas tempat ini seperti pos ronda yang biasanya ada di gang-gang kampung. Warna cat putih mendominasi bangunan. Hanya dua tiang kecil di depan teras yang memiliki warna berbeda. Nampaknya dulu tiang itu berwarna biru namun warnanya mulai memudar digantikan dengan warna aslinya yaitu coklat kayu. Genting pun mulanya berwarna coklat telah berubah warna menjadi hijau karena lumut.
Sepintas tak ada yang istimewa dari tempat ini. Akan tetapi bagi masayarakat Dusun Boyong tempatt ini sangat berarti. Tempat inilah yang menjadi tempat mereka untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Dua wadah susu berukuran raksasa dipajang di teras koperasi.Wadah itulah yang menjadi penampung susu-susu warga sebelum nantinya dijual kembali ke berbagai distributor susu. Memang begitulah peraturannya, warga tidak diperbolehkan menjual hasil ternaknya sendiri. Hal ini merupakan kebijakan dari pemerintah untuk mencegah terjadinya variatifnya harga di pasaran dan juga untuk memudahkan pemasaran. Koperasi mengambil sepertiga dari hasil penjualan susu yang kemudian dana itu digunakan untuk membayar cicilan sapi-sapi yang telah dikredit warga. Selain sebagai tempat penyetoran susu, koperasi juga menyedikan berbagai keprluan untuk ternak mereka. Misalnya pakan ternak yang merupakan makanan tambahan ternak selain rumput atau obat-obatan untuk hewan ternak mereka.
Selain mbah, sudah banyak warga lain yang menuggu giliran untuk menyetorkan hasil susunya. Entah enam atau delapan orang yang jelas mereka adalah ibu-ibu perkasa yang memiliki tenaga ekstra. Senyum ramah dan gurauan-gurauan ringan mengisi sela-sela waktu mereka menunggu. Suasana makin akrab, tawa ringan menyegarkan suasana siang yang terik ini. Mbah Nur pun ikut larut dalam tawa lepas.
Setelah menunggu akhirnya tiba giliran mbah dan  petugas mulai menghitung hasil susunya. Setelah ditimbang ternyata hasil susu bukan 10 liter sesuai perkiraan mbah melainkan hanya 8 liter, “Alhamdulilah lumayan,”ungkap mbah penuh syukur meskipun ada sedikit raut wajah kecewa di wajahnya.
Kemudian mbah mengambil pakan ternak dari koperasi dengan sistem hutang yang dibayar jika hasil susunya telah berhasil dijual. Berat karung itu satu kuintal tertera di muka karung. Meskipun berat namun pelan-pelan mbah berusaha memikul karung itu di pundaknya.
“Biasanya jalan gak pelan koyok ngene nduk. Ini gara-gara keseleo belum sembuh,” katanya sembari tersenyum. 
Mbah Nur sudah terbiasa bekerja dengan beban berat semenjak kecil. Hal seperti ini tak masalah baginya. Dia menganggap hal ini masih sangatlah biasa. Setiap pagi Mbah merumput untuk keempat ekor sapinya. Sehingga merumput bisa dilakukannya tiga hingga empat kali setiap pagi.  Jika keadaan tak memungkinkan untuk bekerja berat, putranya paling bungsu akan menggantikan pekerjaannya. Mbah Nur memiliki dua orang putra, yang pertama telah berkeluarga dan tinggal masih di wilayah Dusun Boyong. Sedangkan putranya yang kedua pengangguran dan bekerja apabila ada panggilan untuk kuli bangunan saja.
Mbah Nur tahu bahwa beban anak-anaknya juga tak kalah berat sehingga dia tidak mau menambah beban hidup anak-anaknya. Sebisa mungkin di usianya yang menginjak usia 60 tahun ini dia tidak mau hidup bergantung pada kedua anakanya.
“Justru sapi-sapi ini saya siapkan buat tabungan anak-anak,” ungkapnya tersenyum.
Dia kembali melanjutkan perjalanan. Pelan, kondisi kaki kanan Mbah Nur dalam keadaan tidak stabil. Setelah ± 15 menit perjalanan tibalah mbah di “istananya”. Beban berat makanan sapi yang sudah dia rengkuh beberapa menit tak mampu ditahannya lagi. Tergopoh-gopoh sampai di teras rumah mbah memanggil-manggil nama anaknya.
“Nang, nang,” dipanggilnya berkali-kali.
Pintu dibuka lelaki setengah baya dengan sigap menolong mbah. Disusul sambutan sang istri yang tersenyum menyambut kedatangan mbah.
Rumah itu bergaya joglo jawa sederhana. Lantai masih beralaskan tanah. Ruangan terdiri dari dua bagian yakni pendapa dan dalam. Bagian pendapa rumah mbah dibiarkan ruangan luas tanpa sekat. Ruang inilah yang dijadikan mbah sebagai ruang santai keluarga.
Melepas lelah, mbah duduk di bibir lincak. Dikuti dengan mbah putri yang ikut duduk sebelah mbah setelah menyiapkan teh sebagai pelepas dahaga. Ingatan mbah kemudian mengawang-ngawang di tragedi satu tahun silam. Dimana dulu dia dan sekeluarga  beradu nyawa dengan alam. Menurut mbah itulah kejadian maha dahsyat yang pertama dia alami.
“Sampai umur setua ini, baru itu saya ngerti kejadian itu nduk,”
Dusun Mbah Nur terbilang rawan bencana merapi. Sekitar 5 km dari puncak merapi. Sehingga Dusun Boyong ini mendapat peringatan awas sejak dini dan warga desa diharuskan untuk mengungsi demi keselamatan. Sebelum mbah mengungsi memang hujan abu hampir setiap hari mengguyur Dusun Boyong. Malam tanggal 5 November mbah mengungsi dan hanya mampu membawa barang-barang seadanya. Warga desa lainnya pun begitu, sapi dan hewan ternak lainnya yang sebagai penghidupan utama mereka dibiarkan saja di kandang. Karena memang situasi yang tak mendukung saat itu. Hal yang dipikirkan mbah saat itu hanyalah keselamatan dia dan keluaraga. Abu telah menghujani dusun. Dia dan keluarga lari menaiki truk yang telah disipkan pemerintah.
“Yang penting nyawa nduk,” tandasnya.
Meskipun begitu di pengungsian Mbah Nur masih memikirkan nasib sapi-sapinya. Dia merasa kasihan karena meskipun hanya sebagai hewan ternak, sapi-sapinyalah menjadi sumber penghidupan dia dan keluarganya.
“Akhirnya mbah harus main kucing-kucingan (istilah mbah untuk sembunyi-sembunyi) dengan polisi,”
            Mbah harus sembunyi-sembunyi merumput untuk memberi makan sapi-sapinya. Uang transportasi untuk memebli bensin motor yang mbah gunakan untuk kembali ke rumah nyaris tidak ada. Karena memang keuangan mbah sangatlah pas-pasan sehingga untuk memperoleh uang saat itu mbah menjual kelapa yang dia peroleh dari bantuan warga.
Setahun lebih telah berlalu bencana merapi. Menurut mbah itu adalah bencana maha dahsyat yang memiliki segudang pelajaran baginya. Karena bencana itu mbah lebih mendekatkan diri dengan pencipta alam semesta untuk lebih memaknai hidup.

