Beberapa waktu lalu pemberitaan
yang diangkat HIMMAH kembali menimbulkan kontroversi. Hal seperti ini bukan
kali pertama terjadi. Sebelumnya pun berita yang diangkat tentang “Baku Hantam
Menimbulkan Luka” juga menimbulkan kontroversi. Akan tetapi pihak yang merasa keberataan
dengan pemberitaan KobarKobari tersebut enggan memanfaatkan hak jawab yang telah
HIMMAH berikan.
Bebrapa waktu pula ada seorang yang mengaku mahasiswa
Fakultas Hukum 2012 mengirim sms kepada saya.
“Saya Rochmat mhs FH UII 2012 pengn komentar kpd
kobarkobari, edisi pesta soal stan jual atribut knp Cuma fokus bahs harga pdhl
da jg sampah kertas2 yang kuliat saat jalan kaki dorong spd mtr hri ptma pesta?
Lalu edisi pekta, saya bngung dgn brita baku hntam krn kurang bsa ungkp fakta
pdhl bnyk kutipan tp kyknya kurang di benturkan! Tmn kakak saya yg juga pers
mhs sebut hal tu sbg muckrakcing joornalism hehe. Lalu soal spanduk organ
ekstra yg Qrasa britanya tidak berimbang krn terlalu fokus nyerang HMI pdhl da
PMII, KAMMI L
Trz foto , etis kah liatin aurat (leher)ce pingsan? Edisi 159, g da lg tema
slaen DPM vs LK?”
Dalam menggunakan hak jawab tentunya diperlukan identitas
yang jelas. Karena ketidak jelasan identitas ini akhirnya kami memutuskan untuk
membalasnya lewat sms saja.
“Terima kasih masukannya, kami akan
mengevaluasi. Ada masukan lain? J
Terkait foto
menurut etika jurnalisme yag kami anut, hal itu sah-sah sah saja . Soalnya
foto itu adalah fakta , bukti
keteledoran panitia dalam menyikapi kesehatan peserta Pesta”
Dibalas
kembali:
“Aku kira
etika jurnalisme himmah adalah islami secara uii gtu loh buk hehe
Aih nyari
berita kok yang salah2, lupa caption foto kemren apa haha
Aduh hak
jawab gak dpake”
“Etika yg
kami pke pada akurasi, selalu melihat fakta dans elalu menghamba pada
kebenaran, jika agama dijadikan landasan itu akan membuat jurnalisme kami
subjektif, kami lebih mengarah pada investigasi karena kami adalag media
penyeimbang bg mahasiswa uii. Lah ini kan sudah hak jawab to mas, nuwun”
Kembali kami
melakukan perdebatan lewat pesan singkat tentang organ ekstra alias HMI. Dan di smsnya yang
terakhir dia menyebutkan
“Kebenaran
adlh milik ALLAh swt? Menghamba pada kebenaran ya pake agama krna aturan ALLAH!
Harusnya kalian tuh ya jurnalisme Islami jadi baca Republika selain komapas.”
****
Baru-baru ini pula Farmasi digemparkan dengan
berita “Di balik Jadwal Kuliah Farmasi” berita lengakappnya bisa dilihat disini
Reaksi Anang
Susilo Yudhoyono terkait berita tersebut
Jika kita
cermati, tulisan yang dimuat KobarKobari pekan lalu tidak berfokus tentang pemberitahuan melalui facebook. Melainkan masalah dosen yang sering
mangkir mengajar dan sering mengganti jadwal kuliah.
Kalimat yang menyangkut Facebook dalam berita:
“Jadwal kuliah yang bertabrakan sering membuat
mahasiswa bingung, belum lagi pemebritahuan terkait hal itu disampaikan melalui
media facebook (FB) atau balacberry messnger (BBM)”
Apa mungkin
hanya sekelumit kalimat inilah penyebab facebook Farmasi ditutup? Apa itu
koheren dan beralasan?
Namun
ironinya tanggapan Pak Nanang kemudian ditelan mentah-mentah pada pihak yang
bersangkutan. Terutama Mahsiswa Farmasi itu sendiri. Mereka kemudian membuat
pengadilan judge yang hanya ikut-ikutan tanpa melihat fakta dan melihat jauh
melihat ke dalam.
Ingat kasus
pembantain dukun di banyuwangi ? ingat kasus Sampang? pola yang mereka gunakan
adalah provokasi. Tentunya provokasi dilakukan oleh mereka yang punya kekuatan
untuk mempengaruhi. Provokasi ini ampuh sebagai senjata menjatuhkan lawan.
Lain
pendapat yang diutarakan temenku, mbak Tika. Menurtnya pola yang Anang gunakan
mirip dengan pola yang digunakan Susilo Bambang Yudhono (SBY). Di pemilu 2004
menempatkan dirinya sebagai korban Megawati. Megawati mengatakan bahwa SBY
adalah seorang jendral namun memiliki kelakuan seperti anak kecil. Karena
masyarakat Indonesia tipe “rakyat drama” lalu mereka kasihan dan simpati pada
SBY. Dan itu salah satu penyebab kemenangan SBY di pemilu 2004 silam. Dan
inilah hasilnya, kita memperoleh pemimpin yang tidak tegas. Bahkan berkali-kali
dia mengeluhkan beratnya pekerjaan yang dia pikul. Ingat kan pidatonya tentang
kecilnya gaji yang dia peroleh? Sebelas dua
belas. Anang susilo mencoba memprovokasi dan mencari simpati.
Masih pendapat
temenku, Soe Hok Gie pernah berkata “Pemimpin macam inilah yang pantas ditembak
di lapangan banteng”.
Pramodya
Ananta Tour “Jangan takut merasa benar, karena pkebenaran itu tidak jatuh dari
langit tapi diperjuangkan”
Aung san suu
kyi pula mengatakan “bukan kekuasan yang jahat, tapi rasa takut.”
Lain lagi untuk
kasus Rahmat si mahasiswa FH. Dia
menggunakan dalil agama untuk membenarkan dirinya. Sesunggahnya agama adalah
agama. Jika kita menyangkut pautkan agama untuk membenarkan pendapat kita, apa
bedanya kita dengan dengan pendusta agama. Hehehe