cerpen:Kebenaran Ayah

        Rumah kami memang sangat kecil hanya berukuran 10x10 meter. Itupun sudah termasuk dapur dan satu kamar tidur. Dan kamar satu-satunya itu di fungsikan sebgai kamar pribadiku. Sedangkan ayah mengalah tidur di ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang keluarga kami. Untuk kamar mandi kami masih memanfaatkan kamar mandi umum yang harus berbagi dengan tetangga kami.
Dirumah sederhana ini kami hanya hidup berdua. Aku dan ayah saja. Saudara? Apa itu? Sejak lahir aku tak pernah mendengarnya. Ibu? Aih,apa lagi itu. Aku „tak punya saudara bahkan ibu. Di dunia ini hanya kami berdua, aku dan ayah. Itu saja. Pernah suatu ketika aku bertanya pada ayah “Ayah kenapa aku tak seperti anak lain yang punya ibu?” tapi ayah selalu menjawab “Ayah juga adalah ibu.”
Oke itu benar memang. Ayah bisa melakukan semuanya. Dia bisa jadi ibu, saudara bahkan temanku. Iya dia ayahku yang paling ku sayang di dunia ini. Entah bagaimana aku tanpanya. Setiap pagi sebelum bekerja pasti dia membuatkanku sarapan telur mata sapi favoritku. Dan segelas susu coklat hangat mengawaliku memulai aktivitas. Meskipun kami miskin ayah tak pernah sekalipun mengabaikan asupan gizi untukku. Dia selalu memberiku yang terbaik semampunya.Segala macam keinginanku pasti dia berusaha memenuhinya. Tentu aku juga tahu diri, yang aku minta selalu sesuai kemampuan ayah. Dia „tak pernah absen untuk menjemputku kesekolah di sela dia menarik becak. Tak pernah ayah terlambat untuk menjemputku.

       Sebelum pindah di rumah ini dulu aku tinggal di rumah lumayan besar. Kami memiliki kelurga kecil yang bahagia. Ada aku,ayah, ibu dan juga kakak. Tapi suatu hari ibu dan kakak perempuanku tiba-tiba menghilang. Saat itu usiaku masih empat tahun. Ayahku hanya bilang ibu dan kakak pasti akan pulang. Dan saat itu aku percaya saja ucapan ayah. Tapi disaat usiaku lima tahun dan aku tak percaya lagi dengan janji ayah. Aku menanyakan kembali dimana ibu dan kakak. Dan ayah menjawab jika ibu dan kakak mengalami kecelakaan dan harus meninggalkan aku dan ayah. Aku Cuma bisa terperanjat tak percaya. Aku hanya bisa diam dan mencoba mengerti apa yang terjadi disaat umurku semuda itu.
Setelah kejadian itu aku dan ayah pindah di rumah ini. Rumah yang sangat sederhana bahkan bisa dibilang jauh dari kata layak. Namun aku bersyukur di usiaku sebelia itu aku bisa mngerti bagaimana keadaan ayah kala itu. Tanpa perlu menuntut ini itu yang pasti akan menambah beban ayah.

****
Malam itu kulihat Ayah terjaga dari tidur lelapnya. Matanya enggan terlelap lagi meskipun lelah bekerja menarik becak seharian masih meluru tubuhnya. Nampaknya ada suatu hal penting yang dipikirkan ayah. Dikegelapan malam yang hanya bercahayakan lampu neon 5 watt tampak ayah mondar-mondir layaknya memikirkan suatu hal besar yang sulit untuk dipecahkan. Kuperhatikan ayah diam-diam tanpa dia sadari.
Malam itu aku tertidur di ruang tengah beralaskan tikar tidur ayah. Dan aku sedikit terganggu dengan aktivitas ayah yang mondar mandir sehingga membuatku terjaga. Belum sempat ku tanyakan mengapa ayah begitu pintu telah diketuk dari luar. Sesosok pria berperawakan tinggi besar berdiri di muka pintu. Samar-samar kulihat wajah si pria. Berpenampilan rapi dengan jaket kulit hitam, berkumis tebal dan dengan sorot mata tajam melengkapi penampilannya malam itu. Selama umurku sembilan tahun aku belum pernah bertemu dengan sesorang yang menjadi tamu ayah malam itu.
“Akhirnya kau datang juga sobat,” sambut ayah akrab dengan pelukan dan di balas dengan tawa besar yang cukup membuat rasa kantuku hilang karena kaget. Pria tegap itu memiliki badan besar dua kali lipat dibanding ayahku. Karena memang ayahku tipikal orang berperawakan tinggi kurus.

*****
Pagi menjelang saatnya memulai aktivitas. Seperti biasa, setiap pagi ayah membuatkanku sarapan ala ayah. Kemudian ayah akan mengantarku ke sekolah sembari ayah bekerja menarik becaknya. Di tengah perjalanan menuju ke sekolah kami terhambat dengan kerumunan orang di pinggir sungai.
“Anggota PKI..anggota PKI....,” terdengar salah seorang pemuda di tengah kerumunan. Mungkin ada sekita 10 hingga 20 orang bergemrombol di pinggir sungai itu.
“Kamu disini saja, ayah lihat dulu,”pinta Ayah.
Aku tak mengindahkan perkataan ayah. Aku turun dari becak dan juga ingin tahu apa yang terjadi.
“PKI..PKI...” kata salah seorang pemuda lagi.
Di bibir sungai tergelak mayat tanpa kepala yang nampak sudah membeku mungkin karena telah mengapung beberapa hari di sungai itu. Badannya masih utuh dengan celana hitam dan kaos polos berwarna putih. Tubuhnya masih utuh kecuali kepalanya yang terpisah entah kemana. Aku Cuma takjub melihat pemandangan di depanku itu. Segera ayah meraihku dan menutup mataku cepat. Tapi terlambat, aku sudah melihat pemandangan mengerikan yang baru pertama kali kulihat seumur hidupku.
“Ayah orang itu kenapa begitu?” tanyaku. Belum sempat ayah menjawab pertanyaanku, seorang pemuda di salah satu kerumunan menjawab “itu PKI orang jahat,”
Tak mengindahkan perkataan pemuda itu dengan cepat ayah menarikku untuk pergi di kerumunan.
“Jangan dengarkan. Ayo cepat, nanti terlambat,”ucap ayah.
Selama perjalanan ke sekolah pikiranku masih terngiang-ngiang dengan sesuatu yang kulihat di sungai tadi. Pertanyanku menumpuk di kepala menanti jawaban. Siapa dia? Kenapa ada orang tega membunuh seperti itu? Apa itu orang jahat? Tapi kenapa ayah tak setuju dengan perkataan pemuda tadi?
“Ayah orang di sungai tadi itu kenapa ya?”
“Kau masih terlalu kecil untuk mngerti. Dia hanyalah seorang tak bersalah yang menjadi korban politik keji,” jawab ayah dengan tersenyum. Khas ayah.
Aku Cuma bisa manggut-manggut mencoba mengerti apa yang dikatakan ayah.
“Nanti ayah jemput ya? Ayah punya kejutan?”
“kejutan apa yah?”
“nanti saja pulang sekolah?”
Bel tanda masuk berbunyi. Dan aku segera masuk ke kelas. Sebelumnya aku cium tangan ayah sebagai baktiku kepada ayah.
Bel pulang sekolah berbunyi. Ayah sudah menungguku di gerbang sekolah. Aku tersadar, ayah sudah tak seperti dulu lagi. Rambutnya mulai memutih karena uban, kulitnya mulai keriput dan menghitam karena berjibaku dengan panasanya matahari setiap hari. Bajunya yang lusuh karena terlalu sering dipakai, dengan handuk kecil menggantung di leher selalu menemani penampilannya setiap hari. Ayahku sudah tua sekrang, batinku dalam hati.
Meskipun aku selalu dijemput dengan becak ayah aku tak pernah malu pada teman-temanku yang dijemput dengan mobil mewah mereka. Aku sudah kebal dengan rasa malu. Toh mereka juga tidak lebih baik dari aku. Aku punya ayah hebat yang selalu mendampingiku. Aku selalau juara kelas dan memperoleh beasiswa. Mungkin inilah yang dinamakan “Allah Maha Adil”. Aku diberikan kelebihan kecerdasan di banding temen-temanku.
Selama perjalanan pulang ayah tak pernah absen menanyakan bagaimana aku di sekolah. Hal pertama yang selalu ayah tanyakan adalah “Bagaimana teman-temanku”. Itu yang selalu ayah tanyakan jika aku pulang sekolah. Karena beliau terlalu kawhatir pada putrinya ini jika kemiskinan ini membuat temen-temanku yang kaya menggangguku. Dan aku selalu berbohong bahwa
“aku baik-baik saja ayah,” “Aku punya banyak teman karena aku anak ayah,”
Kata-kata itu yang selalu kukatakan jika Ayah menanyakannya. Aku tak ingin membuatnya kawatir. Karena jika aku katakan bahwa teman-temanku yang kaya selalu mencibirku karena aku miskin pasti akan membuat hatinya sangat sedih. Dan inilah kelebihanku, diumurku sembilan tahun saat itu aku sudah mampu berpikir dewasa.
Ternyata siang itu ayah mengajaku ke pasar untuk memebelikanku boneka teddy bear yang sudah lama kuinginkan. Senyuman mengembang di bibirku. Benar kan ayah selalu menuruti permintaanku. Meskipun ayahtau kami hidup dengan pas-pasan yang hanya mengandalakan becak ayah tapi tak pernah ku dengar ayah mengeluh. Dia selalu semangat menjalani hidup. Beruntungnya aku memiliki sosok ayah seperti beliau.Selalu sabar dalam membimbingku. Jika aku nakal dia tak pernah menghukumku dengan hukuman fisik. Akan tetapi dia dengan lembut mensehatiku begini „nak, begitu „nak.
Dia juga ayah yang pintar. Setiap ada masalah dengan pelajaran sekolah pastilah ayah tau solusinya.Kadang aku berpikir tak adil jika ayah hanyalah seorang tukang becak. Memang tak ada yang salah dengan tukang becak. Asalkan profesi halal tidak mencuri. Tapi aku yakin ayahku bisa menjadi lebih dari seorang tukang becak. Tapi ayahku selalu menjawab. Profesi ini adalah yang terbaik untuk saat ini. Dan menjawab dengan senyuman. Khas ayah.
Setiap malam ayah selalu bercerita sebagai pengantar tidurku. Dan cerita favoritku adalah seorang cendana yang tamak dan bisa melalukan apa saja untuk mencapai tujuannya. Kemudian ayah selalu memberiku petuah. Bahwa untuk mencapai tujuan kita diperlukan kerja keras tapi tak dibenarkan jika harus mengorbankan orang lain. Pesan moral yang selalu ku ingat sampai sekarang.
Dan siang ini diperjalann menuju pasar ayah menceritaknnya lagi.
“Entah keberapa kali ayah ulangi cerita ini,” jawabku. Dan dia mmbalas dengan senyuman “Ayah cuma tidak ingin besar nanti kamu menjadi orang sperti itu,”
“Tenang saja ayah, aku kan anak ayah,”jawabku dengan senyum.
Ayahku jago menawar. Ku dapatkan boneka teddy keinginaku dengan harga murah. Atau mungkin sang penjualnya kasihan padaku sehingga memberiku harga murah. Kurasa iya, dengan tampangku yang lugu berhasil meluluhkan hati sang pedagang. Dengan ayah tukang becak dan seorang anak SD cukup menarik simpati memang.
Kejutan terindah dari ayah. Kuberi nama boneka itu bonbon. Kenapa bonbon? Itu adalah nama snack yang sangat favorit di era itu. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan pertanyaan ayah “Apa cita-citamu nak?”
Dengan lantang ku jawab “Aku janji akan jadi seorang dokter hebat. Tapi ayah janji akan selali temani aku ya? bisa kan yah?” Janji anak sembilan tahun.
“Tentu saja, ayah akan hidup selama mungkin untuk melihatmu seseorang yang berguna bagi bangsa kita,”
Kami saling adu tos sebagai tanda sepakat. Rumah mungil kami dipenuhi kebahagiaan. Tertawa lepas membicarakan bagaimana aku dan ayah. Berbincang mengenai hal-hal kecil hingga lupa akan waktu. Dan aku tertidur di rung tengah masih mnggunakan seragam SD ku. Entah berapa lama aku terlelap dalam tidurku, aku terjaga dari suara ribut ayah. Tiga orang pria gagah berperawakan tinggi besar memecah keheningan malam itu. Tiba-tiba ayah memelukku erat.
“Aku mohon biarkan kami hidup,” Dan ayah masih memelukku erat dengan tangis. Aku benar-benar tak mengerti apa yang terjadi.
“Ayah kenpa, ayah kenapa?” kalimat itu muncul berkali-kali dari mulutku. Tapi „tak juga aku menemukan jawabannya. Semakin ayah bersikeras tak mau pergi. Semakin keras usaha ketiga lelaki itu untuk membawa ayah.
“Terkutuk kau, terkutuk kau. “
Aku tak mengerti benar-benar tak mngerti. Ayah..ayah...ku panggil ayahku berkali-kali.Tapi ketiga lelaki itu seakin menjadi-jadi memaksa ayah. Mereka menyeret ayahku,
“Riri maapkan ayah. Ayah pasti menjemputmu..pasti.”
“Ayah jangan pergi ayah..ayah.”
Semakin lama ayah menghilang bersama ketiga lelaki itu. Memecah kegelapan malam dan meninggalkan aku sendiri. Aku hanya bisa menangisi kepergian ayahku. Siapa mereka? Kenapa mereka membwa ayahku? Apa kesalahan ayahku? Sampai sekarang aku masih tak menemukan jawabannya.
Beberapa hari lalu seorang pria yang mengaku teman ayah menemuiku. Dia bilang ayahku adalah seorang anggota PKI yang harus dimusnahkan. Jika ayahku benar anggota PKI? Benarkah PKI itu jahat?Dan pertanyaan-pertanyaan itu menyiksa kepalaku. Jika memang begitu aku percaya bahwa ayahku bukan orang jahat. Dipikiranku saat ini hanya ada ayah. Aku sangat merindukan ayahku. Namun aku harus tetap bertahan untuk ayahku dan untuk kebenaran.

Kekuasaan yang Agung


Kekuasaan yang Agung
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kekuasaan memiliki arti kemampuan orang atau golongan untuk menguasai orang atau golongan lain berdasarkan kewibawaan, wewenang, karisma, atau kekuatan fisik. Tak heran jika dirujuk dari penjelasan tersebut sebagian golongan orang berlomba-lomba untuk meraih kekuasaan.
Ibaratnya kekuasaan adalah emas yang patut diperebutkan dengan segala cara. Entah itu cara halal atau haram. Namun ironisnya orang-orang yang terobsesi dengan kekuasaan lebih memilih jalan pintas untuk meraih kekuasaan tersebut. Mereka lebih memilih cara-cara haram yang menghalalkan segala cara dan gelap mata untuk menacapai kekuasaan. Karena dengan cara ini kekuasaan lebih mungkin untuk dicapai dibanding melalui cara halal atau biasa-biasa saja. Tak peduli dengan resiko dan masalah-masalah yang ditimbulkannya asalkan tujuan mereka tercapai. Menghalalkan cara haram dan mengharamkan cara halal. Begitu dahsyatnya kekuatan kekuasaan bukan?
Orang-orang seperti ini begitu terobsesi untuk jadi nomor satu. Terobsesi untuk ditakuti, dihormati dan juga kekayaan melimpah. Memang kekuasan dan uang ibaratnya adalah dua saudara kembar yang tak mungkin terpisahkan. Dengan memiliki kekuasaan bukan tak mungkin segala sesuatu yang kita inginkan bisa terwujud dengan memanfaatkan jabatan yang kita miliki dan otomatis tentu uang juga akan mengikuti kita. Entah uang itu halal maupun haram asalkan itu mampu membuat mereka senang. Dan dampak terburuk adalah bukan tidak mungkin mereka akan jadi lebih beringas bila sudah menyangkut dengan hal yang namanya uang. Bisa menerkam mangsa meskipun sang mangsa adalah sahabat bahkan kerabat mereka sendiri.  

Siapa orang yang tak inginkan kekuasaan?
Tentu sebagian besar orang alan menjawab iya. Sudah banyak cerita kita dengar tentang cara-cara licik penguasa untuk meraih kekuasan. Misalnya adalah mantan penguasa orde baru presiden Soeharto yang disebut-sebut menghalalkan cara-cara licik untuk mencapai puncak tertinggi sebagai penguasa bangsa ini. Dia pun juga disebut-sebut menjadi dalang dibalik kekejaman G 30S/PKI yang membantai perwira-perwira tinggi Indonesia pada masa itu. Dalam buku tulisan John Roosa yang berjudul “Dalil pembunuhan Masal” mengungkapkan secara gamblang bagaimana kelicikan-kelicikan skenario dibalik gerakan 30 september itu.
Pada umumnya orang yang memiliki kekuasaan dengan cara haram adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spritual yang tidak seimbang. Sehingga  berakibat fatal dan bisa menjemrumuskan mereka ke hal-hal negatif. Mencapai kekuasaan dengan cara haram sama saja mereka tidak percaya diri dengan kemampuan diri mereka sendiri. Padahal dengan cara halal pun kekuasaan bukan tak mungkin masih bisa diraih. Dengan percaya dengan kemampuan diri sendiri yang menyeimbangkan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual.
Cara halal inilah yang mngkin sulit bagi orang-orang yang bertipe ambisius dan memiliki obsesi besar pada kekuasaan namun tidak memiliki kemampuan yang cukup. Alhasil banyak orang yang berkuasa di negeri ini tapi sebenarnya mereka tak layak menjadi penguasa. Asalkan dia punya banyak uang saja dan lihai mengelebui lawan, tiket jabatan sudah ada depan mata.  Negeri ini memang layaknya panggung sandiwara para elite penguasa. Begitu banyak orang munafik. Kebanyakan pemimpin Indonesia sekarang hanya memanfaatkan jabatan untuk kepentingan diri sendiri. Mereka melalaikan kewajiban penting sebagai pemimpin untuk mengayomi masyarakat dan mengabdi pada negara. Tapi tujuan mereka hanyalah kekuasaan dan menimbun pundi-pundi rupiah untuk kepentingan diri sendiri.
Contoh  nyata yang terjadi sekarang adalah para elite politikus yang duduk di kursi DPR. Satu persatu dari mereka tersandung kasus hukum. Bukan hanya kasus korupsi tapi juga kasus-kasus moral yang menyangkut pribadi elite penguasa. Dari kasus perzinahan hingga kasus asusila seperti perselingkuhan dan menonton video porno ketika sidang berlangsung. Tingkah laku tak pentas memang untuk seorang pemimpin yang harusnya jadi panutan. Padahal jika ingin terpilih untuk duduk di kursi dewan terhormat bukanlah perkara gampang. Banyak seleksi-seleksi yang harus mereka jalani. Bisa dibilang yang duduk di kursi pemerintahan adalah putra-putra terbaik yang di miliki Indonesia. Selain kecerdasan dan kemampuan, dalam pemilu diperlukan dana yang tidak sedikit untuk memenangkan pemilu.  Maka dari itu untuk mendapatkan dana besar tidak mungkin bersumber dari dana pribadi sehingga diperlukan sponsor-sponsor untuk mendapatkan sokongan dana.
Nantinya dana itu tentu saja dipergunakan untuk segala tetek bengek yang mendukung pencalonan saat pemilu. Ujung-ujungnya agar bisa lolos di pemilu dibutuhkan pelicin dengan kata lain politik uang memiliki peranan penting disini. Nah alhasil ketika terpilih maka tentu saja pihak-pihak sponsor tersebut tidak membantu secara sukarela. Mereka tentu saja meminta timbal balik atas modal yang mereka tanamkan. Sehingga para calon yang terpilih, di tahun pertama mereka memutar otak untuk mengembalikan dana sponsor yang membantu mereka saat pemilu. Dan di tahun kedua mereka memutar otak lagi untuk mengembalikan modal. Dan di tahun ketiga mereka berurusan dengan KPK.
Memang tak ada yang salah dengan kekuasan. Namun yang patut kita renungkan adalah tujuan utama kita sebelum mencalonkan diri menjadi pemimpin atau penguasa. Tujuan bukan hanya untuk dihormati atau untuk menimbun pundi-pundi rupiah diri sendiri. Melainkan tujuan hidup yang memang mengabdi untuk kepentingan negara. Jika ingin kaya jadilah pengusaha saja bukan menjadi wakil rakyat yang memiliki tugas mengayomi masyarakat.

Senin, 02 April 2012

Untuk Publik Bukan Republik

Bukan saja untuk hidup terus, tapi untuk mandiri dalam pendirian. Ia tak bisa dibeli dan digertak. Ia selalu sadar ia hidup untuk kepentingan yang lebih besar ketimbang dirinya sendiri:Untuk publik bukan republik: Goenawan Mohamad

       Kita bisa merubah dunia. Kata-kata itu sungguh dalam maknanya. Iya benar saja hidup akan lebih berarti jika bisa bermanfaat untuk orang lain. Bukan untuk kepentingan dan keegoisan diri sendiri. Lahir bukan hanya untuk bergantung tapi untuk kepentingan yang lebih besar. 
       Menurutku kata-kata bijak Goenawan Muhammad memiliki filosofi teramat dalam. Gunawan adalah salah satu orang idealis pendiri media ternama di Indonesia yaitu TEMPO.  Pemikirannya dan perjalanan hidupnya begitu memikat untuk diteladani. Keteguhan dan kerja keras mampu membawanya menjadi tokoh bersejarah yang selalu dikagumi.
      Kata-kata bijak itu sangat berbanding terbalik apabila dibandingkan dengan kepribadian para pemimpin negeri ini.  Di negeri antah berantah ini begitu banyak Pemimpin yang tamak dan culas. Banyak kebijakan yang mereka buat justru menambah kesengsaraan bagi rakyat kecil . Dalih-dalih untuk kepentingan rakyat namun tetap saja kepentingan kelompok mereka sendiri jadi prioritas. NURANI UNTUK PUBLIK!!!! Lihat saja kebijakan yang masih hangat kita perbincangkan adalah isu kenaikan harga BBM. Pasalnya pemerintah akan menaikan harga BBM ditanggal satu april kemarin meskipun kebijakan ini tidak jadi terealisasi. Harga BBM yang semula Rp 4500/liter akan naik menjadi Rp 6000/liter.


       Kebijakan itu seketika menggemparkan Indonesia. Atas dasar apa pemerintah menaikan harga BBM? Defisit? Alasannya pemerintah selalu merugi untuk menutupi harga subsidi BBM yang melambung di pasar Internasional. Lantas atas dasar apa kita mengikuti harga pasar internasional? Toh, kita memiliki hasil minyak sendiri. Kita tak perlu repot-repot untuk menyamakan harga BBM dengan NYMEX. Yah kecuali pemerintah menginginkan keuntungan yang berlipat-lipat demi kepentingan perut mereka sendiri. Jika sudah begini rakyat kecil lah yang menjadi korban keegoisan mereka.

Nurani Kami
        Malam itu sekitar pukul 21.00 (30/3) aku beserta kawan-kawan HIMMAH (lembaga Pers mahsiswa di kampusku) bergerak menuju  Jl. Solo untuk liputan demonstrasi. Malam itu kami mendapat kabar bahwa demonstrasi di jalan depan Kampus Universitas Islam Negeri Kalijaga (UIN SUKA) semakin memanas. Kami berdelapan dengan empat motor segera menuju ke lokasi. Mulanya aku ragu untuk ikut bergabung dengan kawan-kawan karena terhambat tugas  kampus  yang tak pernah mengerti situasi kondisi. Penghambat Gerakan Revolusioner memang. Namun akhirnya kami sepakat untuk lebih mementingkan nurani ketimbang urusan struktural. Tujuan kami hanyalah satu untuk publikasi dan nurani.  Memang kami berada di pihak netral karena fungsi kami disini adalah sebagai media publik :) .
       Malam itu masa dari berbagai universitas tumpah ruah di jalanan UIN SUKA. Namun tak terlihat situasi genting disini. “Alhamdulilah,” syukurku malam itu karena mahasiswa di Yogyakarta lebih mengedepankan damai ketimbang emosi. Para demonstran duduk berkelompok berpenerangan lampu jalan. Tak ada kendaraan lalu lalang karena memang jalan menuju akses ini telah ditutup.  Polisi nampak berjaga-jaga siap siaga apabila terjadi hal yang tidak diinginkan. Meskipun begitu suasana tetap lengang. Namun masih bisa kita dengar orasi-orasi kecil di tengah ratusan pemuda itu. Koor lapangan masih bersemangat mendengung dengungkan aspirasi rakyat meskipun suaranya perlahan-lahan pelan. Raut muka semangat masih terlihat di wajah mereka. Para mahasiswa ini telah sejak siang tadi berorasi, sekitar pukul 15.00. Itu sebabnya tenaga mereka terkuras setelah menyampaikan aspirasi rakyat seharian ini.
       Aku menghampiri sekelompok pemuda yang tengah berbincang serius. “Panggil saja imam,”tukasnya. Imam adalah salah satu mahasiswa UIN SUKA yang ikut berorasi hampir sepekan ini. Penampilannya saat itu tak rapi lagi. Bau asam duduk disampingnya mulai tercium di hidungku. Raut muka semrawut, kacau menghiasi wajah-wajah di kelompok pemuda ini. Bukan hanya kelompok imam saja, kelompok pemuda lain pun begitu. Namun senyum ramah masih menyambutku. Dimulai dengan obrolan-obrolan kecil hingga oborolan berat.

“Sampai kapan mau berorasi?” tanyaku.
“Kita masih menunggu hasil sidang paripurna,”jawabnya.
“kalau BBM tetap naik?”
“kita akan chaos (rusuh),” jawab imam yakin.

Memang malam itu tengah berlangsung sidang paripurna DPR RI. Masa disini masih menuggu hasil rapat itu. Radio diperdengarkan dimana-mana. Dari handphone  yang mereka bawa masing-masing. Mereka nampak serius mendengarkan sidang itu. Sesekali bebarengan mereka berseru apabila ada wakil rakyat yang absurd.

 “Begok, perut aja yang dipikir,”seru salah satu pemuda di kelompok itu.

Nampaknya mereka sudah muak melihat tingkah polah para elit berdasi itu. Umpatan-umpatan keluar dari bibir mereka. Mulai dari isi kebun binatang hingga sumpah serapahan mereka ucapkan. Mereka mengaku lelah melihat sandiwara-sandiwara para wakil rakyat yang ‘tak sedikitpun berpihak pada rakyat.

“Pikir saja mbak, di awal sidang mereka rame-rame nentang (kenaikan BBM), sekarang bisa nilai sendiri. Skenario!,”ungkap salah satu pemuda kepadaku. 

Memang kebijakan ini memunculkan berbagai pro kontra. Jika sudah begini yang menjadi korban adalah rakyat kecil. Dampak kenaikan BBm selalu berbanding lurus dengan kenaikan harga di segala aspek. Dan tidak menutup kemungkinan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal juga akan terjadi.
       Sebelumnya aku telah mencari referensi kontoversi kenaikan harga BBM ini. Salah satunya adalah pendapat  kwikkiangie seorang ekonom  Indonesia. Menurut beliau untuk menutupi jebolnya subsidi BBM tak perlu menaikan harga BBM. Beliau beranggapan keuntungan pemerintah dari hasil penjualan BBM mentah kepada pertamina dirasa lebih dari cukup untuk menutupi melambungnya subsidi BBM. Bahkan beliau juga berpendapat keuntungan dari hasil BBM kita bukannya  defisit malahan surplus. Untuk lebih jelasnya bisa dilihatdisini
Pertamina disuruh membeli dari:
Pemerintah
37,7808 milyar liter
dengan harga Rp. 5.944/liter =
Rp. 224,5691tr
Pasar internasional
25,2192 milyar liter
dengan harga Rp. 5.944/liter =
Rp. 149,903 tr
Jumlahnya
63 milyar liter
dengan harga Rp. 5.944/liter =
Rp. 374,4721 tr
Biaya LRT
63 milyar liter @Rp. 566

Rp. 35,658 tr
Jumlah Pengeluaran Pertamina
Rp. 410,13 tr
Hasil Penjualan Pert
63 milyar liter @ Rp. 4.500

Rp. 283,5 tr
PERTAMINA DEFISIT/TEKOR/KEKURANGAN TUNAI
Rp. 126,63 tr.
Tabel di atas menunjukkan bahwa setelah menurut dengan patuh apa saja yang diperintahkan oleh Pemerintah, Pertamina kekurangan uang tunai sebesar Rp. 126,63 trilyun.
Pemerintah menambal defisit tersebut dengan membayar tunai sebesar Rp. 126,63 trilyun yang katanya membuat jebolnya APBN, karena uang ini tidak dimiliki oleh Pemerintah.
Ini jelas bohong di siang hari bolong. Kita lihat baris paling atas dari Tabel denga huruf tebal (bold), bahwa Pemerintah menerima hasil penjualan minyak mentah kepada Pertamina sebesar Rp. 224,569 trilyun. Jumlah penerimaan oleh Pemerintah ini tidak pernah disebut-sebut. Yang ditonjol-tonjolkan hanya tekornya Pertamina sebesar Rp. 126,63 trilyun yang harus ditomboki oleh Pemerintah.
Kalau jumlah penerimaan Pemerintah dari Pertamina ini tidak disembunyikan, maka hasilnya adalah:
• Pemerintah menerima dari Pertamina sejumlah
Rp. 224,569 trilyun
• Pemerintah menomboki tekornya Pertamina sejumlah
(Rp. 126,63 trilyun)
• Per saldo Pemerintah kelebihan uang tunai sejumlah
Rp. 97,939 trilyun

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat disini

        Pukul 23.30, dari arah selatan datang sekawanan pemuda bermotor. Masa bertambah, entah dari mana asalnya yang jelas mereka kelompok pro rakyat. Aku belum sempat menanyakan lebih dalam. Selang beberapa menit kemudian Korlap menyerukan kepada masa untuk berpindah ke bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM). Mengingat sidang paripurna tak kunjung usai dan diperkirakan usai pukul 01.00 nanti.
Saya dan kawan-kawan sepakat untuk kembali ke basecamp Himmah untuk briefing terlebih dahulu untuk liputan selanjutnya. Di Himmah pun tak kalah ramai. Anak-anak saling adu argumen terkait sidang paripurna itu. Rusuh kacau sidang. Beberapa menit sebelum sidang usai terlihat mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang memakai almameter warna kuning diusir paksa petugas gedung DPR setelah meneriaki Marzuki ali selaku pimpinan sidang yang dinilai tak tegas mengatur jalannya sidang. Spontan Himmah ricuh melihat kejadian itu.
        Pukul 01.00 sidang paripurna usai. Benar  yang diucapkan pemuda di kelompok tadi, ini semua skenario. Rapat usai dan diperoleh hasil BBM tak akan naik untuk enam bulan kedepan. Namun diadakan penambahan ayat di pasal 7 ayat 6a yang isinya "Dalam hal harga rata-rata minyak Indonesia (Indonesia Crude Oil Price/ICP) dalam kurun waktu berjalan mengalami kenaikan atau penurunan rata-rata sebesar 15 persen dalam enam bulan terakhir dari harga minyak internasional yang diasumsikan dalam APBN Perubahan Tahun Anggaran 2012, maka pemerintah berwenang untuk melakukan penyesuaian harga BBM bersubsidi dan kebijakan pendukungnya".

Wah sama saja bohong kalau begitu. Dengan lihai mereka mengubah ayat sedemikian rupa untuk membodohi rakyat.  Pantasnya pasal ini disebut dengan pasal siluman atau pasal akal-akalan. Lagi-lagi pemerintah selalu mementingkan kepentingannya sendiri tanpa memperdulikan nasib rakyat kecil. Jika sudah begini siapa orang yang bisa mengayomi rakyat kecil. Percaya pada pemerintah seakan berharap di tengah hari bolong.  Lalu kalau bukan kita siapa lagi? Sekarang dan seterusnya,  mulai dari diri sendiri kita harus selalu mengedepankan nurani sesama. Untuk publik bukan republik 

Selasa, 14 Februari 2012

Ada Apa dengan Cinta?


Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya
Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali ini aku melihat karya surga
dari mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta

Tapi aku pasti akan kembali
dalam satu purnama
untuk mempertanyakan kembali cintanya..

Bukan untuknya, bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu
Itu saja.


NB: Puisi Rangga untuk Cinta d film AADC, :))

Tentang Seseorang

Teruntukmu hatiku,
ingin ku bersuara
Merangkai semua tanya,
imaji yang terlintas
Berjalan pada satu,
tanya selalu menggangguku

Seseorang, itukah dirimu kasih
Kepada yang tercinta,
inginnya ku mengeluh
Semua resah didiri,
mencari jawab pasti

Akankah, seseorang,
yang ku impikan ‘kan hadir
Raut halus,
menyelimuti jantungku

Cinta hanyalah cinta,
hidup dan mati untukmu,
mungkinkah semua tanya,
kau yang jawab
Dan tentang seseorang,
itu pula dirimu,
ku bersumpah akan mencinta

Senin, 06 Februari 2012

Keragaman Imlek di Kota Semarang


Cuma mau share tulisan feature buat pengantar pameran photo dari hasil hunting bareng temen-temen LPM HIMMAH UII ketika imlek di kota Semarang. Meskipun aku sadar tulisanku ini jauh dari yang namanya tulisan feature tapi aku yakin semua butuh proses. Sebelum tulisan ini layak tampil, sebelumnya perlu beberapa proses lagi. Tulisan masuk ke meja redaksi buat di check layak gak. Terus setelah itu masuk ke meja redaktur pelaksana buat finishing. Dan gak menutup kemungkinan tulisan bakal di edit sana-sini dan bakal jadi tulisan bersama,heheheheh. So,semoga tulisan ini bisa dinikmati :).

Keragaman Imlek di Kota Semarang

Oleh Maya I. Cashindayo
Seakan sudah menjadi tradisi bagi kami awak himmah untuk berburu berita maupun sekedar hunting photo ketika hari besar berlangsung. 23 januari lalu merupakan tahun baru imlek bagi etnis tionghoa. Tahun baru 2563 dengan sio naga ini memiliki makna yang dalam bagi etnis tionghoa. Shio naga melambangkan kekuatan, kebaikan, kebenarian dan pendirian teguh. Naga juga merupakan lambang kewaspadaan dan keamanan dari semua makhluk mitologi China dan makhluk yang tertinggi menjadi raja dari semua hewan di alam semesta
Kota Semarang adalah tempat tujuan kami karena Semarang memiliki jumlah etnis tionghoa yang besar. Inilah yang menjadi pertimbangan kami untuk memilih kota semarang. Banyak lokasi wisata yang bisa dikunjungi ketika imlek di semarang. Diantaranya yaitu pasar malam yang berada di daerah pecinan. Atau yang lebih akrab dengan nama Pasar Semawis. Ada juga klenteng terbesar di kota semrang yaitu Klenteng Sam Poo Kong yang memiliki nilai sejarah yang tak ternilai harganya. 

Pasar Semawis
Perjalanan awak himmah dimulai dengan mendatangi  pasar malam Semawis di daerah pecinan semarang. Sekedar informasi, pecinan semarang adalah kawasan tempat tinggal mayoritas etnis tionghoa. Dimana bangunan-bangunan kuno khas china tetap dipertahankan di kawasan ini.
Selama 3 malam mulai tanggal 20 Januari 2012 lalu, keramaian memadati Gang Warung, di kawasan Pecinan Kota Semarang. Pertama kali menginjakan kaki di kawasan pecinan semarang ini ‘tak jauh berbeda dengan kawasan Kota Lama semarang. Karena tetap mempertahankan bangunan tua sebagai ciri khas pesonanya yang memiliki nilai sejarah.

muka amburadul,hunting seharian :)

Kami datang di hari ketiga, cukup larut memang sekitar pukul 22.00 WIB. Karena sebelumnya hujan lebat telah mengguyur Semarang saat itu.”Ah pasti sepi nie pecinan malam ini,” pikir kami. Ternyata dugaan kami salah. Pasar tetap ramai penuh sesak dipenuhi wisatawan untuk memanjakan mata atau sekedar jalan santai.
Di pintu masuk pasar kita sudah diajak merasakan berada di Negeri Tirai Bambu sana. Di sambut dengan lampu lampion kelap-kelip khas tionghoa dan hiasan-hiasan yang di dominasi dengan warna merah. Pertunjukan barongsai  dan pertunjukan mengenai sejarah-sejarah etnis tionghoa berlangsung sepanjang malam. Bahkan etnis tionghoa disana saling berkomunikasi menggunakan bahasa mandarin. Ditambah dengan suasana yang mndukung alhasil kita merasa berada di negeri china sungguhan.
Meskipun mayoritas pengunjung adalah etnis tionghoa namun ada juga masyarakat multietnis juga datang berkunjung. Karena memang pasar semawis ini sebenarnya ditujukan untuk umum bukan hanya untuk etnis tionghoa saja. Disini disajikan wisata belanja, wisata kuliner dan juga berbagai pertunjukan yang tentunya juga bertemakan tentang imlek.
Banyak barang unik ditawarkan disini salah satunya adalah Patung kucing atau dikenal dengan “the lucky cat” yang dipercaya mendatangkan keberuntungan jika ditaruh di tempat usaha sang pemilik toko.  Juga ada Accesoris-accesoris yang terbuat dari batu giok yang etnis tionghoa percaya memiliki khasiat untuk kesehatan mereka. Misalnya menghilangkan peradangan bagian dalam, melepaskan kegelisahan, memeliharan jantung dan paru-paru, membantu suara dan tenggorokan, pelembab rambut, memelihara lima organ internal, menenangkan jiwa, menenangkan pembuluh darah seseorang dan mencerahkan mata dan telinga. Tentu hal ini tergantung kita ingin mempercayainya atau tidak.
Sedangkan wisata kuliner yang ditawarkan salah satunya adalah sate babi, aneka kue seperti kue keranjang dan jajanan asli semarang misalnya lumpia, es puter dan wedang kacang. Makanan khas yogyakarta juga bisa ditemukan disini misalnya gudeg. Namun makanan yang cukup laris disini adalah sate babi.
Selain kuliner yang disebutkan datas, ada satu kuliner yang bernama unik yaitu kue maho. Jangan salah mengartikan ya? Kue maho adalah salah satu kue wajib imlek. Berbentuk seperti kue kukus dan berbahan dasar tepung beras. Kue ini memiliki filosofi yang sama dengan kue keranjang yaitu harapan-harapan manis agar terwujud di tahun depannya.

ini lho kue maho

Selain wisata belanja dan kuliner, hal menarik lainnya adalah ramalan. Disini juga tersedia banyak stand ramalan. Nampaknya yang penasaran dengan peruntungan nasibnya wajib mengunjungi stand ini. Bagaiamana? Menarik bukan?

Klenteng Sam Poo Kong
Adalah klenteng terbesar dan termegah yang ada di Semarang. Cukup membayar Rp 3000,00 rupiah saja perorang kita bisa menikmati wisata sejarah dan budaya ini. Ditilik dari bangunannya memang seratus persen bergaya dan berornamen china dengan dominan warna merah. Komplek Klenteng Sam Poo Kong dibangun di area kurang lebih seluas 3,2 hektar. Terdiri atas sejumlah anjungan yaitu Klenteng Klenteng Besar dan gua Sam Poo Kong, Klenteng thi Tee Kong dan empat tempat pemujaan. Di tengah bangunan klenteng juga terdapat panggung besar untuk pentas ketika perayaan besar berlangsung.
Menurut Rahmat salah seorang pemandu wisata di Klenteng Sam Poo Kong  justru sebagian besar  pengunjung yang datang bukanlah etnis tionghoa. Masyarakat multietnis mendominasi para wisatawan.
“Memang saat ini klenteng Sam poo Kong telah ditetapkan pemerintah sebagai tempat wisata jadi tidak heran jika pengunjung bukan hanya dari etnis tionghoa”tuturnya.
            Mengapa diberi nama Klenteng Sam Poo Kong? Menurut beliau sejarah Sam Poo Kong dimulai ketika seorang laksmana yang beragama muslim yaitu Laksamana Cheng Ho utusan kerajan Cina melakukan kunjungan persahabatan di tahun 1416 dan singgah di Semarang. Tepatnya yaitu di Pantai Simongan dimana sekarang pantai itu telah berubah menjadi daratan sehingga dibangunlah klenteng sam Poo Kong. Dan sekarang nama Simongan telah diabadikan menjadi nama sebuah jalan di depan Klenteng sam Poo Kong. 

panasnya semarang bikin muka jemek :P
Baru 300 tahun kemudian setelah kedatangan sang Laksamana yaitu tepatnya di tahun 1716 dibangunlah Klenteng sam Poo Kong. Klenteng ini dibangun sebagai tanda penghormatan warga semarang kepada Laksamana Cheng Ho selain telah melakukan kunjungan persahabatan juga telah menyebarkan agama islam ditanah semarang karena memang sang Laksamana kala itu beragama islam. Sam Poo Kong sendiri meiliki arti “mbah yang memiliki kekuatan”. Dan sampai sekarang klenteng ini masih terjaga dan terawat kemurniannya.

Klenteng  Tay Kak sie
 Di kawasan pecinan Semarang terdapat banyak sekali klenteng diantaranya yaitu klenteng hoo hok bio, siu hok bio, Kong tik soe, tong pek bio, liong tek hay bio, hok bio, see hoo kong, wie wie kiong, klenteng grajen, dan yang awak Himmah kunjungi adalah Klenteng Tay Kak sie yang merupakan klenteng induk di kota semarang.
Di muka klenteng kita disambut dengan dua buah lilin besar berwarna merah setinggi 600 meter yang dibuat khusus untuk menyambut imlek tahun ini. Menjelang malam pergantian tahun baru imlek, kami awak Himmah memantau kemeriahan imlek di Klenteng Tay Kak Sie ini. Sudah banyak etnis tionghoa yang datang untuk bersembayang meskipun jarum jam belum menunjukan pukul 24.00 WIB. Di halaman klenteng sudah banyak menunggu penderma dan anak-anak untuk meminta angpao yang dibagikan pihak klenteng saat pergantian tahun baru imlek. Angpao adalah amplop merah yang didalamnya berisi uang.
Saya sempat bertanya pada salah seorang ibu penderma yang menunggu pembagian angpao. Menurutnya kebiasan ini memang rutin terjadi ketika tahun baru imlek tiba. Dia mengaku ini adalah tahun keduanya dia meminta angpao di klenteng tay kak sie.
Menanti pukul 24.00 WIB tiba yang berati telah beralihnya shio kelinci ke shio naga, kita disuguhi dengan berbagai macam pertunjukan barongsai. Barongsai merupakan pertunjukan wajib yang harus ada ketika perayaan imlek. Karena barongsai merupakan salah satu kebudayaan peninggalan etnis tionghoa.  Dan mereka percaya bahwa barongsai mampu mengusir aura buruk.
Namun ada yang menarik dipertunjukan barongsai di Klenteng Tay Kak sie ini. Pemain barongsai bukan dari kelompok asli pemain barongsai melainkan para prajurit angkatan darat dari kesatuan batalyon (catetannya gak kubwa,dikos).
Iman salah satu prajurit dari batalyon tersebut mengungkapkan bahwa ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk ikut serta dalam melestarikan budaya tionghoa. Dia mengaku memerlukan latihan selama tiga bulan untuk menguasai semua gerakan liong ini. Nantinya tim batalyon (lupa bawa catetannya) esok harinya juga akan melakukan pertunjukan di Klenteng daerah lain yaitu di Kabupaten Kudus dan Kabupaten Pati.
            Pukul 24.00 WIB tiba, gong di klenteng Tay kak sie telah bergema sebagai tanda pergantian tahun baru imlek. Para pewarta berita termasuk kami awak Himmah yang telah menunggu di halaman klenteng berlari memasuki klenteng Tay Kak Sie untuk berburu photo atau mencari sesuatu yang bisa dijadikan nilai berita. Para etnis Tionghoa bersembahyang untuk pengaharapan di tahun naga meminta pada dewa mereka. Sedangkan kami sibuk berburu gambar untuk dijadikan nilai berita yang mampu bercerita.
            Beberapa menit kemudian setelah pergantian tahun baru imlek, para petugas klenteng mulai sibuk membagikan angpao kepada para penderma. Bahkan anak kecil penderma pun tak mau ketinggalan untuk mendapatkan angpao. Dengan penampilan mereka yang lusuh dan jauh dari kata layak, mereka rela menunggu dari pagi hingga tengah malam hanya sekedar untuk mendapatkan sebuah amplop merah.
Semoga dengan pergantian tahun naga ini semua pengharapan baru bisa tercapai untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Sekian perjalanan awak Himmah di kota banjir Semarang.